Budayakan Antri!


Suatu hari saya menerima email yang memberikan gambar tentang beberapa hal perbedaan antara budaya Timur dan budaya Barat. Lalu ketika saya membaca email tersebut, saya mulai membayangkan antara Indonesia dan Luar Negeri yang pernah saya kunjungi, di Sydney Australia misalnya.

Salah satu perbedaan yang digambarkan pada email tersebut adalah pola dalam antrian. Menurut bayangan saya, kebanyakan di Indonesia kebiasaan antri adalah dengan cara menggerombol sedangkan di Sydney susunannya sangat rapi membentuk barisan.

Walau pun akhir-akhir ini saya melihat di Indonesia sudah mulai menata setiap antrian, tetapi kebiasaan antri dengan cara menggerombol didalam jiwa seorang yang sudah terbiasa tinggal di daerah Timur atau di Indonesia ini rupanya sulit dihilangkan.

Artikel ini dituliskan bukan untuk menjelek-jelekkan budaya atau orang Indonesia. Saya lahir di Indonesia dan saya tinggal di Indonesia, tentunya saya pun punya jiwa seorang warga Negara Indonesia. Jadi tulisan didalam artikel ini bertujuan untuk kita semua bersama-sama merenungkan dan belajar tentang antri.

Di kantor saya duduk di lobby ruang tamu dimana saya bisa bertemu dengan semua customer yang datang. Tetapi tugas saya bukan sebagai customer service dan juga bukan sebagai marketing. Posisi meja saya saja yang ada didepan. Sedangkan meja customer service ada juga dan posisinya agak didepan saya. Setiap meja ada papan namanya dan karena saya tidak melayani customer maka saya tuliskan “closed” di papan meja saya dan menyingkirkan semua kursi yang ada dengan maksud agar customer mengerti bahwa saya tidak dapat melayani mereka.

Walau pun demikian, hampir setiap hari selalu ada customer yang datang menghampiri meja saya dan tidak peduli pada tanda “closed” yang saya letakkan dimeja saya. Customer datang, bercerita tentang permasalahan mereka, dan tentunya saya pun membantu dengan senang hati.

Setelah customer pulang atau mungkin saya harus mengarahkan customer ke layanan customer service, sering saya melihat meja customer service biasanya sedang melayani customer lain, walau pun hanya satu customer saja, karena customer yang datang ke meja saya tidak sabar untuk antri, maka dia langsung ke meja saya yang kosong. Saya biasanya hanya tersenyum karena saya mengerti bahwa semua orang ingin didahulukan dan ingin cepat-cepat.

Lain cerita datang ketika saya dan beberapa teman drive thru di Mc.Donalds. Kami naik mobil dan tiba-tiba sepasang suami istri dengan motornya melintas didepan kami dan mereka sudah ada pada antrian didepan kami. Seorang teman membuka kaca jendelanya dan berteriak tetapi tetapi sopan berkata “pak, tolong antri ya lain kali”. Tak mau kalah sang bapak pun menyahut “hanya beli ice cream satu pak”. Lalu teman saya itu pun berkata “ya tapi harus tetap antri mutar dari belakang!”.

Walau pun kesal, teman saya tetap memberikan jalan untuk penumpang yang menggunakan motor tersebut. Karena sebenarnya yang menjadi masalah adalah sikapnya yang tidak antri tersebut yang membuat kesal teman saya itu.

Didalam Alkitab atau didalam kotbah-kotbah yang disampaikan pendeta di gereja-gereja, tidak pernah tertulis “budayakan antri”, tetapi antri adalah suatu sikap atau attitude yang menunjukkan rasa saling menghormati dan menghargai, sikap sopan, sikap hati yang mau bersabar, serta disiplin atau tertib diri dalam keseharian.

Bagaimana kita bisa belajar untuk menjadi seseorang yang tidak egois jika hanya untuk antri saja kita tidak mau bersabar dan selalu ingin didahulukan dalam antrian? Bagaimana kita bisa menghargai dan menghormati orang lain jika kita tidak bisa menghormati dan menghargai orang-orang yang sudah datang dan antri terlebih dahulu bahkan mungkin sebelum kita? Bisa bayangkan bagaimana perasaan kita jika ada seseorang yang tiba-tiba datang dan mengambil posisi antrian kita? Kita pasti merasa marah bukan?

Budayakan antri! Bersabarlah dan berusahalah untuk menahan diri dalam setiap antrian dimana pun itu. Tetapi ketika kita sudah mendapatkan pelayanan dalam antrian pun, jangan kita berlama-lama dengan aneka ragam pertanyaan kepada petugas atau berlama-lama didalam mengambil keputusan, karena kita harus ingat bahwa ada orang-orang dibelakang kita yang rela antri walau pun mereka terburu-buru dan mereka juga mempunyai kepentingan.

Tuhan memberkati.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s