Membangun Reputasi

Kebutuhan hidup yang terus meningkat, membuat begitu banyak orang, baik suami mau pun istri berjuang untuk mencari nafkah. Tak heran, online shop pun berkembang dengan pesat, mengingat seseorang dapat mengerjakan dimana pun juga, tanpa batasan waktu, dan bahkan ada produk-produk yang mana penjual tidak perlu mengeluarkan biaya lagi untuk modal.

Namun, karena kita tidak perlu bertemu secara langsung dengan penjual, maka ada juga orang-orang yang memanfaatkan situasi dengan menipu. Menjual barang yang tidak ada, hanya menerima pembayaran, kemudian menutup semua akses untuk berkomunikasi, pergi begitu saja.

Tidak hanya dari sisi penjual, pembeli pun juga bisa menipu, mengatakan kalau sudah melakukan pembayaran, tetapi malah meminta penjual mengembalikan sejumlah uang yang lebih banyak. Hal ini dilakukan mungkin dengan cara hipnotis. Atau, bagi penjual yang kurang teliti, hanya percaya dengan pembeli, maka tanpa melakukan pengecekan, penjual langsung mengirimkan barangnya, saat pembeli mengatakan sudah melakukan pembayaran dan mengirimkan bukti palsu.

Didalam semua aspek, kita semua tentu tidak ada yang ingin ditipu. Orang yang kaya raya saja kalau rugi beberapa ratus ribu rupiah bisa marah, apalagi orang yang keuangannya sedang sangat terbatas, bisa dibayangkan betapa kasihannya kalau sampai harus kehilangan uangnya karena ditipu.

Seperti hukum tabur tuai yang kita kenal, kalau kita tidak ingin ditipu, maka kita jangan menipu. Kalau kita tidak dapat menolong orang lain, maka kita juga jangan membuat susah orang lain. Semua kita yang hidup, perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dan untuk bisa menghasilkan sesuatu yang baik, maka kita harus memiliki reputasi yang baik juga.

Beberapa hal yang harus kita miliki agar memiliki reputasi yang baik:

Memiliki Identitas
Setiap orang dewasa yang berusia 17 tahun keatas, harus memiliki kartu identitas. Anak-anak yang bersekolah pun memiliki kartu identitas yang biasa disebut dengan kartu pelajar. Tujuannya adalah dari kartu identitas yang kita miliki, kita dapat dikenal, mulai dari nama, kapan dan dimana kita lahir, tempat tinggal kita, status kita, pekerjaan kita, dan lain-lain. Tanpa tanda pengenal, kita sulit untuk mengurus banyak hal, surat-surat misalnya, atau bahkan mau bepergian pun juga sulit. Tanpa identitas yang jelas kita pasti akan dicurigai. Itu sebabnya, identitas itu penting.
Dan sebagai seorang pemercaya, kita perlu tahu bahwa Tuhan menciptakan kita dengan identitas diri yang baik. Kita sudah ditebus oleh darahNya. Semua dosa dan kesalahan kita sudah diampuni. Sakit kita sudah disembuhkan.
Untuk memiliki reputasi yang baik, selain memiliki bukti tanda pengenal, kita perlu memiliki identitas diri yang benar, yakin bahwa pribadi kita ini indah dan berharga di mata Tuhan, baru kemudian orang lain pun dapat memercayai kita.

Memiliki Integritas
Pernahkah kita melihat seseorang yang hanya terlihat rajin pada saat sedang ada yang mengawasinya?
Didalam kehidupan ini, ada begitu banyak hal yang harus bisa kita lakukan sendiri dengan penuh rasa tanggung jawab, tanpa pengawasan.
Untuk memiliki reputasi yang baik, kita harus memiliki sikap yang bertanggung jawab, disiplin, dan jujur, walau tidak ada seorang pun yang melihat.
Kita tidak perlu takut dengan hasil penilaian yang tidak adil, karena percayalah, ada bedanya hasil pekerjaan yang dilakukan dengan rasa tanggung jawab, dengan hasil pekerjaan yang dilakukan hanya pada saat sedang diawasi.

Menepati Janji atau Sesuai Dengan Perkataan
Bisa dibayangkan, bila ada seseorang yang membuat janji bertemu dengan kita, dan kita sudah terburu-buru, bahkan sampai mengabaikan hal lainnya demi menepati janji dengan seseorang itu, tapi ternyata seseorang itu datang sangat terlambat dari waktu yang dijanjikan, atau bahkan tidak datang sama sekali, dan tidak memberikan kabar sama sekali. Sungguh menjengkelkan, bukan?
Bila kita sampai harus datang terlambat atau tidak bisa memenuhi janji, paling tidak kita bisa memberi kabar, agar seseorang tahu apa yang dapat dia lakukan selanjutnya, tetap menunggu atau bisa melanjutkan pekerjaannya kembali.
Kita memang bukan manusia yang sempurna, tetapi untuk memiliki reputasi yang baik, berusahalah untuk mengingat apa yang kita katakan, berusahalah untuk melakukan yang sudah kita katakan, dan berusahalah untuk tepat waktu! Katakan baik bila memang baik, katakan tidak baik bila memang kondisinya tidak baik!
Sepandai-pandainya seseorang, dan sekagum apa pun orang lain terhadap kemampuan seseorang, sikap yang tidak bertanggung jawab dan kebiasaan yang suka datang terlambat, akan sangat bisa mematahkan respek orang lain terhadap seseorang itu.

Menghormati dan Menghargai Orang Lain
Kadangkala, tanpa kita sadari, kita sering merendahkan orang lain, ketika kita melihat pekerjaan yang dilakukannya, ketika kita melihat barang yang dijual olehnya, ketika melihat barang yang mungkin dibelinya dari kita, ketika melihat barang yang dikenakannya, dan apa pun yang lain yang kita bisa lihat dari seseorang, bisa saja membuat kita merendahkan seseorang itu.
Perlu kita sadari, bahwa kita semua memiliki kondisi kehidupan yang berbeda-beda. Namun, setiap dari kita juga layak untuk dihormati dan dihargai.
Untuk memiliki reputasi yang baik, kita harus mampu menghormati dan menghargai orang lain, apa pun kondisi orang lain itu. Perlakukanlah orang lain dengan baik!

Tuhan memberkati!

20160324-110852.jpg

Pelit vs Hemat

Pada suatu hari saya berbicang-bincang dengan seorang teman yang cukup akrab ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Dia bercerita, ada beberapa orang yang pernah mengatakan secara langsung kalau dia itu orangnya pelit. Dia juga memberikan penjelasan kalau sebenarnya dia hanya ingin memikirkan untuk kebutuhan di masa depan, jadi sama sekali tidak bermaksud untuk pelit.

Teman saya itu memberikan sebuah contoh cerita, tahun depan anaknya yang pertama akan masuk ke Sekolah Dasar, anaknya yang kedua akan masuk ke Sekolah Taman Kanak-Kanak, dan dia juga akan melahirkan anak yang ketiga, jadi dia berpikir liburan akhir tahun ini mereka sekeluarga hanya akan menikmati liburan didalam kota saja, mengingat belakangan pemasukannya juga tidak seperti yang diharapkan. Tetapi, saudara-saudaranya yang hendak mengajaknya pergi berlibur keluar kota berkata kalau dia itu pelit, dan terlalu banyak perhitungan.

Seringkali kita beranggapan bahwa seseorang itu pelit, hanya karena seseorang tidak memenuhi keinginan atau kebutuhannya seperti yang kita bayangkan. Seringkali juga kita beranggapan bahwa seseorang itu sedang berhemat, karena kita sangat memahami kondisi keuangannya.

Sebelum saya menulis lebih jauh, mari kita memahami terlebih dahulu arti kata pelit dan arti kata hemat.

Pelit adalah orang yang selama hidupnya hanya berusaha menimbun uang dan harta benda, bahkan seringkali rela hidup menderita.

Hemat adalah hidup ekonomis, tanpa pengeluaran yang tak perlu dan cermat.

Firman Tuhan didalam Amsal 28:22 (TB) berkata “Orang yang kikir tergesa-gesa mengejar harta, dan tidak mengetahui bahwa ia akan mengalami kekurangan.”

Didalam kehidupan ini, kita akan selalu bertemu dengan orang-orang yang pelit, orang-orang yang hemat, dan orang-orang yang bahkan sangat boros.

Biasanya, orang-orang yang pelit adalah orang-orang yang hanya mau ikut serta, tetapi tidak mau ikut membayar, dan mereka adalah orang-orang yang paling menjengkelkan. Itu sebabnya, kita jangan menjadi orang yang pelit! Belajarlah untuk ikut serta dan berusaha untuk mau membayar! Tidak ada teman atau saudara yang akan selalu memiliki hati yang sukarela dengan orang yang pelit.

Selain itu, pada dasarnya, orang-orang yang pelit adalah orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Bisa dibayangkan, orang-orang yang pelit juga ingin makan makanan yang enak, tetapi tidak mau ikut membayar, membiarkan orang lain yang membayarkan untuk dirinya, bukankah hal itu adalah sikap yang tidak bertanggung jawab?

Sedangkan orang-orang yang hemat sebenarnya adalah orang-orang yang bijaksana, karena sebenarnya mereka berusaha untuk hidup secara cermat, tidak mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak perlu. Orang-orang yang hemat bukan berarti tidak mau mengeluarkan uangnya untuk bersenang-senang, hanya saja mereka tidak bersenang-senang setiap waktu. Orang-orang yang hemat sudah memperhitungkan setiap pengeluaran, sehingga mereka tidak perlu mengharapkan orang lain yang membayar untuk mereka.

Tetapi, orang-orang hemat pun adakalanya dikatakan sebagai orang-orang yang pelit, hanya karena pola pikir yang tidak kita pahami.

Kesenangan seseorang belum tentu menjadi kesenangan seorang yang lainnya. Kita tidak bisa mengatakan bahwa seseorang itu pelit hanya karena seseorang itu tidak bersenang-senang seperti kita, atau hanya karena seseorang itu tidak memberikan kesenangan untuk kita. Setiap orang memiliki perhitungan, cara hidup, dan kebutuhannya masing-masing. Kita hanya perlu menghormati pola pikir yang dimiliki oleh orang lain.

Tuhan memberkati!20151211-175144.jpg

Pemandangan Indah di Sudut Terpencil

Ketika saya masih tinggal di Pulau Bali, suami saya dan saya pergi ke sebuah tempat wisata yang dikenal dengan nama Tanah Lot. Letaknya cukup jauh dari tempat tinggal kami, sehingga pagi hari kami berangkat, menjelang siang hari kami baru tiba di Tanah Lot.

Setibanya kami di Tanah Lot, kami melihat posisi dimana seharusnya kami bisa melihat pemandangan yang menarik itu sangat ramai. Ada begitu banyak orang yang berdesak-desakan ingin foto dan bermain air di area tersebut. Akhirnya, kami memutuskan untuk berjalan naik, menuju tempat yang mungkin tidak terpikirkan oleh para pengunjung yang lain, karena hanya kami dan para petugas yang berjalan ke area tersebut.

Sesampainya diatas, kami melihat ada begitu banyak posisi pemandangan yang sangat menarik. Dengan gembira kami foto dan menikmati pemandangan tersebut.

Tak lama kemudian, kami memutuskan untuk turun, dan barulah kami berpapasan dengan para wisatawan yang mungkin melihat kami diatas, sehingga mereka tertarik untuk melihat-lihat juga. Kami melihat mereka juga sangat gembira melihat pemandangan yang tidak terlihat dari bawah.

Beberapa hari yang lalu, seorang teman memasang foto yang diambil ketika dia berlibur ke negeri Tiongkok. Seorang teman ini menuliskan bahwa foto tersebut diambil di sebuah sudut terpencil. Dan foto pemandangan itu benar-benar sangat indah.

Saya berpikir, mungkin tidak banyak orang yang berpikir kalau ada pemandangan yang indah di sebuah sudut terpencil, dan beruntunglah seorang teman ini yang mungkin tadinya iseng mampir ke sudut itu, sehingga dia menemukan sebuah pemandangan yang sangat indah.

Didalam kehidupan ini, biasanya pemikiran atau pendapat yang terbaik adalah pemikiran atau pendapat yang dimiliki oleh sebagian besar orang. Sudut pandang yang terbaik, biasanya adalah sudut pandang yang paling sering dikerumuni oleh kebanyakan orang.

Akibatnya, bila diri kita sendiri atau seseorang yang lain memiliki pemikiran atau pendapat yang berbeda, maka kita takut akan dianggap aneh atau mungkin kita yang akan menganggap orang lain itu yang aneh. Bila diri kita sendiri atau seseorang yang lain memiliki sudut pandang yang berbeda, maka kita takut akan dianggap memiliki selera yang jelek atau mungkin kita yang akan menganggap orang lain itu memiliki selera jelek.

Setiap orang memiliki pendapat, setiap orang memiliki pemikiran, setiap orang bisa menyukai suatu tempat tertentu dengan pemandangan tertentu, dan bila timbul perbedaan, maka bukan berarti ada yang aneh atau ada yang jelek.

Seringkali kita memandang seseorang itu baik hanya karena seleranya sama dengan kita. Dan sebaliknya, kita dengan mudah mentertawakan orang lain hanya karena seleranya berbeda dengan kita. Tidak heran, bila pada akhirnya kita bertengkar dengan seseorang hanya karena beda selera. Dan dengan mudah kita membuat batasan-batasan, hanya karena perbedaan-perbedaan yang timbul.

Realitanya, ada begitu banyak orang yang dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang, ternyata memiliki pemikiran atau ide yang dapat menghasilkan sesuatu yang berguna. Ada begitu banyak orang yang dianggap bodoh oleh kebanyakan orang yang lain, tetapi ternyata memiliki cara berpikir yang luar biasa baiknya.

Seandainya saja, kita mau menerima perbedaan-perbedaan yang ada, maka sebenarnya kita tidak perlu jengkel atau kecewa dengan hal-hal kecil, dan bahkan mungkin kita tidak perlu kehilangan teman. Seandainya saja, kita mau memberikan kesempatan bagi seseorang, maka kita mungkin akan memunculkan sesuatu yang luar biasa didalam diri seseorang itu.

Di dunia ini, ada begitu banyak hal yang indah. Bahkan di sudut-sudut terpencil, yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh kebanyakan orang, justru disana terdapat pemandangan yang sangat indah.

Di dunia ini, ada begitu banyak orang yang berpotensi. Bahkan dengan segala “keanehan” yang menurut kita mungkin ada didalam kehidupan atau diri seseorang, justru ada hal yang luar biasa.

Tuhan memberkati.

20151028-175122.jpg

Kesempatan Kedua

Beberapa bulan yang lalu, mungkin sekitar bulan April 2015, di gereja, diadakan sebuah seminar untuk pasangan yang sudah menikah (marriage seminar). Namun, karena seminar tersebut diadakan di hari Sabtu pagi, dan suami saya masih sibuk bekerja, akhirnya kami tidak dapat mengikuti seminar tersebut.

Biasanya, baik kotbah di gereja setiap hari Minggu, mau pun acara-acara seminar yang diadakan di gereja itu selalu tersedia rekamannya dan kami dapat membeli rekaman tersebut. Tetapi, rupanya untuk kali ini, acara marriage seminar tersebut tidak dijual rekamannya, karena hampir setiap minggu saya mencari, rekaman marriage seminar tersebut belum dijual.

Sampai pada awal bulan Juni 2015 ini, tiba-tiba kami melihat ada pengumuman di gereja, bahwa diadakan kembali seminar untuk pasangan yang sudah menikah (marriage seminar), dengan pembicara yang sama, dan dengan tema yang sama. Ternyata, seminar tersebut kembali diadakan, karena mendapatkan respon yang sangat bagus dan ada begitu banyak pasangan yang tidak dapat mengikutinya, sehingga pihak gereja memutuskan untuk mengulang acara seminar tersebut. Dan puji Tuhan, di bulan Juni 2015 ini, pekerjaan suami saya sudah selesai, sehingga di hari Sabtu suami saya dan saya bisa menghadiri acara seminar tersebut.

Saat saya menghadiri acara marriage seminar tersebut, didalam hati saya sangat bersyukur karena sudah mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan kembali, sesuatu yang sebenarnya sudah terlewatkan.

Saya percaya bahwa didalam kehidupan ini, tidak akan pernah ada seorang pun yang sempurna. Selama saya beribadah di sebuah gereja di Jakarta ini, saya mengagumi para istri Hamba Tuhan yang memimpin di gereja tempat saya beribadah, dan salah satunya adalah seorang pembicara di acara marriage seminar yang saya hadiri tersebut. tetapi saya tahu dia tidak sempurna, dan saya sangat ingin belajar tentang kehidupannya. Walau pun persoalannya tidak sama, namun saya percaya saya dapat memetik nilai-nilai kehidupannya. Itu sebabnya, saya sangat bersyukur mendapatkan kesempatan untuk belajar melalui seminar tersebut.

Saat saya terlalu bersyukur didalam hati saya, saya seperti merasa diingatkan bahwa kadangkala didalam kehidupan ini, juga ada kesempatan kedua. Seolah-olah ingin menjelaskan bahwa bila sesuatu itu untuk kita, maka apa pun yang terjadi, sesuatu itu akan kita miliki.

Teringat pada saat saya masih bekerja dulu, saya sempat interview ke sebuah perusahaan dan saya sempat ragu sehingga teman saya yang akhirnya diterima di perusahaan tersebut. Namun, pada akhirnya saya menyesal karena sempat ragu, sehingga saya kembali berdoa kepada Tuhan, meminta untuk mendapatkan kesempatan kedua. Dan entah bagaimana prosesnya, teman saya akhirnya keluar dari perusahaan tersebut, dan saya yang menggantikannya.

Ada orang-orang yang mungkin tidak percaya pada kesempatan kedua, karena memang sepertinya didalam kehidupan ini jarang ada kesempatan kedua. Tentu saja, semua atas seijin Tuhan.

Kadangkala kita sengaja melewatkan sesuatu, mungkin karena kita merasa memiliki pilihan yang lebih baik atau karena kita ragu. Kadangkala kita bisa saja tidak berdaya sehingga harus melewatkan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kita lewatkan. Tetapi, saya percaya, bahwa Tuhan itu baik, asalkan sesuatu itu baik untuk kita, dan Tuhan menghendaki kita mendapatkan sesuatu itu, maka kita pasti akan mendapatkannya. Dan seandainya, Tuhan tidak menghendaki pun, itu berarti Tuhan tahu kalau kita tidak memerlukannya, atau kita akan baik-baik saja walau tidak memilikinya, dan Tuhan pasti menyediakan yang lebih baik untuk kita.

Tuhan memberkati!

20150620-223026.jpg

Menghargai

Sudah lama saya belajar untuk menghargai segala sesuatu yang saya miliki dan semua orang yang berada di dekat saya. Tetapi, prakteknya memang tidak semudah pemikiran saya. Ada kalanya saya berpikir saya sedang menghargai sesuatu atau ada kalanya saya berpikir saya sedang menghargai seseorang, tetapi realitanya saya sedang menyia-nyiakan sesuatu dan realitanya ada juga seseorang yang merasa saya tidak sedang menghargai kehadirannya.

Kita memang tidak bisa selalu menyenangkan hati semua orang. Tetapi, sama seperti kita bisa merasakan bahwa seseorang sangat menghargai kehadiran kita, maka seseorang juga bisa merasakan apakah kita benar-benar menghargai kehadirannya. Hanya sesederhana itu.

Walau pun saya adalah seorang anak bungsu, tidak semua yang saya inginkan bisa terwujud. Bahkan menurut saya, untuk mendapatkan sesuatu yang saya inginkan itu sangat tidak mudah. Sehingga pada saat saya bisa memiliki, saya akan sangat berhati-hati dengan barang itu, saya akan menyimpannya dengan sangat baik, dan besar kemungkinan saya akan jarang menggunakan barang itu, karena saya takut barang itu nanti rusak atau terjadi sesuatu yang buruk. Setelah saya pikir-pikir, pada akhirnya barang itu pun ada masanya harus saya buang begitu saja.

Berbeda dengan suami saya, saat dia memiliki barang yang sangat diinginkannya, maka dia akan berhati-hati dengan barang itu, dia akan menyimpannya dengan baik, dan dia akan menggunakannya sesering mungkin, bahkan mungkin sampai barang itu sudah terlihat tidak bagus lagi, baru dia akan merasa puas karena sudah menggunakannya dengan maksimal.

Beberapa kali saya mengatur waktu untuk bertemu dengan teman dekat saya. Saat bertemu dengan mereka, saya berusaha untuk tidak sekali pun melihat pesan atau bermain dengan handphone saya. Mungkin sesekali saya akan melihat, barangkali ada pesan yang penting. Tetapi, bagi saya kehadiran seseorang yang ada di dekat saya saat itu, jauh lebih penting dan waktu-waktu kebersamaan kami bagi saya itu sangat berharga. Saya akan berusaha untuk memerhatikan cerita teman dekat saya, walau pun mungkin sangat membosankan.

Berbeda dengan beberapa orang teman dekat saya, yang kelihatannya masih sangat sibuk dengan handphone nya, dan bahkan saya bisa tahu bahwa dia tidak benar-benar sedang mendengarkan cerita saya. Padahal, dia yang mengajak saya untuk bertemu dan untuk bertemu itu bagi saya sebenarnya tidak mudah, ada hal-hal yang seharusnya menjadi prioritas utama, akhirnya harus saya tunda agar saya bisa bertemu dengan teman dekat saya itu.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa sesuatu atau seseorang itu akan terasa lebih berharga saat kita sudah kehilangan. Lalu, pertanyaannya, mengapa kita harus menghargai sesuatu atau seseorang saat sudah tidak ada? Bukankah akan lebih baik bila kita menghargai sesuatu atau seseorang saat masih ada?

Saya belajar, untuk menghargai sesuatu yang saya inginkan dan yang akhirnya saya bisa miliki, dengan cara saya akan menggunakannya sampai maksimal. Saya akan tetap berhati-hati, saya akan tetap merawat, tetapi sesuatu itu akan lebih berharga bila saya menggunakannya sesuai dengan fungsinya. Dengan demikian, saya juga menghargai diri saya sendiri dan atau orang lain yang sudah membeli untuk saya.

Saya menghargai sesuatu dengan memilih cara untuk tidak memiliki banyak, sebagai contoh pakaian, tas, dan sepatu, saya akan membeli secukupnya, agar saya memiliki waktu untuk menggunakannya dengan baik dan maksimal. Banyak yang saya inginkan, tetapi bila saya tidak memiliki waktu untuk menggunakannya, maka saya hanya akan menyia-nyiakan uang dan sesuatu yang sudah saya beli.

Saya menghargai seseorang yang ada di dekat saya, dengan pandangan tentang mereka yang berbeda, yang lebih baik. Tidak semua orang itu menyenangkan, tetapi mereka selalu bisa mengajarkan sesuatu pada kita, walau pun mungkin mereka bahkan tidak sadar kalau sedang mengajarkan sesuatu kepada kita.

Waktu berjalan terus dengan cepat. Tidak semua orang selalu akan memiliki waktu untuk kita dan jangan pernah berharap semua orang akan selalu ada untuk kita! Ada waktu dimana kita memiliki waktu atau kesempatan untuk mendengarkan. Ada waktu dimana giliran kita yang harus berbicara. Ada waktu dimana kita harus sibuk bekerja. Ada waktu dimana kita harus berada di rumah. Ada waktu dimana kita harus bepergian. Ada waktu dimana kita harus berpisah dengan teman-teman kita yang sekarang dan bertemu dengan teman-teman yang lainnya di tempat yang berbeda.

Jika saya bisa melakukan dan memberikan yang terbaik untuk orang lain, maka hal itu yang akan saya lakukan. Walau pun pasti ada kekurangan yang akan saya lakukan.

Saya belajar untuk menghargai suami saya dengan mendengarkan setiap perkataan dan ceritanya, saya menghargai setiap keinginannya walau pun ada keinginan yang tidak perlu dipenuhi, saya menghargai kesukaannya dan berusaha mengingatnya, saya menghargai waktu-waktu yang dia miliki dengan berusaha menahan setiap pembahasan yang sedang tidak ingin dia bicarakan, dan saya juga menghargai setiap kesalahannya dengan cara tidak mengungkit.

Demikian pula terhadap saudara dan sahabat saya, di saat saya bisa bertemu dan memeluk mereka, saya akan melakukannya untuk mereka.

Semua orang memiliki caranya sendiri untuk menghargai orang lain. Jika kita mengenal pribadi seseorang, maka kita akan mengetahui sesuatu yang seseorang itu sukai atau yang tidak sukai. Selanjutnya, kita akan lebih bisa bersikap menghargai seseorang itu dengan cara yang tepat dan menyentuh.

Amsal 27:7 “Orang yang kenyang menginjak-injak madu, tetapi bagi orang yang lapar segala yang pahit dirasakan manis“. Mungkin kita perlu merasa ‘lapar’ untuk bisa menghargai sesuatu atau seseorang, misalnya ‘lapar’ akan persahabatan, ‘lapar’ akan persaudaraan, karena dengan rasa ‘lapar’ kita bisa mengerti betapa berartinya sesuatu atau seseorang itu bagi kita.

Tuhan memberkati!

20150324-192746.jpg

Menjadi Lebih Baik

Jangan bangga dulu bila ada seseorang yang sudah lama tak berjumpa dengan Anda dan berkata “Wah… kamu tetap saja ya...”! Jangan terburu-buru berpikir negatif bila seseorang yang lain berkata “Wah…kamu sekarang berubah ya…“! Agar tidak terjadi salah paham, sebaiknya Anda tanyakan terlebih dahulu, “Bagian mana dari diri Anda yang tetap saja?“, dan atau “Bagian mana dari diri Anda yang mengalami perubahan?“.

‘Tetap saja’ dapat berarti seseorang ingin berkata kita ini awet muda yang mana setiap orang tentu senang bila dibilang ‘awet muda’; tetap cantik atau tetap ganteng; atau tetap langsing yang mana kata ‘langsing’ sangat disukai oleh kaum hawa. Sebaliknya, bila ‘tetap saja’ itu berarti sama sekali tidak ada perubahaan apa-apa didalam diri kita, maka kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri, setelah sekian lama hidup di muka bumi ini, apa saja yang sudah kita pelajari? Dan mengapa tidak terjadi perubahan apa-apa didalam diri kita?

‘Berubah’ dapat berarti kita menjadi semakin cantik atau semakin ganteng, itu berarti paling tidak secara penampilan kita sudah menjadi semakin lebih baik. Selain itu, ada perubahan apalagi? Apakah menjadi semakin lebih baik atau semakin lebih buruk? Jangan lupa juga untuk memastikan bahwa semakin lebih baik yang dikatakan seseorang itu benar-benar lebih baik dalam arti yang sebenarnya!

Ada seorang teman yang saya temui setelah hampir empat tahun lamanya kami tidak pernah bertemu, keadaannya masih saja tetap sama, mulai dari pekerjannya, kemudian penampilannya, pakaian yang dulu sering dikenakannya sekarang juga masih dia kenakan lagi sehingga warnanya terlihat sudah semakin pudar, dan dari cara dia berbicara saya dapat mengetahui bahwa dia masih saja menyimpan sakit hati yang sama dengan orang yang sama, dia masih saja menggunakan cara berpikir yang sama, dia masih saja memiliki sudut pandang yang sama tentang segala sesuatu.

Sedangkan seseorang yang saya ketahui sangat dibenci oleh seorang teman ini sudah mengalami begitu banyak perubahan didalam hidupnya, yang dulunya sangat menjengkelkan, sekarang sudah menjadi sangat dewasa dan menyenangkan. Menurut saya, sungguh sangat sia-sia bila seorang teman itu masih saja menyimpan sakit hati yang sama, dia tidak bisa ‘move on’, dan tentu hidupnya takkan nyaman.

Menjadi lebih baik secara fisik itu mudah, kita cukup mengganti penampilan kita dengan cara belajar merias diri dan mengganti pakaian, tas, atau sepatu dengan yang baru. Asalkan kita mengikuti perkembangan mode, kita dapat mengalami perubahan sesuai masanya.

Tetapi, yang dikatakan menjadi lebih baik itu sebenarnya tentang ‘dari dalam keluar’. Saat yang ada didalam diri kita menjadi lebih baik, maka keluarnya pun akan menjadi lebih baik.

Untuk mengalami sebuah perubahan, kita perlu melihat mulai dari dalam diri kita sendiri sampai ke sekeliling kita.

Menurut kita, adakah sesuatu yang ada didalam diri kita yang perlu mengalami perbaikan? Kita perlu mengenali dan mengakui apa yang ada didalam hati dan pikiran kita. Seringkali kita tahu bahwa apa yang ada didalam pikiran dan hati kita itu tidak baik, tetapi kita membuat begitu banyak alasan untuk membenarkan diri kita sendiri. Bila kita dengan jujur mengakui bahwa pikiran dan hati kita itu tidak baik, maka kita dapat melakukan langkah-langkah perbaikan. Selama kita masih memiliki alasan untuk tetap menyimpan sesuatu yang tidak baik didalam hati dan pikiran kita, maka kita tidak akan pernah mampu melangkah untuk memperbaikinya.

Setelah kita mengerti bahwa ada hal-hal yang perlu kita perbaiki didalam diri kita, maka kita kemudian dapat melihat apakah lingkungan sekitar kita dapat memberikan dukungan yang baik bagi kita? Tidak semua teman dapat mendukung kita untuk melakukan hal-hal yang baik. Sebagai contoh, kita memiliki sakit hati terhadap seseorang, sedangkan teman-teman kita adalah orang-orang yang juga sama-sama suka menyimpan sakit hati, apalagi bila teman-teman kita juga menyimpan sakit hati dengan orang yang sama, dan kemudian setiap kali bertemu selalu saling menceritakan tentang keburukan seseorang itu, maka selanjutnya kita tidak akan pernah bisa berhenti sakit hati. Kita harus berani keluar menuju ke lingkungan dengan orang-orang yang positif, yang memiliki pemikiran yang baik dan positif, yang dapat membantu kita untuk mengampuni dan membantu kita untuk menemukan hal-hal yang positif yang ada didalam diri kita.

Kita tidak akan pernah bisa merasa puas dengan penampilan luar kita, meski pun kita sudah mengeluarkan banyak uang untuk membeli barang-barang yang mahal untuk kita kenakan, apabila kita tidak memperbaiki apa yang ada didalam diri kita, khususnya hati dan pikiran kita. Sebaliknya, saat kita sudah memperbaiki apa yang ada didalam diri kita, maka penampilan sesederhana apa pun akan membuat kita tampil begitu sangat mempesona.

Saat kita memperbaiki apa yang ada didalam diri kita, kita juga akan memiliki cara pandang yang berbeda tentang orang lain dan segala sesuatu. Saat kita memperbaiki apa yang ada didalam diri kita, pengenalan dan pemahaman kita akan Tuhan juga akan diubahkan. Segala sesuatu yang ada di sekitar kita akan berubah menjadi lebih baik seiring dengan perubahan yang ada didalam diri kita. Dan kita baru akan dapat memahami segala perubahan yang terjadi bila kita melewati proses perubahan diri kita.

Tidak semua orang akan memahami dan mau mengakui perubahan yang baik yang terjadi didalam diri kita, tetapi kita dapat memahami mengapa orang lain mengalami perubahan dan atau mengapa orang lain tidak mengalami perubahan. Pastinya, bila kita mengalami perubahan yang lebih baik, kita tidak akan dengan mudah menghakimi orang lain.

Tuhan memberkati!

20150317-161846.jpg

Belajar Untuk Tidak Menghakimi

Pada tanggal 9 September 2014 dini hari, mendadak kami, kakak saya dan saya khususnya, dikejutkan oleh sebuah kabar bahwa papi mengalami pendarahan di otak, dan sudah mengalami koma. Sekitar pk 11.05 di hari yang sama, papi saya meninggal dunia, tepat pada saat saya dan suami saya sedang berada didalam pesawat hendak menuju ke kota Malang.

Berita ini sungguh sangat mengejutkan bagi keluarga kami dan bagi semua orang, karena papi masih sehat, bahkan masih bisa setir mobil sendiri hampir setiap minggu sekali dari kota Malang ke kota Surabaya. Tetapi, siapa yang sangka kalau Tuhan memanggilnya dengan begitu cepat.

Di tengah kesedihan yang sangat mendalam, saya dan suami saya bahkan belum sempat mengetahui cerita secara detail tentang papi, tetapi sudah ada puluhan pesan di handphone dan di facebook yang menanyakan tentang papi.

Kami melihat, betapa besar perhatian orang-orang di sekitar kami, khususnya terhadap papi. Di antara teman-teman kami, ada yang dengan tulus menawarkan bantuan, tetapi ada juga begitu banyak orang yang hanya sekedar ingin tahu, sehingga kemudian mereka dapat menginformasikannya kepada teman-teman yang lain.

Di tengah-tengah ketegangan, kebingungan, dan kesedihan yang kami alami, ada orang-orang yang sungguh-sungguh memberikan dukungan dan penghiburan bagi kami sekeluarga, tetapi ada juga orang-orang yang justru bertanya-tanya “Ada apa dengan keluarga ini? Sepertinya belum lama istrinya meninggal dunia karena sakit kanker, sekarang suaminya meninggal dunia secara tiba-tiba?“. Dan tak heran bila kemudian akhirnya bermunculan jawaban demi jawaban, mulai dari jawaban yang terdengar biasa saja, hingga jawaban yang terkesan menghakimi, seolah-olah keluarga kami melakukan dosa yang begitu besar sehingga seolah-olah selalu tertimpa musibah.

Mungkin kejadian yang kami alami ini juga pernah dialami oleh sebagian besar Para Pembaca. Bencana, masalah, atau hal buruk yang sedang dialami oleh seseorang atau sebuah keluarga, dianggap sebagai sebuah hukuman akibat dosa yang sudah dilakukan.

Ada seseorang didalam keluarga yang mengalami sakit, dikatakan bahwa ternyata dia belum sungguh-sungguh bertobat dan mengikut Tuhan, itu sebabnya Tuhan mengijinkan seseorang itu mengalami sakit. Ada seseorang yang memiliki masalah dalam pekerjaannya, dikatakan bahwa karena selama ini dia sudah mendahulukan pekerjaannya dibandingkan dengan pelayanan, sehingga Tuhan mengijinkan dia mengalami masalah dalam pekerjaannya. Dan masih banyak lagi cerita yang lain.

Bukankah selama kita hidup di muka bumi ini kita pasti akan selalu mengalami masalah?

Seorang Hamba Tuhan bercerita, ada seorang anak muda yang datang kepadanya, ingin didoakan agar selama hidupnya ia tidak mengalami masalah lagi, karena sudah terlalu banyak masalah yang ia alami. Seorang Hamba Tuhan itu menjawab kepada anak muda itu “Baiklah, saya akan mendoakan kamu, tetapi pastikan dirimu benar-benar siap akan jawaban atas permintaanmu itu“. Anak muda itu pun menjawab “Iya, tentu saja saya benar-benar ingin terbebas dari masalah“. Seorang Hamba Tuhan itu menjawab anak muda itu lagi “Karena hanya orang yang sudah meninggal dunia yang tidak memiliki masalah lagi“.

Ya… Selama kita masih hidup, kita selalu akan mengalami masalah dan realitanya kita semua memang manusia yang penuh dengan dosa.

Pengkotbah 3:11 mengatakan “… Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir“. Tidak pernah ada orang yang dapat mengetahui dengan pasti mengapa Tuhan mengijinkan sesuatu terjadi. Kadangkala setelah berjalan beberapa waktu lamanya kita baru mengerti mengapa sesuatu itu terjadi. Kadangkala kita sama sekali tidak dapat mengerti mengapa sesuatu itu terjadi.

Tetapi, yang kita ketahui dengan pasti adalah Tuhan mengajarkan agar kita tidak menghakimi (Matius 7:1 “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi“). Kita tidak perlu menduga-duga akibat dari sesuatu yang sedang dialami oleh orang lain. Dan seandainya kita tidak tahu apa yang harus kita katakan untuk menghibur atau memberikan kekuatan, maka percayalah bahwa dengan kita bersikap baik dan diam, seseorang sudah akan merasa terhibur. Daripada kita terlalu banyak bertanya, apalagi bila hanya sekedar untuk ingin tahu, atau daripada bila kita terlalu banyak bicara.

Tuhan memberkati!

20150221-183321.jpg