“Yang Direndahkan”


Boss           Seorang Branch Manager di sebuah perusahaan asing yang cukup ternama di dunia, sebenarnya ia adalah seorang yang sangat amat pintar sekali, hanya saja sebagai seorang pemimpin, ia adalah pemimpin yang kurang tegas, plin plan, dan kurang berani didalam memutuskan segala sesuatunya karena ia takut mengambil resiko. Sehingga mereka-mereka yang berada di level bawahnya merasa sangat jengkel dan tak jarang mereka merasa tertekan.

            Setiap kali ketika diperlukan suatu keputusan yang sangat penting, si Branch Manager lebih sering menjawab “tunggu dulu, saya harus mendiskusikannya dengan atasan”. Dan setiap kali big boss (demikian mereka menyebut atasan tertinggi yang membawahi perusahaan tersebut bagian wilayah Indonesia) datang, maka si Branch Manager ini seringkali membuat sibuk para asistennya untuk mempersiapkan semua data yang sebenarnya tidak perlu (karena dia selalu mengatakan “just in case (hanya untuk jaga-jaga) kalau ditanya big boss”, sebagai bahan presentasinya. Padahal sebenarnya data tersebut benar-benar tidak diperlukan dan kenyataannya memang tidak pernah diperlukan. Data-data tersebut hanya dijadikan sebagai ‘rasa aman’ si Branch Manager saja.

            Singkat cerita, hampir semua orang yang ada didalam perusahaan tersebut sangat tidak menyukai Branch Manager mereka itu. Sampai-sampai ada seseorang yang menghina fisiknya (tentu saja tidak secara langsung) dan setiap kali membicarakannya, seseorang ini selalu memberinya nama “si tengeng” (sebuah kata yang diberikan jika ada seseorang yang sakit leher, yang biasanya dikarenakan ia salah tidur, sehingga menyebabkan kepalanya tidak bisa tegak seperti orang normal).

            Branch Manager ini memang kepalanya tidak bisa tegak dan setiap kali ada seseorang yang tidak menyukainya dan membicarakannya, selalu menyebutnya “si tengeng”.

            Hingga suatu hari ada seseorang yang baru saja dimutasi dari branch (cabang) lain, sebut saja namanya Patricia dan entah dalam pembicaraan apa, tiba-tiba branch manager ini bercerita kepadanya bahwa dia (si branch manager) paling susah kalau disuruh foto. Mengapa?

            Karena setiap kali dia disuruh tegak kepala nya oleh si tukang foto, dia selalu kesulitan. Jadi bagi si branch manager ini kepalanya sudah tegak (seperti orang normal), padahal belum. Sehingga si tukang foto harus membenarkan kepalanya. Dan kalau kepalanya ditegakkan, si tukang foto harus segera memfotonya, karena kalau tidak, dia akan merasa capek. Seperti kita orang normal, kalau kepala kita harus miring, maka kita tidak mungkin bisa berlama-lama, karena yang normal bagi kita adalah ketika kepala kita tegak.

            Dengan polosnya si Patricia bertanya kepada Branch Managernya “lho, memangnya kepala bapak kenapa kok tidak bisa tegak?”. Lalu si Branch Manager ini bercerita bahwa dulu ketika ia lahir, dokternya menarik lehernya, sehingga ada salah satu syaraf yang mungkin ketarik dan menyebabkan kepala dia untuk selama-lamanya menjadi tidak bisa tegak seperti orang normal.

            Cerita tersebut adalah cerita nyata, dan ketika saya mendengarkan cerita tersebut, saya langsung berpikir “betapa jahatnya orang-orang yang selama ini selalu mengatai dia ‘si tengeng’”. Coba saja bayangkan bagaimana kalau diri kita sendiri yang berada di posisi si Branch Manager itu?

            Memang dia mungkin adalah seorang yang sangat menjengkelkan, tidak bisa tegas, dan aneh, atau ada banyak hal lain yang sangat menjengkelkan dan mungkin tidak terampuni lagi. Tetapi apakah kita boleh menghina fisiknya?

Menuding            Mungkin kejadian tersebut terjadi di suau perusahaan asing (bukan di gereja kita), tetapi kita semua sebagai seorang kristen, yang mengaku sebagai anak Tuhan, rajin membaca Firman Tuhan, rajin datang ke gereja atau pelayanan, pernahkah kita melakukan hal yang serupa? Mungkin kita tidak menghina orang lain secara fisiknya, tetapi pernah kita melakukan sesuatu hal entah sikap kita, atau perkataan kita, yang baik secara sengaja mau pun tidak sengaja kita lakukan atau ucapkan hanya untuk menghina atau merendahkan orang lain?

            Didalam Roma 3:9-20 dikatakan bahwa semua manusia adalah orang berdosa. Dan juga dikatakan didalam Roma 3:27, bahwa tidak ada seorang pun yang layak untuk bermegah dengan alasan apa pun. Namun kita hanya boleh bermegah atas iman kita didalam Kristus, dan itu pun bukan berarti kita boleh menjadi seorang yang sombong rohani!

            Jadi tidak ada alasan apa pun bagi kita untuk merendahkan orang lain!

            Ingatlah bahwa Tuhan ada dengan orang-orang yang direndahkan oleh manusia. DIA adalah Tuhan yang Maha Adil dan berada di pihak orang-orang yang benar dimataNYA (Roma 8:31). Dan hidup kita adalah hidup oleh karena kasih karunia Allah saja.

Jadi sekali lagi: jangan pernah memandang sebelah mata atau merendahkan orang lain, karena kita tidak pernah tahu, potensi atau kapasitas yang diberikan Tuhan baginya. Jangan sampai sikap kita menjadi bumerang bagi kita sendiri: jika kita merendahkan orang lain, maka kita pun akan direndahkan! Karena DIA adalah Tuhan yang Maha Adil, Pengasih, dan Penyayang.

Tuhan memberkati!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s