Are you baby?


Buku tentang bubur bayi            Keponakan saya dari kakak kandung saya, yang bernama Raphael Timothy berusia 17 bulan saat ini dan entah apakah karena dia seorang bayi laki-laki, sehingga lebih mudah memberikan dia makanan seperti bubur atau roti dibandingkan jika memberikan dia susu. Sedangkan sebaliknya, kakaknya seorang anak perempuan, agak kurang menyukai makan (sangat susah memberinya makanan).

            Terakhir saya mendengar kabar dari kakak saya, Raphael sudah mulai bisa makan bubur yang agak kasar, bahkan kadang-kadang dia bisa makan nasi.

            Melihat kedua keponakan saya, saya melihat dari mereka lahir sampai mereka dewasa, ada langkah-langkah pemberian menu makanan. Awalnya seorang bayi hanya bisa minum susu atau air putih sedikit-sedikit. Lambat laun mereka harus diajarkan untuk makan bubur. Kemudian mereka harus makan nasi.. Hingga akhirnya mereka bisa makan makanan ‘normal’ seperti orang dewasa (atau seorang manusia) pada umumnya (nasi putih dengan lauk pauk atau apa pun sesuai dengan kebiasaan yang ada pada keluarga atau lingkungan sekitar).

            Mengapa dalam sebuah kalimat pada paragraf sebelumnya ini saya mengatakan bahwa seorang bayi harus diajarkan untuk makan bubur, kemudian nasi, dan seterusnya? Kata yang lebih cocok mungkin adalah memberinya makan … (makan sesuatu: bubur kemudian nasi dan seterusnya).

            Sudah pasti orang tua memberi anak-anak mereka makanan, tetapi dengan atau tanpa disadari sebenarnya orang tua juga mengajarkan kepada anak-anak mereka agar tidak hanya sekedar minum susu, tetapi juga harus makan bubur, tetapi untuk anak-anak tertentu (tidak semua anak) mungkin awalnya harus dibuatkan bubur yang sangat halus (jadi bubur yang sudah jadi, masih harus disaring lagi agar lebih halus), kemudian selanjutnya pada usia tertentu atau pada waktu tertentu orang tua harus memberikan (mengajarkan) bubur biasa (yang tidak lagi disaring), hingga akhirnya anak-anak mereka bisa makan makanan yang lebih keras, bahkan hingga semua makanan bisa dimakannya.

            Mengapa hal itu harus dilakukan oleh semua orang tua terhadap anak-anaknya? Jawaban yang paling singkat adalah “ya memang sudah waktunya…tidak mungkin mereka minum susu terus menerus”. Tetapi secara detail, jika boleh saya sedikit mengembangkannya, jawabannya adalah “jika kita mau tubuh kita atau anak-anak kita menjadi lebih kuat, maka tubuh ini harus diberikan gizi yang cukup dan semakin kita bertambah usia, maka kebutuhan gizi itu akan lebih banyak lagi. Gizi didapat dari makanan-makanan ‘lain’ yang tidak hanya sekedar didapat dari segelas atau sebotol susu saja”.

Tubuh rohani            Demikian pula kondisi ‘tubuh rohani’ kita. Firman Tuhan mengatakan bahwa tidak seharusnya kita terus menerus diberikan ‘susu’, contoh: hanya mau menerima pujian, perkataan atau teguran yang halus, kotbah yang mau didengar hanya yang berisikan berkat saja, dan sebagainya.

            Mungkin untuk orang-orang yang ‘baru bertobat’ bisa saja mereka ‘diberikan makanan rohani’ yang ringan, seperti seorang bayi, tidak bisa seorang bayi langsung diberi nasi (bisa muntah), tetapi lambat laun, tidak bisa juga membiarkan mereka (orang-orang yang baru bertobat) terus menerus makanan yang ‘lembek’.

            Suatu saat mereka-mereka itu harus diajarkan untuk ‘makan’ makanan rohani yang keras. Karena Tuhan mau dan punya keinginan agar anak-anakNYA memiliki tubuh rohani yang kuat dan tidak manja. Contoh: jika ada seseorang yang tidak sependapat dengan kita, lalu kita menjadi marah, menjauhi orang tersebut, dan mempengaruhi orang lain bahwa seseorang itu salah, buruk, dan sebagainya. Lalu parahnya jika seorang pendeta berkotbah dalam bentuk ‘teguran’ atau suatu makanan rohani yang cukup keras, maka diprotes habis-habisan (note: kasihan yang menjadi pendeta, padahal mereka hanya sebagai penyalur kebenaran Firman yang disampaikan Tuhan kepada jemaat tetapi diprotes melulu).

            Jika seseorang yang memiliki kekedewasaan rohani, maka kepribadiannya pun akan diubahkan sedikit demi sedikit dan cara mereka menghadapi masalah pun akan berbeda menjadi jauh lebih baik, contoh mungkin saja menjadi lebih tidak emosi, bisa menyaring bentuk-bentuk teguran yang ditujukan padanya, bisa memutuskan segala sesuatu berdasarkan Firman Tuhan, dan lebih mudah untuk mengampuni, serta dapat menerima orang lain apa adanya, dan sebagainya.

            Dan itu semua hanya bisa didapatkan jika Firman Tuhan yang didengarkan tidak hanya sekedar ‘berkat-berkat’ jasmani. Yaaaa…kotbah tentang berkat itu baik dan bisa menguatkan, tetapi jika hanya sekedar memberikan ‘janji’ yang ‘enak-enak’ untuk didengar, maka hal itu akan membentuk suatu mental rohani yang sangat lemah. Karena sesungguhnya untuk mendapatkan ‘janji yang enak-enak’ itu ada ‘proses yang tidak enak’ untuk dijalani. Dan bagaimana kita bisa kuat menjalani ‘proses yang tidak enak’ itu jika kita tidak mendapatkan ‘gizi rohani’ yang cukup?

            Terus menerus menggali Firman Tuhan itulah yang saat ini harus dilakukan. Ya, kita harus lebih giat untuk menggali Firman Tuhan. Ada banyak media atau cara untuk mendengarkan mendapatkan ‘gizi rohani’ yang lebih lagi, misalkan saja kita bisa download kotbah-kotbah atau buku-buku di internet, kita bisa membeli kaset atau CD kotbah, kita bisa membaca begitu banyak buku, kita juga bisa lebih banyak memuji dan menyembah Tuhan, dan masih banyak lagi caranya.

            Kita bisa mempunyai laptop, kita bisa mempunyai MP4, kita bisa mempunyai HP yang sangat canggih, dan jaman sekarang kita juga bisa mempunya blackberry, kita bisa gunakan semua itu sebagai fasilitas untuk memberikan tubuh rohani kita begitu banyak ‘gizi’. HP jangan hanya diisi dengan bacaan alkitab agar kita tidak perlu susah-susah membawa alkitab! Pertanyaannya: apakah dengan adanya alkitab didalam HP saudara, dapat membuat saudara lebih rajin membaca alkitab?

            Ada begitu banyak orang bingung dengan bagaimana mereka bisa mengembangkan usaha, bingung bagaimana bisa mendapatkan uang, bahkan ada yang bingung bagaimana bisa saling menjatuhkan satu dengan yang lain agar diri sendiri menjadi sukses, dan bahkan ada banyak pula yang sibuk dengan ‘memisahkan’ atau menghancurkan hubungan-hubungan demi keuntungan-keuntungan diri sendiri, tetapi mereka lupa untuk memberikan gizi yang cukup bagi kerohanian mereka.

Wow…

Padahal dalam setiap hal, jika kita semakin dewasa didalam Tuhan dan jika kita memiliki gizi rohani yang bisa membuat kerohanian kita kuat, maka kita akan bisa semakin dekat dengan Tuhan dan keuntungannya itu melebihi dari perak dan emas. Kedekatan hubungan kita dengan Tuhan, itu adalah kunci dari semua masalah kita.

Tidak bisa kita dekat dengan Tuhan tanpa memiliki gizi rohani yang cukup, karena seperti yang sudah dikatakan diatas: Tuhan ingin anak-anakNYA mengalami peningkatan demi peningkatan, DIA ingin anak-anakNYA mendapatkan janji-janjiNYA yang ‘enak-enak’ (yang indah), dan itu semua ada proses yang harus dilewati. Tanpa gizi rohani yang cukup, maka tidak akan ada yang tahan, buktinya: ada begitu banyak orang yang menjauhi Tuhan, mengatakan Tuhan itu jahat, tidak adil, dan sebagainya.

Jadi…berikanlah tubuh rohani kita semua makanan-makanan rohani yang ‘bergizi’. Dan seperti tubuh jasmani kita, demikian pula tubuh rohani kita juga perlu makanan rohani yang bergizi terus menerus (continue).

Tuhan itu baik. Lebih kita memulainya dari sekarang, daripada kita terus menerus menundanya. Terus maju didalam Tuhan dan bersama Tuhan! Tuhan memberkati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s