Family Ties


Awalnya saya ragu membuat artikel ini dan ada perasaan ‘tidak layak’ untuk menuliskannya, karena saya sendiri belum menikah dan belum mengalami, sehingga saya sudah membayangkan ada begitu banyak orang yang sudah menikah, yang mungkin hanya akan ‘menertawakan’ saya. Tetapi saya secara pribadi dan setiap orang yang belum menikah mau pun yang sudah menikah (dulunya dan saat ini) pasti menginginkan dan mendambakan kehidupan pernikahan yang bahagia dan indah.

            Jadi setelah saya mendengarkan dan melihat kotbah tentang Family Ties by Jeffry Rahmat (pastor of JPCC church), saya hanya ingin membagikan apa yang saya dapatkan dan berharap itu bisa memberkati kita semua.

familytiescdjc120

            Ada 3 (tiga) series DVD yang saya lihat, tetapi semuanya akan saya rangkum menjadi 1 (satu) artikel yang sangat singkat ini.

            Ada 3 (tiga) prinsip inti dari kotbah yang disampaikan oleh Jeffry Rahmat, yaitu

Prinsip pertama, sesuatu yang kita diamkan akan cenderung menurun kualitasnya. Pada waktu kita pacaran, kecenderungan kita sering mengatakan “I love you” pada pasangan, tetapi pada saat menikah, seringkali kita ‘lupa’ atau jarang mengatakan ‘I love you’ pada pasangan, padahal ketika kita menikah dan menginginkan kualitas pernikahan kita semakin naik, maka kita harus lebih kreatif. Sebagaimana kita bisa membahagiakan pasangan kita pada waktu pacaran, maka terlebih lagi pada saat menikah, kita harus semakin meningkatkan cara kita (lebih kreatif lagi) untuk membahagiakan suami atau istri kita.

Prinsip kedua, segala sesuatu perlu perawatan. Seperti kotbah oleh bpk.Andreas Rahardjo (Minggu, 22 Maret 2009 yang lalu) dikatakan bahwa seringkali seorang wanita sangat cantik pada saat pacaran, tetapi ketika menikah wanita itu terlihat sangat amat ‘jelek’. Mengapa? Karena suaminya tidak bisa mencintai dia dan mungkin memperlakukan dia dengan sangat buruk, sehingga sang istri menjadi sangat stress, sampai-sampai tidak sempat memikirkan untuk mempercantik diri (yang dipikir masalah melulu).

Prinsip ketiga, peningkatan kualitas memerlukan biaya dan waktu lebih lagi (investasi). Mengapa sewaktu pacaran semuanya terlihat begitu menjanjikan? Karena sewaktu pacaran, seringkali yang dilakukan adalah bersikap royal (investasi uang), calon istri dibeli-belikan apa pun yang dia inginkan, calon mertua dibelikan hadiah yang terbaik dan termahal pada saat ulang tahun, ditraktir di restaurant yang sangat mewah, bahkan sang pacar (pria mau pun wanita) rela nonton tengah malam (investasi waktu) demi bisa bersama-sama dengan sang pacar (padahal sebenarnya paling malam tidur jam 9 malam misalnya dan sudah sangat ngantuk pada saat itu). Tetapi ketika menikah semuanya hilang tiba-tiba (karena sudah tidak ada lagi investasi uang dan waktu untuk pasangan, dianggap bahwa kita sudah dapatkan atau sudah nikahi ‘dia’ (sang istri), jadi sudah cukup/stop semuanya), sepertinya misalnya pasang lampu banyak saja istri sudah dimarahi (dikatakan biaya listrik mahal), mertua dikatakan cerewet dan matre ketika memerlukan bantuan, bahkan ketika istri minta tolong diantarkan ke pasar, suami marah-marah katanya istri sangat merepotkan.

Oleh sebab itu, jika kita ingin menemukan ‘surga’ atau kebahagiaan dalam hidup pernikahan kita, justru kita harus tetap melakukan investasi untuk mempertahankan kebahagiaan dalam hidup pernikahan kita, seperti ketika kita mempertahankan hubungan kita dengan pacar kita.

            Dikatakan didalam Firman Tuhan bahwa pernikahan itu adalah cermin hubungan Tuhan dengan manusia. Anak-anak akan lebih mudah bertemu dan melihat Tuhan ketika dia hubungan papa dan mamanya, jika hubungan papa dan mamanya hancur, suka marah, suka bertengkar, maka demikianlah pandangan dia tentang Bapa nya yang disurga dan dia akan kesulitan untuk merasakan kasih Bapa dalam hidupnya, sebaliknya jika dia melihat papa dan mamanya hidup bahagia, saling mencintai, maka dia dengan dengan mudah dapat merasakan kasih Bapa dalam hidupnya.

            Selain itu, Tuhan menciptakan pernikahan sebagai bentuk partnership (suami atau istri adalah rekan sekerja) dan synergy. Synergy adalah interaksi antara 2 (dua) pihak yang jika dijumlahkan akan menghasilkan kemampuan yang jauh lebih besar (dahsyat) dibandingkan dengan kemampuan dari masing-masing pihak. Misalkan seorang bisa menghasilkan 1000 (seribu), tetapi dengan dua orang akan menghasilkan 10.000 (sepuluh ribu).

            Jadi tujuan Tuhan mempertemukan kita dengan pasangan kita adalah agar kita bisa menghasilkan sesuatu yang ‘dahsyat’ atau luar biasa. Jangan sampai kita menjadi seorang yang luar biasa, tetapi pasangan kita adalah orang yang biasa-biasa saja, karena kita akan menjadi lelah, karena kita harus memenuhi atau mengisi pasangan kita terus menerus hingga akhirnya kita sendiri akan menjadi kosong. Lalu bagaimana agar kita menjadi ‘penuh’? Kepenuhan kita atau kebutuhan kita, hanya kita dapatkan dari Tuhan. Jadi kita tidak boleh mengandalkan atau mencari seseorang yang bisa memenuhi kebutuhkan kita, karena kita akan menjadi kecewa.

            Misalkan saja seseorang kekurangan kasih, lalu ia mencari dan akhirnya mendapatkannya dari pasangannya (bukan dari Tuhan), maka suatu saat pasangannya akan lelah karena tanpa disadari, seseorang itu menuntut pasangannya untuk mengasihi dia terus menerus, tidak diberi perhatian sedikit saja, sudah ngambek. Akhirnya mereka bertengkar dan putus (kalau sudah menikah mereka akan bercerai). Oleh sebab itu, ingatlah bahwa pusat kebahagiaan adalah dari Tuhan saja.!

            Pribadi yang luar biasa adalah pribadi yang akan menciptakan pernikahan yang luar biasa.

            Diceritakan juga bahwa ada seseorang yang hidup dan selalu melihat pernikahan yang hancur dengan kedua orang tuanya, tetapi dia belajar banyak untuk hidup pernikahannya dari kakek dan neneknya yang sudah menikah berpuluh-puluh tahun dan hidup pernikahannya sangat bahagia. Dan akhirnya dia pun melakukan survey dengan beberapa orang yang sudah menikah selama lebih dari 40 tahun dan hidup pernikahannya bahagia, sehingga ditemukan beberapa prinsip untuk hidup bahagia dalam pernikahan:

  1. Perceraian bukanlah suatu pilihan (tidak ada kata perceraian dalam kamus hidup mereka), sehingga selalu dapat ditemukan pemecahan dalam persoalan rumah tangga.
  2. Tidak ada pernikahan yang sempurna, yang ada adalah moment yang sempurna. Maka sering-seringlah menciptakan moment yang indah bersama pasangan.
  3. Membuka kesempatan untuk saling berkomunikasi.
  4. Jangan pernah berhenti untuk dating! Seringkali kehadiran anak, membuat (kebanyakan) para istri untuk membiarkan suaminya pergi sendirian. Tetapi ingatlah bahwa seharusnya suami dan istri harus menyediakan waktu untuk mereka berdua bisa bersenang-senang berduaan seperti ketika mereka pacaran tanpa kehadiran anak-anak.
  5. Penikahan mempunyai tingkat mementingkan diri sendiri yang sangat rendah (tidak egois) karena cinta adalah memberi.
  6. Mengerti bahwa hidup ini sangat singkat. Nikmati kehidupan yang dimiliki oleh pasangan kita dan hidup kita sendiri. Ketika kita menikmati hidup ini, maka kita akan merasa lebih hidup (senang, gembira, dan bahagia).
  7. Yang paling penting adalah menaruh hormat kepada pasangan kita seumur hidup kita (inilah perintah Tuhan: Ibrani 13:4 “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan…”)

Catatan: pernikahan diciptakan untuk dinikmati bersama-sama oleh kedua belah pihak dan menjadi berkat bagi orang lain.

            Ikat janji dalam pernikahan salah satunya berisikan “…saya..menerima…sebagai istri/suami saya…” dan seterusnya. Menerima itu berarti penerimaan seorang anak manusia (baik pria mau pun wanita) secara utuh (keseluruhan paket yang ada dalam hidupnya).

            Cinta adalah keputusan yang seharusnya berjalan lebih dahulu daripada perasaan. Tetapi realitanya yang terjadi adalah perasaan yang terlebih dahulu berjalan sehingga pada saat terjadi masalah yang terjadi kemudian adalah kebencian.

            Menurut Amsal, cinta bukan segala-galanya, tetapi cinta adalah pondasi atau dasar dari sebuah pernikahan. Dan untuk membangun sebuah rumah, tidak hanya dibutuhkan pondasi (cinta), melainkan diperlukan juga ‘perabotan’ yaitu hikmat, pengertian, dan kepandaian. Iblis adalah pendusta, karena dia ada untuk mendustai, tetapi agar kita tidak didustai, kita perlu hikmat, pengertian, dan kepandaian. Oleh karena itu, perlu kita menggali Firman Tuhan, banyak membaca, beli kaset atau CD kotbah, dan sebagainya, dengan tujuan untuk menambah pengetahuan kita. Tetapi jangan lupa untuk melakukannya (mempraktekkan)! Karena semua fasilitas diadakan, buku-buku ditulis dengan tujuan agar pembaca tidak sampai melakukan kesalahan seperti (mungkin) yang telah dilakukan oleh penulis atau seseorang yang menjadi landasan penulisannya.

            Sebenarnya, didalam Firman Tuhan sudah dikatakan bahwa dalam pernikahan itu akan terjadi banyak masalah (I Korintus 7:28). Saya sungguh tidak kaget jika semua orang mengatakan bahwa hidup pernikahan itu tidak mudah dan complicated. Saya bisa membayangkan, hidup sendiri saja ada banyak masalah, apalagi hidup dengan 2 (dua) orang, akan ada masalah-masalah yang timbul dari 2 (dua) orang, belum lagi jika kita mempunyai anak, akan semakin banyak masalah lagi yang akan timbul. Dan kenyataannya Firman Tuhan pun mengatakan bahwa hidup pernikahan itu adalah troubles (dalam kitab bahasa inggrisnya, yang berarti masalah).

            Jadi bagi yang belum menikah, bisa saya katakan bahwa benar hidup pernikahan itu tidaklah mudah. Ditambahkan lagi oleh Jeffry Rahmat bahwa pernikahan adalah seperti sebuah permainan yang diperuntukkan bagi orang dewasa, yang jika seseorang itu mampu memenangkan permainan tersebut, maka ‘surga’ atau kebahagiaanlah yang akan didapatkannya.

            Oleh karena itu, pada waktu kita memutuskan untuk membangun kehidupan pernikahan (rumah tangga), diatas segala-galanya, letakkanlah Tuhan dalam hidup rumah tangga itu! (Yosua 24:25)

            Rencana Tuhan dalam hidup manusia tidak akan pernah gagal. Satu-satu nya yang bisa menggagalkannya adalah diri kita sendiri. Oleh karena itu, hiduplah dalam rencana Tuhan. Pernikahan adalah rencana Tuhan. Ketika kita hendak membangunnya, ikutsertakan Tuhan dalam pembangunannya! Sehingga, didalam perjalanannya, ketika kita menemui kesulitan, DIA, yang telah ada sejak awal, akan terlebih dahulu membantu kita untuk mengatasinya.

            Tulisan yang ada didalam artikel ini tidak lengkap dan ada banyak kekurangan dari yang telah disampaikan oleh pengkotbahnya. Masih ada banyak hal yang perlu kita gali lebih dalam lagi tentang kehidupan pernikahan (dalam hidup ini kita perlu terus menerus belajar), tetapi kiranya tulisan ini dapat melengkapi hal-hal yang mungkin perlu kita ketahui.

            Kiranya Tuhan memberkati kehidupan pernikahan saya, saudara saudari yang belum menikah, dan pernikahan-pernikahan yang sudah ada!

One thought on “Family Ties

  1. Ikut nimbrung tulisan ttg pernikahan, berbagi renungan boleh kan?

    Kebahagiaan Dalam Rumah Tangga
    Kepada Yang Tercinta
    Istriku,

    Empat hari sebelum ulang tahun pertamamu setelah kita menikah, dalam perjalanan untuk makan malam. Waktu itu di tengah jalan aku bertanya kepadamu tentang apa pendapatmu tentang pernikahan kita. Kamu pun menjawab dengan sangat yakin, katamu 9 bulan pernikahan kita adalah waktu yang paling bahagia yang pernah kamu rasakan lebih dari waktu-waktu sebelum kita menikah sehingga kamu berdoa kebahagiaan itu tidak hanya 9 bulan, tapi 90 tahun kalau perlu 9000 tahun. Kalimat pertamamu aku setuju. Aku pun bahagia menikah denganmu. Kalimat selanjutnya agak klise. Klise hanya untuk masalah bilangan 90 dan 9000-nya saja, tapi kalau masalah kebahagiaan dalam rumah tangga(KDRT) kita, aku pun mengamininya. Bukankah kita menikah agar bahagia ?

    Setelah selesai makan malam yang menyenangkan, kita pun pulang. Di jalan aku mengajakmu berdiskusi lagi tentang kebahagiaan. Aku katakan kepadamu tentang reaksi orang-orang yang sudah berkeluarga sudah lama terhadap harapan pengantin baru. Maksudnya begini, ketika ditanya tentang pernikahan, pengantin baru akan bercerita tentang kebahagiaan, tapi herannya cerita itu kebanyakan direspon oleh pasangan yang sudah cukup lama dengan kalimat, “ah, masih baru satu tahun”, “coba saja kalau sudah 10 tahun menikah” dan kalimat-kalimat lain yang memberi kesan bahwa kebahagiaan dalam pernikahan itu sulit terjadi. Jujur, aku tidak setuju dengan respon seperti itu, alangkah baiknya jika kita justru dengan antusias berkata, “aduh bahagianya kalian, cerita dong!” atau dengan kalimat “Bagaimana cara kalian mendapatkan kebahagiaan itu?”. Respon-respon positif aku pikir dan aku rasa perlu untuk mendorong dan memotivasi untuk keluarga baru membangun kebahagiaan dalam rumah tangga(KDRT)-nya, bahkan juga menjadi pengingat keluarga-keluarga yang sudah cukup lama bahwa dulu keluarga mereka pernah bahagia, kenapa sekarang tidak?.

    Pendapatku itu bukan tidak realistis, aku tahu ada banyak tantangan untuk mendapat kebahagiaan dalam rumah tangga (KDRT). Pendapatku itu ku bangun atas harapan pada keluarga kita di masa depan akan dua hal. Pertama aku percaya tantangan-tantangan dari yang ringan sampai berat bukanlah masalah ketidakbahagiaan, tapi lebih merupakan pemicu untuk meraih kebahagiaan. Ingatkah kamu waktu konseling pra-nikah, konselor kita berkata pertengkaran itu perlu, dengan syarat tidak meluap-luap dan tidak kerap (agar kita tidak frustasi), dan dengan tujuan membuat kita semakin mengerti satu dengan yang lain, belajar saling menerima dan mengampuni dengan kasih yang tulus. Aku setuju sekali. Tahukah kamu kata pribadi dalam bahasa Latin (persona) kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia secara langsung berarti ‘topeng’. Kita semua ini topeng, banyak hal-hal tersembunyi yang orang lain tidak ketahui. Ketika kita yang masing-masing adalah topeng bersatu dalam satu ikatan pernikahan, maka topeng itu coba kita buka . Dan bagiku tantangan adalah pengikis-pengikis ketebalan topengku dan topengmu sehingga kita semakin jelas melihat siapa aku dan siapa kamu.

    Harapan kedua berdasar pada keyakinan bahwa tantangan untuk tidak bahagia di dalam masa depan pernikahan kita menunjukkan bahwa kita adalah manusia terbatas. Oleh sebab itu mari kita serahkan rumah tangga ini kepada Dia yang tidak terbatas, Tuhan yang memulai hubungan kasih kita, yang merawat pernikahan kita, yang adalah sumber kebahagiaan dalam rumah tangga(KDRT). Karena ada Tuhan dalam pernikahan kita, maka kebahagiaan dalam rumah tangga (KDRT) adalah proses dan proses itu sendiri adalah kebahagiaan dalam rumah tangga.

    Istriku, akhirnya kita dapat berkata, “Tuhan, Engkau tahu rancangan-Mu atas rumah tangga kami, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada rumah tangga kami hari depan yang penuh harapan”. “Tuhan biarlah kebahagiaan dalam rumah tangga (KDRT) kami langgeng sampai maut memisahkan kami”. (Yeremia 29:11)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s