MILIKI SUDUT PANDANG DAN TOLAK UKUR ALLAH


                                         Richie RichSebuah cerita tentang seorang konglomerat (sebut saja Mr.Richie) yang tiba-tiba memiliki keinginan untuk melihat bagaimana sikap atau penerimaan masyarakat terhadap orang lain, dilihat dari sudut pandang penampilan seseorang?

            Seperti dalam film Richie Rich yang pernah kita lihat, demikianlah kita bisa membayangkan bagaimana jumlah kekayaan yang dimiliki oleh Mr.Richie.

            Mr.Richie sangat amat kaya sekali, tetapi dia adalah seorang yang sangat rendah hati dan takut akan Tuhan. Dia memiliki 3 (tiga) orang anak dan seorang istri dan mereka hidup sangat bahagia. Keluarga mereka adalah keluarga yang sangat rendah hati dan memiliki perhatian yang luar biasa terhadap kalangan bawah sekali pun.

            Dengan keinginannya yang tiba-tiba tersebut, Mr.Richie diam-diam berdandan ala ‘pengemis’, sehingga kita bisa membayangkan Mr.Richie berpakaian compang camping, kotor, lusuh, dan bau sekali, kemudian Mr.Richie berjalan mengedap-ngedap agar tidak terlihat oleh siapa pun juga, keluar dari rumahnya dan hendak pergi ke suatu tempat yang masih belum dia pikirkan.

            Mr.Richie terus berjalan dan terus berjalan, hingga ia menemukan ada suatu tempat yang sangat istimewa (kalangan atas) dan sedang mengadakan suatu pameran pendidikan, namun didepan pagar ditemuinya tulisan yang berbunyi: everyone invited (semua orang terundang atau dengan kata lain: siapa pun boleh masuk untuk mendatangi pameran tersebut). Jadi Mr.Richie pun berjalan masuk dan melihat-lihat.

            Di pintu depan, seorang penjaga menemuinya dan bertanya “maaf bapak, apakah yang hendak bapak cari?”. Mr.Richie menjawab “bukankah ini pameran pendidikan? Saya ingin melihat-lihat untuk anak saya”. Kemudian penjaga tersebut menjawab “maaf bapak tetapi pameran ini…”, sebelum penjaga tersebut melanjutkan, Mr.Richie kembali menjawab “bukankah didepan tertulis bahwa semua orang boleh masuk?”. Akhirnya penjaga pun mengijinkan Mr.Richie untuk masuk.

            Semua penjaga counter (Customer Service atau Sales Promotion Girl) memandang Mr.Richie dengan pandangan sinis dan bertanya-tanya, mungkin saja didalam hati mereka berkata “ih…ini orang ngapain juga datang kesini? Aneh?!?!?”

            Sampai pada counter tertentu, Mr.Richie akhirnya duduk dan bertanya-tanya tentang pendidikan yang terbaik untuk anaknya. Para penjaga counter tersebut tadinya saling ‘melempar’ karena tidak ada yang mau melayani Mr.Richie, tetapi akhirnya ada seorang yang mau tidak mau melayani, karena dia yang belum dapat bookingan.

            Singkat cerita, setelah berbincang cukup lama, kemudian terjadi tawar-menawar dan kesannya cukup membuat kesal si customer service karena dikiranya Mr.Richie ini ‘miskin’, ‘sok’ banget kesannya begitu banyak menawar, dan belum tentu juga deal. Tetapi akhirnya Mr.Richie pun deal dengan tawaran yang diberikan oleh si customer service yaitu pendidikan untuk anak-anaknya di Jerman.

            Customer service yang agak terkejut karena Mr.Richie berani melakukan deal ini kemudian mengantarkan Mr.Richie ke bagian tempat pembayaran untuk membayar uang muka tanda deal.

            Sekali lagi Mr.Richie yang sudah mempersiapkan segalanya sebelumnya, sempat membuat si teller dan customer service kebingungan dan kesal. Ceritanya: Mr.Richie menyerahkan kartu kredit silver kepada si teller. Awalnya teller dan customer service terkejut, ternyata yang dikira mereka seorang pengemis, memiliki kartu kredit juga.

            Setelah dicoba digesek 2x (dua kali), ternyata kartu kreditnya tidak bisa. Teller mengembalikan kartu kredit tersebut sambil berkata “maaf bapak, kartu kreditnya tidak bisa”. Kemudian Mr.Richie mengangguk dan menyerahkan kartu debit. Dan sekali lagi teller mengembalikan kartu tersebut dan berkata dengan nada mulai jengkel “maaf bapak, dana bapak tidak mencukupi”. Mr.Richie pun mulai menunjukkan wajah yang bingung dan tampak sedih, namun setelah menunggu agak lama dan oleh karena desakan si teller dan customer service yang mungkin dalam hati mereka kembali bertanya-tanya “nih bapak sebenarnya punya duit ga sih untuk bayar?”, akhirnya Mr.Richie memberikan kartu kredit platinum nya.

            Si teller dan customer service sangat terkejut, ternyata seorang yang mereka anggap rendah dan sewaktu mereka berbicara, sempat juga menggunakan nada-nada tinggi dan tidak bersahabat, ternyata memiliki kartu kredit platinum.

Meskipun itu hanyalah kartu kredit (yang artinya kita berhutang dengan bank melalui kartu kredit), tetapi dengan adanya kartu kredit tersebut, berarti bank mempercayai seseorang itu sehingga bank berani memberikan kartu kredit. (Sebagai informasi bagi pembaca: sebelum memberikan kartu kredit, bank pasti mensurvey terlebih dahulu data nasabahnya, sehingga tidak sembarang orang bisa mempunyai kartu kredit dan kartu kredit itu juga mempunyai tingkatannya tersendiri, semakin tinggi tingkatannya itu berarti nasabah mempunyai asset dan income yang tinggi juga sehingga dianggap nasabah pasti bisa membayar pinjaman. Kartu kredit platinum adalah salah satu kartu kredit yang sangat tinggi tingkatannya)

            Demikianlah kurang lebih cerita tersebut yang tanpa dipanjanglebarkan lagi, dapat ditebak, tulisan apa dan bagaimana yang hendak saya buat kali ini.

            Cerita tersebut memberikan pelajaran dan mengingatkan kembali bagi kita semua, bahwa kita tidak boleh merendahkan orang, siapa pun orangnya. Meskipun kadangkala memang ada orang-orang tertentu yang super menjengkelkan dan tidak menghasilkan apa pun untuk dilayani (jika kita pemilik atau bekerja di sebuah toko).

            Seringkali seseorang itu memandang orang lain dari sudut pandang penampilan. Kalau penampilan ok, keren, cakep, cantik, dan ‘wah’…berarti orang ini berduit dan ok nih untuk dijadikan teman. Padahal Tuhan menciptakan manusia itu pada dasarnya memiliki harga diri. Sekali pun mereka tidak memiliki uang untuk menjaga penampilan mereka dan tidak bisa diajak bicara tentang mode atau trend masa kini, tetapi mereka punya harga diri dan layak untuk dihargai serta dihormati. Bahkan tidak ada salahnya untuk mengajak mereka mengetahui mode atau trend sekali pun mungkin mereka tidak bisa membeli. Paling tidak, mereka bisa nyambung ketika diajak ngobrol.

            Point berikutnya yang paling penting, saya ingin mengajak bapak, ibu, saudara/i untuk melihat dan menilai orang lain dengan sudut pandang dan tolak ukur Allah. Karena di jaman yang sangat maju dan semakin modern ini, sangat bisa dihitung orang-orang yang bisa melihat dan menilai orang lain dari sudut pandang Allah, bahkan orang-orang yang melayani dan rajin ke gereja sekali pun.

            Ada banyak orang yang menganggap bahwa orang di’bawah’ mereka itu pasti memiliki niat untuk memanfaatkan orang di’atas’nya. Padahal mungkin yang demikian hanyalah beberapa (karena mungkin ada beberapa orang yang memang demikian sifatnya, bahkan sesama orang kaya sekali pun mungkin juga banyak yang hanya mau memanfaatkan orang lain saja dengan kekayaannya), dan tidak semua orang seperti itu.

            Bisa kita bayangkan bagaimana jika Tuhan memandang kita sebelah mata? Apalagi kebanyakan kita kalau tidak ada masalah dan lagi berbahagia, kita sering melupakan Tuhan. Berdoanya tidak sungguh-sungguh lagi. Lalu ketika kita lagi ada masalah datang ke Tuhan, dan Tuhan berkata “huh…kalau ada masalah aja datang…(misalnya saja masalah keuangan) yah sudah…nih berkat untukmu (dilempar dari surga sebongkah emas)”, bagaimana perasaan kita kalau dibegitukan? Bisa-bisa kita berkata “masio tidak datang ke Tuhan tidak apa-apa, daripada kita diinjak-injak dan diremehkan begitu”. Padahal dalam keseharian kita kalau ada orang yang dibawah kita datang, kita langsung berpikir “jangan-jangan dia hanya akan merepotkan dan memanfaatkan saya” (merasa sangat keberatan).

            Demikianlah jika kita ingin menjadi berkat, hal yang paling sederhana tetapi cukup berat untuk dilakukan adalah menjadi seorang yang rendah hati. Rendah hati dalam hal apa? Rendah hati dalam hal cara pandang dan cara kita mengukur orang lain. Bisakah kita memandang dan mengukur orang lain dari sudut pandang dan tolak ukur Allah?

            DIA itu Tuhan yang tidak pernah memandang remeh semua makhluk di dunia ini. DIA tidak mengukur semua perbuatan kita juga. DIA Maha Pengasih dan Penyayang. DIA juga mengampuni semua dosa-dosa kita. Kita memang bukan Tuhan yang bisa bersikap sempurna seperti DIA. Tetapi kita bisa belajar bagaimana jika kita berada di posisi orang lain itu dan khususnya bagaimana jika kita berada di posisi Allah terhadap orang lain? Jika kita ini anak Allah, maka seharusnya kita pun mewarisi sifat-sifatNYA.

            Di dunia ini, ada begitu banyak orang bersaing untuk menemukan berbagai hal yang baru untuk menjadi kaya. Tetapi dalam artikel ini, saya menantang bapak, ibu, saudara/i dan diri saya sendiri tentunya (kita bersama-sama tanpa saling menuding, menunjuk orang lain untuk mendahului atau saling menghakimi), untuk bisa menjadi berkat dengan cara menjadi seseorang yang berbeda (lain daripada yang lain), yang memiliki kerendahan hati, khususnya dalam hal cara pandang dan cara kita mengukur orang lain dari cara pandang dan tolak ukur Allah.

 

 

**Ide cerita oleh Frankly Reynold Malumbot (Angky)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s