Deal or No Deal


Deal or No DealSebuah acara televisi Deal or No Deal dengan Tantowi Yahya sebagai pembawa acara, merupakan sebuah quiz yang dapat membawa peserta nya menjadi seorang yang sangat kaya raya (millyuner atau jutawan) hanya dengan menebak sebuah pertanyaan, kemudian selanjutnya peserta memilih atau menebak 1 (satu) koper dan untuk menebak isi dari koper yang sudah peserta pilih, maka peserta harus membuka koper yang lainnya sesuai dengan peraturan yang ada.

         Setelah beberapa koper di buka, peserta harus mendengarkan harga yang ditawarkan oleh banker dan kemudian dari penawaran tersebut, peserta bisa deal (menyetujui) atau no deal (tidak menyetujui) harga yang ditawarkan. Permainan berhenti apabila peserta menyetujui harga yang ditawarkan oleh banker atau apabila koper sudah terbuka semua (ada 26 koper).

         Dengan melihat acara ini, dapat diketahui bahwa ada tipe peserta yang dapat menjadi cukup puas dengan penawaran banker, asalkan tidak terlalu rendah harganya dan memang sudah tidak memungkinkan untuk dia mendapatkan harga yang jauh lebih tinggi (melihat dari kondisi koper yang sudah terbuka), maka peserta akan segera deal. Tetapi ada juga peserta yang ‘serakah’, dalam artian, dia tidak akan pernah menyetujui (no deal) harga yang ditawarkan oleh banker, sampai seluruh koper terbuka, bahkan ketika jelas terlihat dia tidak mungkin memperoleh harga yang tinggi, dia tetap tidak menyetujui (no deal) atau tidak pernah puas dengan kata lainnya.

         Dari cerita tersebut di atas, ada suatu pertanyaan yang timbul bagi kita: “apakah yang akan dilakukan jika ada keselamatan yang ditawarkan tetapi juga harus meninggalkan segala kemewahan yang telah di miliki sekarang?” Apakah kemewahan yang ada di dunia ini lebih penting dibandingkan dengan keselamatan yang ditawarkan? Ataukah keselamatan lebih penting daripada kemewahan yang ada? Ataukah kedua-duanya sama-sama penting? Tetapi bagaimana jika kita harus memilih salah satunya?

         Seringkali jika berada di dalam gereja, oleh karena suasana ‘rohani’ yang ada, maka jika disuruh memilih, pastilah memilih keselamatan yang Tuhan berikan, bersedia meninggalkan kemewahan dunia. Tetapi jika sudah keluar dari gereja/tempat ibadah, teman-teman mulai mengajak pergi, berfoya-foya lagi, maka keselamatan yang sudah di terima itu sudah dilupakan atau memilih untuk menundanya.

         Demikianlah manusia, serakah, egois, dan selalu menginginkan yang terbaik untuk dirinya. Karena memang demikian kenyataannya sehingga tidak bisa disalahkan. Tetapi satu hal yang perlu diingat bahwa semuanya itu kembali kepada komitmen kita, janji kita, hati kita, dan harapan kita di masa depan (jika hidup kita sudah berakhir masa waktunya). Dan selain itu, apa yang ada pada kita selama di dunia ini, tidaklah abadi. Tidaklah selamanya bisa kita miliki. Tuhan bisa membuat kita miskin mendadak, sakit mendadak, dan lain sebagainya, karena Dia Tuhan yang sungguh sangat berkuasa.

         Seringkali karena keserakahan kita, keinginan kita ketika melihat orang lain dapat hidup mewah, dapat membuat kita lupa bahwa ada keselamatan yang jauh lebih indah, lebih berharga, dan lebih mewah. Hal ini bukan berarti kita tidak boleh kaya, kita tidak senang-senang, dan sebagainya. Justru sebaliknya kita sebagai anak Tuhan, kita tidak boleh berkekurangan, kita tidak bersusah hati, kita sudah seharusnya bersukacita penuh karena hidup kita telah diselamatkan. Hanya saja jika kemewahan itu segala-galanya, maka itulah yang menjadi kesalahan kita. Karena sesungguhnya, keselamatan itulah segala-galanya, yang abadi, yang kekal, yang dapat kita miliki secara gratis.

         Manusia dapat menjadi serakah di jaman sekarang ini karena kebutuhan yang terus meningkat, tetapi bersama Yesus, segala hal, segala kesulitan dan kebutuhan hidup kita akan terpenuhi dengan caraNya. Jadi kembali lagi pada pilihan kita, apakah kita deal (setuju) dengan keselamatan yang ditawarkan kepada kita ataukah kita no deal (tidak setuju) dengan tawaran keselamatan tersebut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s