Hidup Ini BERAT atau RINGAN, Akulah Yang Memutuskan


“Kalau aku menganggapnya berat, hidup ini pasti akan terasa berat, membosankan dan melelahkan. Namun aku bisa membuat hidup ini menjadi ringan. Aku akan mulai untuk lebih banyak mengucap syukur, lebih sering menikmati keindahan dan meraih sebanyak mungkin kegembiraan”

Heavy

         Ya, benar sekali kalimat tersebut…

Ketika hidup ini kita anggap begitu banyak masalah, berat, merasa tidak ada yang mengasihi kita, dan lain-lain (pikiran negatif), maka hidup ini akan menjadi sangat membosankan, menjengkelkan, dan jangan-jangan yang ada hanya keinginan untuk segera bertemu dengan Tuhan saja (mati). Sebaliknya ada orang yang berpikir bahwa hidup ini sangat indah, penuh dengan cinta, berharga, dan sebagainya (pikiran yang positif), maka hidupnya akan terasa membahagiakan dan waktu akan sangat berharga baginya karena dia begitu ingin menikmatinya, dan tidak pernah ‘diijinkan’ terbersit di dalam pikirannya untuk cepat-cepat bertemu Tuhan.

         Suatu hari, di pagi hari, teman saya ada yang mengirimkan SMS, intinya mengatakan bahwa ketika dia berdoa untuk saya, dia mendapatkan kesan kalau Tuhan akan memberikan kado buat saya. Tetapi tidak dijelaskan kapan atau bagaimana bentuknya. Dan saya sangat senang sekali ketika membaca SMS itu. (Siapa sih yang tidak senang mendengar kabar bahwa Tuhan akan memberikan kita hadiah?) Hadiah dari Tuhan, pastilah bagus, menyenangkan, demikian saya berpikir.

         Dan pada hari itu adalah hari di mana menjelang setahun saya di kantor (belum setahun, teteapi beberapa hari kemudian akan menjadi setahun), yang terjadi adalah salah satu system yang saya gunakan di kantor, tidak dapat digunakan lagi pada hari itu dan tentu saja dalam beberapa hari ke depan juga masih belum dapat menggunakan system tersebut. Kemudian beberapa hari setelah itu, hampir 90% password system yang digunakan (yang saya perlukan) untuk bekerja sehari-hari semuanya tidak dapat di pakai juga. Perlu diketahui bahwa tanpa password-password tersebut, saya tidak dapat bekerja dengan maksimal, karena semuanya bersumber pada system-system tersebut (report yang harus saya kerjakan tidak akan dapat saya kerjakan tanpa system tersebut).

         Saya sempat berpikir, apakah ini kado dari Tuhan? Kado yang seperti apakah yang Tuhan sediakan untuk saya, sehingga saya harus “menanggung” semuanya itu? Apakah Tuhan yang saya kenal sangat super baik sekali itu memberikan saya kado seperti ini? Saya kesal dan cemas sekali menerima semua kejadian ini. Meski saya mencoba untuk tetap tenang, tetapi ketika saya melihat begitu banyak orang yang direpotkan, karena prosesnya sangat panjang dan melibatkan banyak orang, maka mau tidak mau, suka tidak suka, saya pun jadi kepikiran kenapa hal ini harus terjadi.

         Tetapi karena saya tidak ingin terbebani oleh pikiran saya sendiri dan saya juga tidak mampu berbuat apa-apa karena semuanya sudah terjadi, maka saya pun memutuskan untuk mencoba berpikir bahwa ini memang kado dari Tuhan yang maha baik itu. Saya berpikir bahwa setelah setahun saya bekerja dan belum mendapat cuti selama setahun itu, maka ini adalah kesempatan saya untuk cuti. Pekerjaan yang saya kerjakan setiap hari akhirnya harus dikerjakan oleh teman saya (tidak 100% teman saya yang mengerjakan, tetapi mau tidak mau teman saya harus membantu saya), yang berarti beban pekerjaan saya sedikit berkurang.

         Dan saya mencoba untuk mengucap syukur, saya bilang “Tuhan terima kasih karena semua password saya saat ini tidak dapat digunakan, sehingga saya menjadi tidak terlalu sibuk dan tidak banyak yang memberi saya tugas untuk mengerjakan pekerjaan tertentu”. Saya pun mencoba untuk tersenyum. Saya berusaha untuk tidak memikirkannya dan berusaha menghembuskan nafas lega. Saya berusaha untuk menikmati waktu-waktu di mana saya tidak bisa bekerja dengan maksimal karena tidak ada system (bukan berarti kemudian saya bersantai-santai dan tanpa beban di kantor, saya tetap bekerja semaksimal yang saya mampu lakukan).

         Apa yang terjadi? Saya bisa merasakan hidup dan hati serta perasaan saya menjadi lebih ringan. Saya merasakan beban pikiran, rasa sungkan, dan lain-lain yang tadinya sempat membuat saya kesal dan cemas itu hilang. Kemudian saya juga bisa melihat dari sisi positif atau sisi yang baik. Saya tidak tahu apakah hal ini benar-benar kado yang Tuhan berikan untuk saya, tetapi ketika saya mencoba untuk berpikir positif dan mengucap syukur, maka saya tahu bahwa apapun yang Tuhan ijinkan terjadi terhadap diri saya dan semua orang tentunya adalah untuk mendatangkan kebaikan untuk kita semua, termasuk dalam hal ini adalah diri saya sendiri (Roma 8: 28).

         Terima kasih Tuhan, hari-hari dapat saya lalui dengan baik pada saat itu dan sungguh saya berharap setiap anak-anak Tuhan, juga mampu berpikir positif, melihat dari sisi yang positif, serta mengucap syukur di dalam menjalani hidup ini di setiap hari nya. Dalam setiap hal, setiap kejadian, dan setiap moment, sertakan Tuhan dalam hidup kita semua (jangan lupa berdoa dan saat teduh) dan percayalah bahwa segala hal yang Tuhan ijinkan terjadi dan hadir di dalam hidup kita adalah untuk mendatangkan kebaikan bagi kita semua.

One thought on “Hidup Ini BERAT atau RINGAN, Akulah Yang Memutuskan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s