NEVER GIVE UP


Joki (penunggang kuda)          Ada seseorang yang sangat menggemari kuda dan dia juga seseorang yang seringkali ikut dalam pertandingan berkuda (joki). Kuda yang selalu bersama dia adalah kuda yang benar-benar dirawat dengan baik sekali dan paling tidak 1 (satu) minggu 3 (tiga) kali diajaknya si kuda ini berlatih, yang oleh karenanya mereka hampir tidak pernah kalah dalam setiap pertandingan. Kuda tersebut dinamainya dengan panggilan si Petir.

         Suatu hari, Petir, kuda yang sangat disayangi joki ini mengalami cedera dalam suatu pertandingan, sehingga Petir tersebut berlari dengan terpincang-pincang. Mengetahui hal tersebut, si joki tidak berniat untuk memenangkan pertandingan karena dia merasa kuatir dan kasihan dengan Petir. Tetapi apa yang diperbuat oleh Petir? Petir terus berlari dengan kencang dengan mengerahkan kemampuan yang dimilikinya hingga pada garis finish. Meskipun mereka tidak menang, tetapi Petir telah berusaha menyelesaikan tugasnya dan menyenangkan hati majikannya (joki).

         Peristiwa tersebut mengingatkan kembali bagaimana sikap atau usaha kita selama terhadap ‘sang Joki’ kita (Bapa kita di sorga)? Apakah kita sudah ‘mati-matian’ berjalan dalam panggilanNya? Apakah kita sudah melakukan yang terbaik dan menyenangkan hati Bapa kita? Kita belum mencapai garis akhir, tetapi bagaimana sikap atau usaha kita selama menjalani panggilanNya dalam hidup kita?

         Pada saat kita bertugas melayani, kemudian karena sakit flu, apakah kita akan minta ijin untuk tidak pelayanan? Apakah hanya karena halangan yang sebenarnya ‘sederhana’ dalam artian tidak sampai harus mengorbankan waktu pelayanan, tetapi akhirnya kita memutuskan untuk tidak pelayanan hari itu? Ataukah pekerjaan kita juga membuat kita tidak dapat melayaniNya pada hari Minggu meski hanya 1-2 jam saja? Semudah itukah kita memperoleh alasan untuk tidak pelayanan?

         Setiap manusia punya masalah, tetapi bukan berarti kita bisa menunda pelayanan atau mengorbankan pelayanan hanya karena masalah atau hal-hal yang dapat diselesaikan nanti (alasan-alasan yang begitu rupa). Dalam hal ini, kita juga harus mengetahui prioritas kita tentunya. Bukan berarti juga, demi pelayanan, kita harus mengorbankan masalah keluarga, pekerjaan (membolos misalnya), dan sekolah kita (contoh: tidak belajar pada saat besoknya ujian). Kita harus bijaksana untuk menentukan yang mana yang lebih penting. Karena kita dapat menjadi berkat bagi keluarga dan rekan-rekan sekitar kita, salah satunya adalah dari bagaimana kita memprioritaskan pelayanan atau bagaimana diri kita sendiri menghargai waktu-waktu pelayanan kita.

         Bagaimana cara kita ‘mati-matian’ untuk pelayanan kita? Atau bagaimana kita dapat disebut sebagai seorang yang sudah ‘mati-matian’ didalam melayani Tuhan? Jika anda adalah seorang singer dan suatu hari pita suara anda harus di operasi dan di vonis oleh dokter bahwa anda tidak dapat bersuara lagi, apakah anda akan berhenti bernyanyi dan memuji Tuhan? Jika anda seorang penari, jika suatu hari Tuhan ijinkan anda duduk di kursi roda, apakah kalian akan berhenti menari?

         Jika kita merasa sudah ‘mati-matian’ berjalan dalam visi, tujuan, dan rencana Bapa dalam hidup kita, maka apa pun yang terjadi, kita akan terus berusaha untuk menjalaninya. Tidak akan ada alasan bagi kita untuk tidak pelayanan, kecuali jika ada hal-hal yang benar-benar urgent (sebagai contoh: sakit typus, istri melahirkan, atau sedang hamil sehingga tidak memungkinkan untuk menari, dan lain-lain). Jika kita diijinkan untuk mengalami hal-hal yang sulit, maka kita harus terus berani bertanya “Tuhan, apa lagi yang Engkau inginkan, agar hidupku tetap berguna untuk kemuliaanMu?”, mak dengan demikian hidup kita akan benar-benar sangat maksimal, melakukan segala sesuatu untuk kemulianNya.

         Karena sampai kita pulang ke rumah Bapa, visi atau tujuan Bapa dalam hidup kita tidak akan pernah mati atau berhenti. Jangankan tujuan atau visi yang mungkin dapat dialihkan ke orang lain (jika kita tidak bersedia lagi melanjutkan visiNya dalam hidup kita), doa-doa kita saja, sampai kita pulang ke rumah Bapa (meninggal) akan tetap didengar dan dijawab oleh Bapa kita di surga. Karena Bapa kita tidak pernah meninggal, Bapa kita hidup, abadi, dan kasihNya sampai selama-lamanya, maka apa pun dapat dilakukanNya melalui kita, melalui doa-doa kita untuk mencapai tujuanNya yang mulia.

Never Give Up         Jangan menyerah…terus berlari sampai ke tujuan, sekali pun itu sulit, melelahkan, menyakitkan, dan menyebalkan sekali pun, tetapi jika kita ingin benar-benar menyenangkan hati Bapa kita, maka kita harus berjuang, mati-matian, sampai kita mencapai garis akhir.

          Satu hal perlu diingat:

BAPA KITA YANG DI SURGA,

DIA YANG AKAN MENJADI PEMBELA KITA.

          Jadi kita tidak perlu takut dan menyerah, kita tidak sendirian, kita akan selalu ditemaniNya. Tuhan memberkati.

        

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s