SIAPA YANG BERADA DI DEKAT KITA?


         Suatu ketika, baru saja saya tiba di rumah, ada seorang teman yang SMS saya, yang isinya mengatakan bahwa sewaktu dalam perjalanan dekat dengan rumah saya, posisi kendaraannya berada sangat dekat dengan kendaraan saya. Tetapi selama di perjalanan, saya sama sekali tidak mengetahui atau menyadari bahwa posisi kendaraan teman saya itu berada dekat dengan kendaraan saya, karena selama perjalanan saya sibuk SMS dengan seorang teman.

         Ketika saya memperoleh pemberitahuan teman saya tersebut, saya hanya tersenyum saja, tidak berpikir apa-apa hingga ada satu hal yang tiba-tiba muncul dalam ingatan saya. Mungkin hal ini juga sering dialami oleh orang banyak, baik orang Kristen, mau pun non Kristen. Seringkali kita, sebagai manusia biasa, tiap kali diperhadapkan dengan suatu masalah, yang terjadi adalah sibuk dengan pemikiran dan pertimbangan kita sendiri.

         Telepon teman, mencari info (di internet misalnya), gegabah, bingung, dan stress adalah reaksi yang manusiawi ketika menghadapi suatu masalah. Apalagi kalau harus segera memutuskan sesuatu di saat itu juga. Bagi kebanyakan orang, kalau sampai sangat terpaksa sekali, maka yang paling sering terjadi adalah tidak memutuskan apa-apa atau dengan kata lain menghindari resiko sehingga mengambil keputusan yang dapat dikatakan “minimal”. Contohnya: ada seorang teman dekat (nama si A) yang perlu ditemani pergi ke suatu tempat karena ada keperluan yang benar-benar penting, kemudian teman dekat lainnya (nama si B), juga meminta untuk ditemani ke suatu tempat juga dengan keperluan yang juga tak kalah pentingnya. Tidak bisa pergi bersama-sama sekaligus dan waktunya juga pas bertepatan di saat yang sama. Pada akhirnya, siapa teman dekat yang akan kita temani? Setelah bingung, entah bingung sendiri atau bertanya sana sini, akhirnya dipilih jawaban: sebaiknya tidak perlu menemani siapa pun juga supaya adil. Jawaban tersebut merupakan jawaban yang paling sederhana, mudah, dan benar-benar menghindari resiko.

         Ketika saya mengalami suatu masalah, seringkali saya juga sibuk cerita dengan teman-teman yang lain atau dengan anggota keluarga, dengan kata lain curhat (curahan hati), entah untuk meminta pendapat atau sekedar bercerita. Bahkan tak jarang saya sampai mengalami stress atau tekanan yang sangat kuat karena pikiran saya sendiri. Saya sibuk berpikir mencari jalan keluar atas masalah saya tersebut, belum lagi saya juga berpikir bagaimana pendapat orang lain kalau saya begini, apa kata orang kalau akhirnya begini (padahal dimulai saja belum, sudah menduga-duga).

         Bagaimana dengan kalian semua? Apakah mengalami hal yang sama?

         Sekedar informasi yang pernah saya ketahui: pikiran adalah penyebab utama dari penyakit yang dialami oleh seseorang. Seseorang menjadi tidak sehat dan sering sakit-sakitan salah satu faktornya ada karena sering kepikiran. Minimal yang dapat dirasakan adalah kepala pusing atau sakit perut ketika kita berpikir sesuatu, apalagi kalau berpikirnya sampai terus menerus, tidak bisa tidur, dan di bawa ke mana-mana.

         Lalu dampak lain yang dapat terjadi karena terlalu sibuk dengan pikiran kita adalah kita akan mudah menjadi sakit hati. Karena setiap kali disakiti, kita selalu ingat dan memikirkannya. Misalnya: kenapa ya orang itu kok bilang begitu tentang saya? Orang itu memangnya yang paling benar kah? Atau apa saja bisa menjadi bahan pemikiran kita ketika disakiti. Ketika kita mulai berpikir tentang kata-kata orang lain yang menyakitkan, itu sudah menimbulkan gejala-gejala sakit hati, yang kemudian akan merambat ke mana-mana (penyakit, dendam, dan lain-lain).

         Sulit sekali mengubah kebiasaan atau sifat atau karakter seseorang yang suka memikirkan sesuatu atau seseorang yang tidak bisa tenang ketika menghadapi masalah. Namun dapatkah kita, sebagai anak Tuhan, memberikan respon yang berbeda dengan orang lain yang belum mengenal Tuhan?

Dekat Bapa

         Satu hal yang perlu kita ketahui adalah Tuhan telah memiliki jawaban atas setiap masalah yang ada pada kita. JawabanNya begitu dekat dengan kita. Tidak hanya jawabanNya, tetapi Dia, Tuhan Yesus, tidak pernah jauh dari kita, sekali pun seolah-olah kita merasa jauh denganNya. Tetapi Dia sungguh amat dekat denganNya. Tanamkan sejak saat ini dan ingatlah selalu bahwa apa pun yang kita alami, Dia tetap akan selalu dekat dengan kita.

         Tidak perlu kita bingung cerita ke sana kemari yang mungkin hanya akan menghabiskan pulsa, apalagi sampai kepikiran, tidak bisa tidur, dan sebagainya ketika menghadapi suatu masalah. Yang kita perlukan hanyalah tinggal tenang di dalam Tuhan. Berusahalah untuk bersikap setenang mungkin (tidak tergesa-gesa tetapi segera agar tepat pada waktunya), tetap harus berkonsentrasi dan mengambil tindakan. Karena tidak mungkin kita hanya sekedar berdiam dan berdoa tanpa berbuat apa pun juga, khususnya di dalam situasi yang gawat.

         Oleh karena itu, mintalah hikmat Tuhan setiap pagi, agar sepanjang hari itu, apa pun yang kita hadapi, dapat kita selesaikan dengan baik dan bijaksana. Milikilah hubungan yang baik denganNya, berdoa, dan bersaat teduh, agar membuat kita dapat menjadi peka dengan setiap perkataanNya.

Berdoa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s