GOSIP (Digosok Makin Siiippp)


GosipJika dperhatikan, setiap hari, di setiap stasiun televisi, pasti ada tayangan tentang kehidupan para artis, mulai dari yang memalukan (perceraian, pertengkaran antar keluarga) sampai ke sesuatu yang baik (pernikahan, melahirkan, ulang tahun, bertunangan, dsb). Dan tidak ada bosannya ketika ada waktu luang, maka setiap orang akan menonton acara itu. Sehari saja tidak mengikuti acara tersebut, maka bisa saja ketinggalan berita tentang artis-artis tersebut. Untuk kasus-kasus yang cukup panjang (persidangan), maka akan ditayangkan berulang-ulang sampai berminggu-minggu lamanya, jadi tidak akan ketinggalan terlalu lama untuk mengikuti kembali berita tersebut J

         Tak heran jika masing-masing orang akan lebih menyukai atau lebih tertarik pembicaraan yang mengarah kepada membicarakan orang lain (entah artis mau pun teman atau saudara sendiri).  Karena membicarakan orang lain atau istilah kerennya menggosipkan orang lain memang jauh lebih mengasyikkan. Membicarakan kesalahan orang lain sampai membicarakan kebaikan seseorang (walau pun yang namanya gosip lebih mengarah kepada menjelekkan orang lain) tidak akan membuat waktu berjalan lambat.

         Tetapi…tidak sadarkah anda bahwa gosip atau membicarakan orang lain adalah hal yang dapat ‘membunuh’ untuk kata drastisnya? Yah…gosip dapat membunuh…membunuh cinta atau kasih sayang yang sebenarnya tidak seharusnya terjadi di antara anak Tuhan. Bahkan gosip dapat benar-benar membunuh seseorang secara tubuh jasmaninya…karena gosip dapat membuat seseorang sakit hati, akhirnya sakit kanker atau sakit jantung dan akhirnya dapat menyebabkan kematian. (drastis bukan?)

         Gosip adalah sesuatu yang jahat, bahkan adalah sesuatu yang sangat jahat. Mengapa?

         Jika ada seorang A, sedang memiliki masalah dengan seorang B, A begitu sangat membenci si B, dan kemudian karena A ingin mencurahkan kemarahannya (A tidak bisa langsung marah-marah ke B – seperti biasa, orang lain cenderung mengatakan isi hatinya kepada orang lain, tidak kepada orang yang bersangkutan) sehingga A bercerita kepada C. A dan C berteman sangat baik. Setelah bercerita, A merasa lega dan C juga sudah menjadi seorang pendengar yang baik.

         Suatu hari kebetulan C melihat B berperilaku sesuai dengan yang diceritakan oleh A. Tanpa disadari oleh C, C akan menjadi jauh lebih membenci B daripada A membenci B. Padahal C tidak memiliki masalah dengan B. C akan menjadi malas bicara dengan B. Bisa jadi C akan jauh lebih menjelek-jelekkan B dibanding A. Dan parahnya lagi, ketika A sudah berbaikan dengan B, C akan sulit untuk berbaikan dengan B.

         Demikianlah begitu jahatnya gosip. Sekali pun mungkin A hanya sekedar ingin mencurahkan isi hatinya dan jika C menanggapi maka C akan terpengaruh oleh cerita si A dan akibatnya sungguh teramat buruk bagi si C. Tetapi berbeda jika C dapat menjaga hatinya dan sebaliknya C berusaha membuat agar A tidak marah lagi dengan B maka bisa saja situasinya tidak akan membuat C menjadi benci dengan B. Tetapi yang pasti kebanyakan yang terjadi adalah justru C yang tidak ada masalah apa-apa, justru C yang bisa membenci si B.

         Cerita tersebut di atas dapat dibuktikan sendiri atau dapat diingat bagaimana jika se-gerombolan murid SMP atau SMU suatu sekolah D misalnya yang sedang berkelahi dengan se-gerombolan murid sekolah E. Jika diselidiki, perkelahian tersebut sebenarnya yang terjadi adalah perkelahian antara seorang murid sekolah D dengan seorang murid sekolah E (jadi perkelahian oleh 2 orang murid), yang kemudian mereka bercerita dengan teman-teman se-gerombolannya dan akhirnya menjadi sama-sama emosi lalu terjadi pertengkaran besar. Dari cerita 1 orang saja, bisa menjadi pemicu pertengaran banyak orang. Padahal orang lain itu tidak ada masalah apa-apa antar satu dengan yang lain.

         Berhati-hatilah dengan gosip. Berhati-hatilah dengan lidah kita. Berhati-hatilah ketika kita membicarakan tentang orang lain. Di dalam kitab Wahyu dikatakan bahwa lidah yang sangat kecil dapat membakar seluruh isi hutan. Demikian pula perkataan atau kebiasaan yang suka membicarakan orang lain, dapat merugikan orang lain itu, bahkan merugikan banyak orang.

         Jika ada seorang teman yang melakukan kesalahan, adalah baik jika kita langsung mengajaknya bicara (menegur) atau dapat mencari 1 (satu) orang saja yang mungkin lebih dekat dengan teman itu. Tidak perlu kita mengatakan atau menceritakan kepada orang lain tentang keburukan teman kita.

         Seseorang yang memiliki pacar baru atau punya mobil baru atau hal lainnya, sama sekali bukan urusan kita untuk membicarakannya atau turut campur didalamnya atau bersenang-senang didalam membicarakannya. Masih banyak hal lainnya yang jauh lebih berguna atau lebih penting untuk dibicarakan atau untuk kita kerjakan. Lakukanlah segala sesuatu untuk Tuhan, karena segala sesuatu Tuhan berikan kepada kita untuk kemuliaanNya.

Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s