START FROM ZERO


Musuh kita terbesar adalah kesuksesan di masa lampau.

Success 

         “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku”

–Filipi 3:13-

Zero

         Seorang teman bercerita tentang seorang trainer di kantornya yang mengatakan bahwa setiap hari, kita harus berada pada posisi nol atau memulai dari bawah/nol. Dalam artian kita harus dapat melupakan kegagalan dan kesuksesan yang sudah kita alami sebelum-sebelumnya dan memulai hari itu pada posisi nol, dari bawah, atau tidak menggunakan cara yang lama meski pun mungkin cara tersebut telah membuat kita berhasil.

         Sebagai contoh, seorang sales, yang menawarkan barang ke seorang customer, dengan cara memberikan bukti-bukti nyata bahwa produknya tersebut baik. Oleh sales tersebut diberitahukan bahwa produknya berkualitas baik dan didatangkan dari luar negeri. Misalnya saja sales tersebut menjual sebuah bolpoin, untuk seorang customer tersebut, sales menjualnya dengan cara mempraktekkan bahwa bolpoin yang digunakan tidak akan macet sekali pun terjatuh. Hingga pada akhirnya customer berminat untuk membelinya. Dan seharian itu, sales mampu menjual produknya dalam jumlah yang sangat banyak, dengan cara menjual seperti yang telah dijelaskan tersebut di atas.

         Keesokan harinya, jika sales menjual produknya dengan cara menjual yang sama dengan hari sebelumnya, belum tentu sales tersebut mampu menjual dengan jumlah yang sama besarnya seperti sehari sebelumnya. Demikian juga hari-hari berikutnya, belum tentu dengan cara menjual yang sama akan membuat sales tersebut mampu menjual banyak bolpoin.

         Boleh-boleh saja jika seseorang ingin menggunakan metode atau cara yang sama, misalnya saja seperti cerita tersebut di atas, yaitu jika sales ingin menggunakan cara yang sama untuk menjual produknya setiap hari. Tetapi jangan sampai kesuksesan di hari-hari sebelumnya menjadi patokan bahwa ia akan sukses juga di hari-hari berikutnya. Karena dengan demikian ia akan menjadi sulit untuk maju.

         Mengapa? Karena ketika seseorang menjadi sukses oleh karena metode atau cara A, kemudian ia selalu berpatok atau terpaku hanya pada metode atau cara A itu saja, maka suatu hari, ia akan mengalami kegagalan ketika menggunakan metode atau cara A tersebut (tidak selamanya akan berhasil). Karena dalam segala sesuatu dikerjakan tidak selalu baik jika menggunakan metode atau cara yang sama. Kadangkala kita harus menggunakan metode atau cara yang lain agar berhasil.

         Dan yang menjadi persoalan yang menyebabkannya tidak bisa maju adalah jika ia tidak mempercayai metode atau cara lain, yang seharusnya mungkin lebih baik. Ia akan selalu mencoba metode atau cara A tersebut sekali pun ia telah mengalami kegagalan, karena merasa selalu berhasil jika menggunakan metode atau cara A tersebut.

         Kalimat yang mungkin lebih memudahkan untuk dimengerti: seseorang yang seperti demikian adalah seseorang yang sulit untuk belajar atau sulit menerima masukan atau pendapat dari orang lain yang belum tentu buruk.

         Telah dikatakan pada paragraph pertama bahwa musuh yang terbesar adalah kesuksesan di masa lampau, dalam artian kesuksesan di masa lampau kadangkala dapat membuat kita menjadi seorang yang gagal, tentu saja hal itu disebabkan jika kita hanya berpatok pada “dulu jika saya seperti begini, maka saya bisa sukses” atau “dari dulu saya menempuh jalan begini dan saya selalu berhasil”.

         Jadi apa yang harus dilakukan?

         Bagi seorang yang sakit, tidak boleh ada kalimat “dulu saya bisa jalan selama 2 jam tanpa lelah, sekarang saya tidak bisa karena nafas saya sesak” (dikatakan dengan nada yang memelas atau putus asa). Tetapi yang harus dikatakan adalah “dulu saya bisa jalan selama 2 jam tanpa lelah, tetapi saya bersyukur sekarang saya sakit, saya tidak bisa berjalan begitu lama dan masih ada banyak orang yang tidak pernah bisa berjalan lagi” (harus mengatakan sesuatu yang membangkitkan semangat dan penuh dengan ucapan syukur sekali pun kondisi tubuh sedang sakit).

         Bagi seorang yang bekerja, tidak boleh ada kalimat “dulu saya bekerja seperti ini, bos saya sudah sangat senang dan setiap tahun saya selalu memperoleh kenaikan gaji” (merasa cukup dengan apa yang sudah dilakukan). Tetapi yang harus dikatakan adalah “pekerjaan apalagi yang bisa saya kerjakan agar saya bisa lebih maksimal daripada dulu, karena saya mau maju dan belajar lebih banyak lagi” (berusaha untuk lebih maju dan mengerjakan sesuatu yang lebih baik).

         Bagi seorang yang sekolah atau kuliah, tidak boleh ada kalimat “dulu saya belajar selama 1 jam sudah mampu menjawab semua pertanyaan pada saat ujian” (sudah merasa puas dengan nilai 100). Tetapi yang harus dikatakan adalah “jika saya sudah mempelajari materi untuk ujian, maka saya akan mempelajari materi lain sebagai pengetahuan tambahan untuk saya agar saya menjadi semakin lebih pintar dan dapat mengajarkan pada teman-teman saya dan memberkati mereka” (memacu diri untuk menambah pengetahuan lebih lagi).

         Bagi seorang yang pelayanan, tidak boleh ada kalimat “begitu banyak orang yang sudah terkesan dengan pelayanan saya dan mendapatkan berkat” (sudah merasa puas dengan pelayanannya). Tetapi yang harus dikatakan adalah “saya ingin agar di mana pun saya berada, saya menjadi berkat dan Tuhan mengurapi saya lebih lagi. Apalagi yang bisa saya lakukan agar pelayanan saya lebih maju lagi?”. Kemudian berdoa dan berpuasa juga agar pelayanannya lebih berarti lagi dan menerima urapan yang lebih lagi dari Tuhan (semangat dan tidak jemu-jemu untuk mendekat lebih lagi dengan Tuhan).

         Jangan pernah berpatok pada kesuksesan atau kegagalan yang sudah pernah dialami, tetapi kita harus terus berkembang, terus maju, mengalami hal-hal yang baru setiap hari, dan terus menerus belajar sambil berdoa untuk memohon ide atau kreatifitas yang baru, karena Bapa kita adalah Bapa yang sangat kreatif, penuh dengan ide. Sehingga kita dapat melakukan sesuatu yang lebih baik setiap hari di mana pun kita berada. Dengan demikian, orang lain yang melihat kita sebagai seorang yang penuh semangat akan menjadi ikut semangat dan kita pun akan memberkatinya.

         Tulari orang lain yang ada di sekitar kita, teman-teman kita, keluarga kita dengan semangat yang baru, ide yang baru, kreatifitas yang baru, doa-doa yang baru, dan urapan yang baru setiap hari. Maka akan ada banyak orang yang bisa kita bawa semakin dekat dengan Tuhan. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s