TAAT DAN MELAYANI


Ada seorang anak kecil, yang bernama Rachel, pada bulan April 2008 nanti usianya 6 tahun. Rachel adalah seorang anak yang sangat lincah, suka berteman, ceria, dan sangat baik hati (namanya anak-anak, ada kalanya ia menjadi nakal). Baru-baru ini ia memiliki seorang adik laki-laki bernama Raphael.

         Karena masih beberapa hari melahirkan maka orang tua Rachel masih berada di rumah sakit (papa si Rachel menemani mamanya), maka dengan terpaksa dari siang hingga malam hari Rachel dititipkan ke rumah opa dan oma nya (orang tua dari mamanya Rachel).

         Tetapi pada suatu hari, opa dan oma nya sudah berencana pergi untuk membelikan Raphael (cucu kedua mereka) hadiah. Sehingga diputuskan untuk mengajak Rachel juga. Seperti biasa, Rachel diberitahu terlebih dahulu agar ia tidak nakal, harus menurut, dan sebagainya. Dan Rachel seperti biasa juga selalu bertanya mereka hendak ke mana dan untuk apa. Setelah diberitahu, Rachel pun berjanji untuk tidak nakal dan nurut.

         Sesampainya di toko, benar Ia tidak nakal. Ia membantu oma nya untuk memilihkan hadiah untuk adiknya, Raphael. Dan ketika hendak makan siang, omanya bertanya pada Rachel “Rachel mau makan apa?”. Rachel yang menggemari mie, dengan segera ia menjawab kalau ia mau mie.

         Dalam perjalanan menuju penjual mie, kembali opa dan omanya bepesan “Rachel harus makan dengan baik dan dihabiskan ya?”. Rachel mengganggukkan kepalanya. Dan benar, ketika makanan sudah dipesan dan datang, Rachel pun makan dengan lahap dan dihabiskan. Bukan karena lapar, tetapi Rachel memang menepati janjinya untuk tidak cerewet, tidak nakal, dan menghabiskan makanannya dengan baik.

         Setelah itu, mereka semua menuju perjalanan pulang. Di dalam mobil, opa dan oma kembali berpesan “karena sudah siang, Rachel harus segera tidur ya sesampainya di rumah”. Rachel pun berjanji untuk langsung tidur siang. Dan benar, sesampainya di rumah, Ia langsung cuci tangan, ganti baju, bermain sebentar, kemudian langsung tidur siang.

         Hari itu, Rachel benar-benar menunjukkan bahwa ia menepati semua janjinya. Rachel sungguh manis dan tidak merepotkan hari itu, sehingga opa dan omanya sangat senang melihatnya. Bahkan sebelum pulang mereka menawarkan juga kepada Rachel, apa yang diinginkannya. Hati opa dan omanya gembira karena Rachel sungguh manis hari itu sehingga jika Rachel ingin membeli sesuatu, maka mereka tidak segan-segan akan membelikannya, dengan kata lain ingin memberikan hadiah atas sikapnya yang taat. Hanya saja Rachel tidak minta apa-apa hari itu.

         Dan sampai pada malam hari, papanya menjemput dia untuk pulang rumah. Hari itu, Rachel melalui hari nya bersama opa dan omanya dengan hati yang gembira, meski pun ia sedih karena mamanya masih harus tinggal di rumah sakit beberapa hari untuk di rawat, tetapi ia sudah membuktikan bahwa meski pun hatinya sedih, dia tetap ingin menyenangkan opa dan omanya dengan cara menjadi anak yang taat.

         Ada 2 (dua) hal yang bisa dipelajari dari kejadian tersebut. Yang pertama, jika kita bersama anak kecil, kemudian anak kecil itu taat, bersikap manis selama bersama kita, maka kita akan merasa sangat tidak keberatan jika suatu hari anak kecil itu bersama kita lagi, bahkan jika bisa kita ingin memberikan apa pun yang diinginkannya sebagai hati dan untuk menyenangkan hatinya.

         Demikian juga Bapa kita di surga, Bapa akan sangat gembira jika kita menjadi anak-anak yang taat dan menjadi anak yang manis. Di dalam alkitab salah satu syarat agar doa kita terjawab adalah kita harus menjadi anak-anak yang taat. Mengapa? Karena ketika kita taat dan menjadi anak yang manis, maka Bapa yang di surga, tidak segan-segan untuk memberikan apa pun yang kita minta. HatiNya tidak akan diam ketika kita mendapat kesulitan dan membutuhkan sesuatu, pastilah Bapa akan segera mencukupkan kita bahkan melebihi dari apa pun yang kita minta.

         Kemudian pelajaran yang kedua adalah meski pun hati kita sedih, kita mendapat masalah, seharusnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersukacita. Boleh saja bersedih hati, tetapi sikap kita sebagai anak-anak Tuhan, seharusnya bisa menunjukkan sikap percaya kita kepada Bapa bahwa Dia yang akan memegang kendali atas masalah kita itu dengan sikap yang bisa bersukacita.

         Selain itu, masalah tidak boleh menghalangi kita untuk menyenangkan hati Bapa melalui banyak cara, seperti Rachel yang bersedih karena tidak bisa bersama mamanya sementara waktu, tapi ia berusaha untuk menyenangkan hati opa dan omanya dengan menjadi anak yang manis pada hari itu, demikian juga jika kita sedang ada masalah, kita tetap harus bisa menyenangkan hati Bapa kita dengan sikap-sikap yang bijaksana, tetap melayani, tetap berdoa, dan membaca Firman Tuhan, bukannya malah lari ke pub atau ke hal lain yang tidak baik.

         Kembali bersikap taat atas kehendak Bapa dan menyenangkan hatiNya setiap hari adalah sikap yang bijaksana sebagai seorang anak yang tidak pernah bisa berjalan sendiri tanpa tuntunanNya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s