YANG PALING…DAN YANG TER…


SombongPada suatu hari mendengar percakapan seorang Kemudi dan seorang Toli Toli sebagai berikut

“ Dia itu sekarang sombong, karena suda pakai mobil baru, dia tidak menyapaku lagi” ujar si Kemudi

Mungkin saja dia tidak melihatmu?” jawab si Toli Toli

Kemudian untuk mengelak, si Kemudi menjawab lagi “pastilah dia melihatku, jarak kita tidak terlalu jauh kok”

Dan beberapa hari kemudian ketika si Kemudi berdiskusi dengan HRDnya,

“Apa tidak sebaiknya pekerjaan ini diberikan untuk orang tersebut pak Kemudi? Karena menurut saya melalui pengamatan saya selama ini, dia sepertinya lebih berpontensi di bidang tersebut” saran HRD dengan nama yang tidak menggurui.

Tanpa menjawab apa-apa dan dengan sangat jengkelnya, Kemudi kemudian bercerita kepada Toli Toli

“dasar HRD sombong, mentang-mentang sekolah di luar negeri, memberikan komentar dengan gaya yang sok!!!”

Toli Toli kembali berujar “mungkin dia hanya sekedar memberikan saran”

Agar tidak merasa kalah dan bersalah, maka Kemudi menjawab “aku tidak membutuhkan sarannya”

         Demikianlah sebuah kisah, yang mungkin dapat atau pernah terjadi di antara kita. Kisah seseorang yang selalu ingin dibenarkan, seseorang yang iri hati, seseorang yang tinggi hati, seseorang yang selalu merasa dirinya ter…atau paling…entah terbaik atau paling baik.

         Mengapa kita bisa menjadi seorang yang dibenarkan?

         Sebenarnya adalah hal yang manusiawi jika seseorang selalu menginginkan di posisi yang benar. Oleh karenanya ada suatu badan hukum. Agar di dunia ini, yang jahat bisa dihukum dan yang benar bisa memperoleh pembelaan. Tetapi apa yang terjadi? Semua manusia akhirnya selalu ingin dibenarkan, hingga yang terjadi adalah yang salah pun dapat dibenarkan oleh karena uang/duit. Dan akhirnya, karena manusia sering menyalahgunakan keadilan, sering bersikap tidak adil pada sesamanya hanya oleh karena sifat egois dan semena-mena sehingga selalu ingin dibenarkan, maka keadilan akhirnya dikembalikan lagi ke tangan Tuhan. Dan jika kita sudah hidup didalam Tuhan, maka kita pun harus mampu bersikap lebih bijaksana, adil, dan tidak memfitnah sesama.

         Mengapa kita bisa merasa iri hati?

         Karena kita ingin selalu menjadi yang terbaik dan ternyata ada orang lain yang terlihat lebih dari kita, maka kita bisa menjadi iri hati. Untuk mengatasi hal tersebut, maka satu hal perlu kita ingat bahwa setiap manusia, tidak terkecuali siapa pun juga dia, meski pun seorang itu terlahir cacat, bahwa Tuhan memberikan kelebihan dan kekurangan bagi kita semua. Tidak ada seorang pun yang lebih dari seorang yang lain, hanya saja tergantung bagaimana cara kita menggunakan kelebihan tersebut untuk kemuliaanNya. Karena semuanya diberikan kepada kita dan harus dikembalikan lagi kepadaNya. Dan dari sudut pandang mana kita melihat kelebihan orang lain, jika kita memandangnya ebagai suatu persaingan bagi kita, maka akibatnya kita bisa menjadi iri hati.

         Mengapa kita bisa menjadi seorang yang tinggi hati?

         Karena kita merasa bahwa orang lain ada di bawah kita dan perlu kita sadari bahwa pikiran yang seperti itu, sangat berbahaya. Kesombongan adalah dosa yang tidak terlihat, bahkan tanpa kita sadari kita sudah menjadi sombong atau tinggi hati. Adakalanya kita harus mengakui kelebihan yang dimiliki oleh orang lain dan adakalanya kita perlu belajar untuk memuji orang lain, karena dengan demikian, hal itu melatih kita untuk menjadi seorang yang tidak tinggi hati. Tidak ada salahnya kita minta maaf terlebih dahulu. Karena seseorang yang tinggi hati akan sulit untuk meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Bapa kita adalah Bapa yang rendah hati. Dia turun ke dunia, untuk direndahkan, dicaci maki, difitnah, dicerca, semuanya dilakukanNya untuk menebus dosa kita. Oleh karenanya, sebagai anak-anakNya, kita harus memiliki sikap yang rendah hati juga.

         Karena kita merasa yang paling…, yang ter…, maka kita tidak mau disalahkan, kita akan mudah iri hati jika ada seorang yang serasa memiliki kemampuan lebih dari kita, dan akibatnya kita dapat menjadi tinggi hati.

         Lihatlah, betapa berbahayanya satu dosa, satu karakter yang buruk, satu kebiasaan yang buruk, satu sifat yang buruk, dapat membuat suatu dosa yang sangat besar dan berkepanjangan. Kita dapat menjadi seorang yang sangat jahat hanya oleh karena kita merasa bahwa kita adalah orang yang paling…entah paling baik, paling pintar, paling bisa, paling rohani, atau paling-paling lainnya.

         Bapa kita adalah Bapa yang paling…dan ter…tetapi Dia mengajarkan kepada kita, anak-anakNya agar tidak menjadi seorang yang mudah iri hati dan sombong. Dan Bapa kita adalah teladan yang terbaik. Maka kita harus menaatiNya agar kita juga dapat menjadi teladan bagi orang-orang yang belum mengenalNya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s