Akankah Kita Berkompromi Lagi?


             Saya hanya memiliki seorang saudara kandung, yaitu kakak saya perempuan, yang sudah memiliki 2 (dua) orang anak perempuan dan yang satu lagi seorang laki-laki. Jika hendak berlibur atau bepergian, tentu saja, kebanyakan saya pergi dengan kakak saya (walaupun tak jarang pula saya pergi bersama teman-teman saya).

            Sekali pun saya sering pergi dan keluar makan bersama kakak saya dan ponakan-ponakan saya, tetapi baru sekali itu saya mendapatkan sesuatu hal ketika saya pergi keluar makan malam dengan mereka.

            Suatu hari saya melihat Rachel atau Raphael, keponakan saya itu, jika sudah merasa kenyang, apa pun yang terjadi, walau pun hanya tinggal satu sendok suapan saja, mereka tetap akan menolak dan tidak akan berkompromi untuk mau makan satu sendok suapan itu.

            Demikian pula mamanya, yang adalah kakak saya. Sepotong tempe goreng yang kecil (kurang lebih mungkin hanya 3×3 cm ukurannya), masih diseparuh lagi, hanya karena dia sudah merasa kenyang dan sudah tidak bisa makan separuhnya lagi.

            Kadang-kadang saya juga melihat teman-teman saya yang wanita, jika mereka sudah kenyang, walau hanya tinggal sebagian kecil saja makanan, maka mereka tidak akan mau makan lagi. Entah karena takut gemuk atau karena apa. Sehingga saya cukup merasa tidak habis pikir dengan tindakan-tindakan mereka (mungkin saja karena pikiran-pikiran merasa sayang jika makanan dibuang itulah yang membuat saya akhirnya memiliki badan yang gemuk).

            Sampai pada suatu waktu itulah, ketika saya melihat kakak saya dan anak-anaknya tidak bisa menghabiskan makanan yang tinggal sedikit, saya merenungkan: “kenapa sih mereka sampai tidak mampu menghabiskan? Kenapa sih mereka tidak mau kompromi sedikit saja? Kan hanya tinggal sepotong, hanya tinggal sedikit saja, dimakan saja satu kali lahap kan beres?”

            Tanpa menemukan jawabannya, saya tiba-tiba diingatkan bahwa mungkin pada saat terakhir kita menghadap ke Tuhan dan di waktu-waktu penghakiman atas semua tindakan kita nanti, Tuhan juga tidak bisa berkompromi sedikit pun atas dosa-dosa kita.

            Suatu hari teman saya, yang juga adalah kakak rohani saya bercerita tentang suatu kesaksian. Ada seorang pendeta yang sama Tuhan diajak ke surga. Dan sesampainya di surga, pendeta ini tidak mau kembali lagi karena merasa begitu nyaman dan enak di sana, sampai-sampai dia tidak mau lagi ke dunia ini.

            Tetapi Tuhan berkata bahwa pendeta itu tidak boleh masuk ke surga. Pendeta itu bingung dan bertanya “mengapa?”. Tuhan menjawab bahwa masih ada yang harus dibereskannya di dunia ini. Pendeta itu bingung dan ‘membela’ dirinya: “bukankah saya sudah memberitakan injil ke mana-mana? Bukankah saya sudah membawa ribuan jiwa untuk Tuhan? Bukankah saya selalu berbuat baik dengan sesama?…(dan seterusnya)”

            Ternyata Tuhan berkata bahwa ada sakit hati yang belum diselesaikannya. Tuhan mengingatkan suatu kejadian kepada pendeta itu, yang ternyata kejadiannya sudah sangat amat lama sekali, bahkan pendeta ini pun sudah benar-benar lupa pada peristiwa itu.

            Dan singkat cerita, pendeta ini pun akhirnya harus kembali ke dunia untuk menyelesaikan sakit hati nya, agar dia bisa benar-benar masuk ke surga.

            Sakit hati adalah salah satu dosa yang tak terampuni. Masih untung pendeta itu diberi Tuhan kesempatan untuk kembali ke dunia dan membereskan kesalahannya. Bagaimana jika kita sudah berada dihadapan Tuhan dan tidak punya kesempatan lagi untuk memperbaikinya?

            Mungkin seperti saya tadi yang berkata kepada kakak saya dan ponakan-ponakan saya: “halah…makanan cuma tinggal sepotong saja, masa sih tidak bisa menghabiskan?”, maka kita mungkin bisa juga berkata kepada Tuhan: “Tuhan, sakit hati atau dosaku itu kan sudah sangat lama, saya saja sudah lupa, masa Tuhan tidak ampuni? Sakit hati dan dosaku kan hanya kecil itu saja?”

Kompromi            Seringkali kita berkompromi dengan satu atau dua hal yang mungkin menurut kita adalah kesalahan kecil, tetapi kenyataannya, bagi Tuhan ternyata dosa itu tidak bisa dikompromikan. Tuhan berkata kepada pendeta itu bahwa dia benar-benar harus kembali dan menyelesaikan sakit hatinya. Dan mungkin apa yang kita anggap dosa kecil, bagi Tuhan nantinya dosa tetaplah dosa dan tetap tidak bisa diterima olehNYA. Kalau sudah seperti itu, kita bisa berkata apa dengan Tuhan?

            “Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah…Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang diantara kamu, demikian pula segala kejahatan” (Efesus 4:30-31)

            Tersebut diatas dikatakan bahwa hal apa pun yang mendukakan Roh Kudus, dan sakit hati yang akhirnya menimbulkan kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, dan fitnah, serta kejahatan, itu juga sangat dibenci oleh Tuhan.

            Dan kalau Tuhan sudah sangat membenci, berarti DIA tidak akan pernah bisa berkompromi. Seperti kita, jika kita sudah tidak suka terhadap sesuatu, tidak bisa terhadap sesuatu, entah makanan sesedikit apa pun kita tidak berkompromi karena sudah kenyang, maka kita pun dapat dengan mudah mengerti bahwa DIA pun tidak akan pernah bisa berkompromi dengan dosa-dosa yang dibenciNYA.

            Jadi jangan merasa Tuhan ‘pelit’, Tuhan ‘jahat’, dan sebagainya jika suatu hari nanti kita ditolakNYA karena kita telah melakukan sesuatu hal yang sangat dibenciNYA.

            Jika kita tidak ingin ditolak atau disingkirkanNYA atau tidak ingin tidak dikenali olehNYA, maka menjadilah pelaku Firman. Kenali DIA, cari tahu apa yang DIA inginkan, lakukan itu! Kita hidup untuk DIA, maka kita harus membuktikan bahwa kita benar-benar bisa melakukan apa yang menjadi kesukaanNYA, apa yang DIA mau untuk kita lakukan.

            Jangan kita menyimpan sakit hati yang ujung-ujungnya juga sangat merugikan diri kita sendiri! Jangan kita menyakiti atau mendukakan Roh Kudus! Karena ujung-ujung dari semuanya itu (kedua hal itu) adalah dosa-dosa yang berkepanjangan (kemarahan, kegeraman, pertikaian, dan lain-lain yang telah disebutkan didalam Efesus 4:30-31).

Biarlah hidup kita dipimpin dan senantiasa diperbaharui oleh kasih karuniaNYA saja!

“Ampuni kami Tuhan, jika kami telah melakukan hal-hal yang menyakiti hatiMU. Kiranya Kau tunjukkan pada kami, apa saja yang harus kami bereskan di dunia ini, agar jangan sampai kami mengalami penolakan daripadaMU. Amin”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s