Banyak Bicara, Banyak Yang Dapat Diketahui Darinya


Kita lebih mudah mengenal seseorang yang banyak bicara dan berekspresi daripada seseorang yang pendiam.

Talkative

         Benar atau tidak?

         Seseorang yang pendiam sulit sekali untuk diketahui apa yang sedang dipikirkannya, apa yang diinginkannya (jika ditambah seseorang itu memiliki sifat yang tertutup), dan apa yang ada dihatinya. Sebaliknya jika seseorang itu ‘rame’, dalam arti bicaranya banyak, ber-ekspresi yang berlebihan, maka akan segera diketahui bagaimana seseorang itu menilai seseorang yang lain, sedikit banyak kita akan mengetahui bagaimana sifat dan karakternya, dan bisa-bisa mudah diketahui juga kelemahannya, seperti misalnya ‘kurang pandai’ atau ‘kurang cerdas’ didalam ‘menangkap’ pembicaraan orang lain…dan akhirnya bisa ditertawai.

         Seseorang yang pendiam belum tentu baik untuk diajak bertukar pikiran atau dapat menjaga rahasia dengan baik dan belum tentu ia juga seseorang yang ‘pintar’, jangan-jangan karena terlalu diam akhirnya tidak mengerti apa-apa (karena malas atau malu bertanya jika ada yang tidak mengerti dalam pelajaran di sekolah misalnya). Tetapi ada ‘baiknya’ juga, karena meski pun seseorang itu tidak mengerti atau tidak bisa (bodoh), maka yang mengetahui mungkin hanya sedikit, karena dia tidak banyak bicara, sehingga orang lain tidak mudah mengetahui “bagaimana seseorang ini sebenarnya?”

         Tetapi jika seseorang itu banyak bicara, maka akan mudah diketahui oleh orang lain ‘kebodohan’nya. Ingat pepatah “tong kosong nyaring bunyinya”

Seperti pada pembicaraan berikut:

“Wah…kamu cantik sekali…bener lho…aku tidak hanya nge-cap (asal bicara atau asal memuji)” kata Retha kepada Aurel.

Aurel sambil tersenyum dengan rendah hati menjwab “terima kasih”

(Tak lama kemudian Retha dengan suaranya yang keras, menyapa semua teman-temannya yang datang di pesta ulang tahun Dion)

“Hai…wah…manis sekali kamu malam ini…bener lho ini aku bilangnya, tidak asal memuji” kata Retha

Amel yang mendengar sangat senang berujar “terima kasih, kamu juga cantik Retha”

“Terima kasih” jawab Retha.

(demikianlah Retha terus menerus berkeliling dan tak henti-hentinya memuji dan selalu diakhiri dengan kalimat “…bener lho…saya tulus…saya tidak asal nge-cap…saya tidak asal memuji…” dst).

Hingga di suatu acara permainan ada sebuah quiz yang menawarkan sejumlah uang Rp 100.000,- (seratus ribu rupiah) bagi yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Retha dengan suara nya yang lantang “wah…jangan-jangan palsu uangnya” (celetuk-an yang tidak penting sebenarnya)

Tetapi Mr.MC (pembawa acara) tidak mendengar (karena begitu jauh jarak Retha berteriak dengan panggung) dan melanjutkan memberikan pertanyaan. Dan ternyata Holi (seorang teman) dapat menjawabnya dengan tepat dan menerima hadiah tersebut.

Karena rasa ingin tahu dan kebiasaannya untuk ‘menarik perhatian’ serta selalu berbicara dengan ‘heboh’nya, maka Retha mendekati Holi dan berikut pembicaraan mereka:

Retha “eh…eh…emang asli ya uangnya?”

Holi “iya donk…masa palsu?”

Retha “emang tadi pertanyaannya apa sih?” (à sudah terlihat kalau tidak menyimak dan hanya sibuk bicara sendiri)

Holi “oh…itu…MC nya tadi bertanya kenal atau tidak dengan yang berulang tahun?”

Retha “Dion bukan?”

Holi “Iya bener”

Retha “Gitu saja kok ditanyakan?”

(Retha kemudian melanjutkan) “trus…trus…emang kamu deket ya sama Dion? Cakep lho itu anak…mirip orang Jepang yah…? Holi kamu sama dia saja” (Retha tak henti mengajukan beberapa pertanyaan tanpa memberi kesempatan Holi menjawab, entah apakah Retha benar-benar membutuhkan jawaban ataukah hanya sekedar iseng bertanya)

Holi hanya tersenyum.

Retha (memaksa) “Gimana…gimana menurutmu tentang Dion?”

Holi “kita hanya berteman”

Retha “Tapi cakep kan? Putih kan?” (kelihatannya Retha yang menyukai si Dion)

(Karena Holi diam saja kemudian Retha kembali bertanya hal yang lain)

Retha “Trus…MC nya hanya bertanya begitu? Kok aneh? Pertanyaan yang tidak berguna, gitu saja dapat hadiah duit”

(pertanyaan yang aneh bukan? Seharusnya tidak perlu dipertanyakan karena terserah saja ingin mengajukan pertanyaan apa dari pembawa acara, sekali pun mungkin itu pertanyaan kurang bermutu, bukankah si pembuat acara sudah memberikan wewenang tersebut?)

Holi “Oh…kemudian si MC menanyakan Dion itu umur berapa?”

Retha “emang umur berapa?” (kelihatan sekali kalau tidak menyimak, karena pada acara ulang tahun, MC pastinya sudah mengumumkan berulang kali acara yang Dion adakan, misalnya kalau berulang tahun, tentu saja diumumkan juga ulang tahun yang ke-berapa)

         Demikianlah pembicaraan yang hanya sekedar sebagai contoh bagi kita semua bahwa seseorang yang terlalu banyak bicara akan terlihat betapa bodohnya seseorang itu atau bagaimana sifat/karakter/kebiasaannya.

         Bukan salah seseorang jika ia dilahirkan menjadi seorang yang cerewet, pendiam, atau biasa-biasa saja. Semua hal terjadi bukan suatu kebetulan. Tetapi jika seseorang itu bersikap terlalu berlebihan, entah untuk menarik perhatian lawan jenis atau sekedar agar orang memperhatikannya dengan menjadi terlalu ‘hyperactive’, maka itu hanya akan merugikan dirinya sendiri, karena orang lain akan memiliki image atau pendangan yang ‘kurang’ terhadap seseorang yang bersikap berlebihan seperti itu (termasuk lawan jenis akan merasa ‘ngeri’ untuk berdekatan dengan wanita yang bersikap terlalu ‘ramai’ dan demikian pula sebaliknya).

         Tuhan menciptakan kita semua dengan beraneka ragam karakter, tetapi bagaimana kita mempertahankan sikap atau karakter yang baik, serta tidak bersikap yang terlalu berlebihan, dan juga terus menerus berusaha untuk mengubah sifat yang tidak baik menjadi yang lebih baik itu adalah yang paling penting.

         Jangan merasa puas dengan karakter yang ada sekarang, karena tidak ada manusia yang sempurna, semuanya memiliki kekurangan, tetapi bagaimana kita mengisinya dengan hal-hal yang baik setiap hari (belajar secara terus menerus untuk menjadi lebih baik selalu), sehingga kita pada akhirnya menjadi manusia yang sempurna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s