IRI HATI


Iri hati          Liu dan Kia adalah 2 (dua) orang yang bersahabat sangat dekat sejak mereka masih duduk di bangku TK (Taman Kanak-Kanak). Mereka berasal dari keluarga yang sama-sama cukup, dibesarkan oleh kedua orang tua yang baik hati. Pendidikan mereka juga berasal dari sekolah yang sama. Mereka selalu bermain dan belajar bersama. Hanya saja kadangkala mereka tidak 1 (satu) kelas. Tetapi pada saat jam istirahat, mereka pasti akan bermain bersama.

         Mereka adalah sahabat yang tidak eksklusif, dalam arti tidak terus menerus berdua, tetapi mereka sama-sama suka berteman dan pergi beramai-ramai dengan teman-teman yang lain. Hanya saja, jika mereka perlu curhat (curahan hati), jika berbagi masalah yang benar-benar pribadi dalam cerita, mereka hanya membaginya berdua. Secara fisik, Liu terlihat lebih menarik dibandingkan dengan Kia. Selain itu, Liu juga yang paling sering memperoleh nilai yang lebih baik di sekolahnya di banding Kia. Hanya saja, mereka terlihat sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu.

         Meski pun mereka berdua bersahabat dan cocok satu dengan yang lain, tetapi minat mereka untuk melanjutkan study di universitas berbeda. Liu lebih menyukai di bidang teknik dan Kia lebih menyukai di bidang Hukum. Tetapi mereka tetap ada bersama di satu universitas di kotanya.

         Namun, karena mereka berada di 2 (dua) fakultas yang berbeda, maka tugas-tugas yang mereka peroleh pasti berbeda dan selain itu jam kuliah mereka juga berbeda sehingga kadangkala mereka tidak bisa terus bersama-sama. Apalagi ketika mereka berada di tingkat semester yang semakin tinggi, maka mereka semakin jarang bertemu. Sekali-kali saja mereka janjian pergi ke mall atau keluar makan bersama.

         Suatu hari ketika jam makan siang, Kia yang sedang seorang diri, melihat seorang pria yang berpostur tubuh tinggi, berkulit warna coklat (tidak hitam dan tidak putih), dan sangat keren menurut Kia. Sejak saat itu, diam-diam Kia mencari tahu tentang cowok tersebut karena ia menyukainya (naksir). Setelah beberapa hari lamanya, akhirnya Kia mengetahui bahwa cowok tersebut bernama Joe, mahasiswa Fakultas Ekonomi, dan dia ada kakak kelas (berbeda 1 angkatan di atas Kia). Tetapi oleh karena masih belum bisa mendekati pria tersebut, maka Kia tidak berani menceritakan ke Liu.

         Pada semester akhir, Liu dan Kia sama-sama sibuk menyelesaikan tugas akhirnya. Mereka tidak sempat lagi bersama-sama, hingga akhirnya mereka lulus dan di wisuda.

         Setelah lulus, Liu tidak berminat untuk melanjutkan ke jenjang S2 tetapi Liu berniat untuk mencari pengalaman bekerja di tempat lain, sebelum bekerja di perusahaan ayahnya. Sedangkan Kia berminat untuk melanjutkan study nya ke jenjang S2 di luar negeri.

         Singkat cerita, setelah 2 tahun lamanya, Kia yang sudah menyelesaikan study nya di USA itu, memutuskan untuk pulang kembali ke kota asalnya di Bandung dan kemudian akan melanjutkan usaha ayahnya.

         2 tahun lamanya ternyata membawa perubahan yang sangat banyak. Hubungan Kia dan Liu dapat dibilang tidak terlalu dekat, tetapi mereka tetap menjalin hubungan melalui email dan telepon sesekali. Hingga suatu hari Kia menerima undangan pernikahan Liu dengan seorang pria yang tidak asing bagi Kia.

         Begitu terkejutnya Kia ketika Liu memperkenalkan Joe, calon suaminya itu, yang ternyata adalah pria yang di taksir oleh Kia beberapa tahun yang lalu, ketika dilihatnya saat makan siang. Kia sungguh sangat menyukai pria tersebut, bahkan ketika di USA, Kia pun berusaha untuk terus menghubungi pria tersebut. Tetapi pria tersebut tidak pernah menyebut-nyebut tentang Liu sebagai calon istrinya.

         Kia sangat kecewa, menangis dan pergi meninggalkan Liu dan Joe berdua yang sedang kebingungan karena tidak mengerti atas sikap Kia. Liu dan Joe tidak dapat menghubungi Kia hingga di hari pernikahan mereka. Bahkan ketika Liu sudah memiliki seorang anak pun, Kia tidak lagi mau dihubungi oleh Liu.

         Suatu hari akhirnya Kia bercerita kepada orang tuanya, ternyata Kia sangat iri hati dengan segala keberhasilan yang dimiliki oleh Liu. Di sekolah Liu sangat pandai, Liu juga sangat cantik sehingga banyak teman pria yang menyukainya. Dan yang terakhir yang membuat Kia tidak tahan lagi adalah pria yang disukai Kia pun menjadi suami bagi Liu.

         Rasa iri hati yang begitu dalam membuat Kia tidak mau lagi bersahabat dengan Liu (persahabatan menjadi hancur). Rasa iri di hati Kia membuat kebencian yang begitu membara. Itu artinya selama Kia bersahabat dengan Liu, tanpa atau dengan disadari oleh Kia, Kia sudah menaruh bibit rasa iri hati itu. Sehingga masalah yang sebenarnya hanya karena miscommunication atau tidak ada keterbukaan antara Kia dan Liu tentang Joe, yang dikiranya mungkin hanya masalah kecil, berdampak sangat besar. Mungkin saja hal itu berdampak kepahitan di hati Kia. Dan itu sungguh-sungguh merugikannya.

         -Amsal 14:30- Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang

         Seringkali tanpa atau dengan kita sadari, kita sudah meletakkan bibit rasa iri di hati kita. Misalkan saja sahabat atau orang terdekat kita yang selalu sukses, selalu memperoleh ranking di sekolah, menjadi kaya (banyak duit), punya mobil baru, punya rumah baru, punya pacar, atau punya suami terlebih dahulu, dan masih ada banyak hal lainnya lagi hal yang dapat membuat kita iri hati.

         Jika kita tidak benar-benar ikhlas menerima ‘kesuksesan’ orang lain, maka suatu hari, ketika ada sesuatu yang baik yang kita inginkan ternyata diambil oleh orang lain itu, maka hati kita yang tadinya ‘berteman’ dengannya, akan berubah drastis menjadi benci yang sangat mendalam.

         Iri hati itu juga sangat berbahaya, oleh karenanya di alkitab dituliskan bahwa iri hati itu membusukkan tulang. Iri hati dapat berakibat macam-macam, misalnya saja permusuhan dengan sahabat sendiri;,bahkan tidak jarang iri hati membuat permusuhan antar keluarga; oleh sebab itu juga orang tua sebaiknya jangan sampai membeda-bedakan anak-anaknya.

         Iri hati juga dapat membuat seseorang menyakiti sesamanya, misalnya saja dengan sikap-sikap yang berusaha untuk menyainginya, contoh kasus jika cerita Kia dan Liu tersebut di atas di lanjutkan, bisa sama Kia terus menerus berusaha bersaing dalam masalah bisnis dengan Liu. Liu sebagai sahabat yang sangat mengasihi Kia, dia mungkin tidak akan curiga jika Kia ingin menjatuhkannya, sehingga dalam bekerja sama Liu sering memberinya toleransi, padahal akhirnya dapat membuat Liu sendiri menjadi rugi, entah karena di fitnah oleh Kia atau kejahatan apa pun dapat dilakukan oleh Kia karena iri hatinya berdampak sakit hati yang teramat dalam di hati Kia.

         Contoh lain, jika seseorang mengatakan “ah…dia sudah punya mobil, makanya dia sekarang sombong”, maka dapat di cek dalam hatinya, sesungguhnya dia sudah merasa iri karena orang lain punya mobil baru.

         Yah…demikianlah kebenaran Firman Tuhan, bahwa iri hati dapat membusukkan tulang, jadi sebaiknya jagai hati kita dari rasa iri terhadap apa yang dimiliki atau yang diperoleh oleh orang lain. Karena setiap orang mendapatkan apa yang ditabur dan diusahakannya, dan selain itu juga Tuhan memberkati masing-masing orang sesuai dengan kapasitasnya. Jadi kembali lagi…kita harus senantiasa mengucap syukur.

         Ketika seseorang memperoleh sesuatu yang baik atau mencapai suatu keberhasilan, dan hati sudah mulai menjadi iri, maka mulailah untuk menarik nafas dalam-dalam, paksakan diri untuk bersyukur mengucapkan terima kasih kepada Tuhan karena segala hal yang sudah Dia berikan kepada kita selama ini dan ucapkan selamat kepada orang tersebut dengan senyuman serta hati yang tulus. Jikalau kita ingin menjadi berhasil dan mendapatkan yang baik juga, maka berdoa dan berusahalah dengan cara yang baik untuk mencapainya.

         Tuhan memberkati.

         

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s