Jangan Sampai Tuhan Memaksa Kita!


Seseorang yang ‘berpangkat’ lebih tinggi, diukur dari usia, kedudukan, pengalaman, dan banyak hal lagi lainnya, boleh kita sebut namanya sebagai bapak To, suatu hari memanggil seorang anaknya, yang kita panggil saja namanya Dio.

            Pak To mengatakan bahwa dia sangat mengharapkan dan mengandalkan Dio. Dia berharap Dio bisa menggantikan posisinya dan berharap bisa selalu membanggakan Dio.

            Kalau kita menjadi Dio apa yang kita pikirkan? Apakah hal itu menjadi suatu beban untuk kita? Ataukah suatu kebanggaan tersendiri jika bisa menjadi seseorang yang sangat dipercaya dan diandalkan oleh orang yang memiliki posisi diatas kita?

            Dio akhirnya hanya memilih untuk mendengarkan pak To berbicara dan hanya diam serta merenungkan apa saja yang dikatakan oleh pak To.

            Dio bukan seorang yang berperingai buruk dan bukan seorang yang suka memanfaatkan kepercayaan dan keberadaannya dimata pak To, dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain. Jadi setelah itu, Dio hanya berusaha untuk melakukan yang terbaik.

            Sampai suatu ketika Dio diberi penawaran untuk bekerja disuatu perusahaan di luar negeri. Dio ingat bahwa sebelum Dio dipanggil dan diberitahu oleh pak To bahwa dia adalah harapan satu-satunya bagi pak To, Dio pernah berdoa agar dia bisa mendapatkan kesempatan untuk bekerja di luar negeri dan dengan berbagai kriteria yang Dio minta ke Tuhan.

            Dan ternyata pada hari itu, doa yang dipanjatkan oleh Dio Tuhan jawab. Tentu saja jika Tuhan jawab, itu berarti DIA memandang bahwa doa Dio itu baik dan DIA berkenan.

            Singkat cerita akhirnya Dio mengatakan dan pamit kepada pak To bahwa ia akan pindah ke luar negeri, ke perusahaan lain, yang bukan merupakan perusahaan yang dikelola oleh pak To.

            Pak To sangat terkejut dan memohon-mohon kepada Dio agar dia tidak pindah ke luar negeri, lagi-lagi dia mengatakan bahwa Dio adalah harapannya untuk menggantikan posisinya dikemudian hari dan sebagainya.

            Tetapi Dio telah melihat ‘prospek’ lain, yang memang adalah cita-citanya Dio untuk bekerja di luar negeri dan semua kriteria juga sudah Tuhan jawab, masa sekarang Dio harus menolak tawaran itu hanya karena merasa harus mengikuti pak To, untuk memenuhi harapan pak To terhadap dirinya?

            Akhirnya pak To meninggal karena serangan jantung, karena dia benar-benar memaksakan kehendaknya agar Dio menuruti apa yang diinginkannya, tetapi Dio tidak mau.

            Mungkin sebagian pembaca berpikir: “lho kan enak, jadi ahli waris, nanti juga pasti bisa ke luar negeri?”, sebagian lagi mungkin juga akan berpikir: “yah, kalau sudah cita-cita dan merupakan jawaban doa, sebaiknya dijalani saja”. Dan mungkin akan ada pendapat-pendapat lainnya.

            Kisah tersebut diatas hanyalah salah satu contoh kisah saja, yang mengisahkan tentang harapan seseorang terhadap seseorang lainnya. Harapan manusia terhadap manusia lainnya. Dan seringkali dari harapan-harapan itu, akhirnya timbul ‘pemaksaan’ agar orang lain (yang adalah seseorang yang diharapkan) itu harus memenuhi apa yang diinginkannya.

Apakah kita lupa bahwa Tuhan itu memiliki rencana-rencana secara pribadi kepada masing-masing anakNya?

            Beberapa pendapat mengatakan bahwa anak adalah titipan Tuhan kepada orang tua. Tetapi realitanya, tak sedikit orang tua yang ‘memaksakan’ kehendaknya terhadap anaknya, karena terdapat unsur-unsur ‘harapan’.

            Satu hal yang perlu diingat bahwa tidak ada seorang pun yang menginginkan sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya sendiri. Dan tak seorang anak pun yang ingin melihat orang tuanya menderita atau kecewa.

            Terbukti bahwa ada begitu banyak anak di dunia ini yang sekolah dan berusaha untuk menjadi yang terbaik, semuanya itu dilakukannya pasti agar ia tidak ingin mengecewakan orang tuanya.

            Tetapi dilain sisi, Tuhan punya rencana yang jauh lebih indah pada seseorang itu. Kadangkala anak dipakai Tuhan ‘seolah-olah’ tidak bisa memenuhi apa yang menjadi harapan orang tuanya atau kadangkala anak diijinkan Tuhan untuk mengecewakan orang tuanya, tetapi semuanya itu Tuhan ijinkan terjadi pasti ada maksud yang indah. Tuhan mungkin akan memproses anak itu sendiri atau yang sering tak disadari adalah Tuhan sebenarnya ingin memproses orang tuanya.

            Mungkin ada ego-ego orang tua yang ingin Tuhan kikis. Mungkin ada kepahitan-kepahitan atau sakit hati yang harus dibereskan. Mungkin ada hal-hal yang tidak benar dan tidak layak di mata Tuhan yang harus diselesaikan.

            Tuhan pasti akan menjawab doa pribadi seseorang jika memang hal itu dikehendakiNYA, tetapi Tuhan itu Maha Pintar bukan? Kadangkala ada jawaban-jawaban doa yang memenuhi semua kriteria yang disebutkan dari doa yang dipanjatkan, sehingga kadangkala jawaban doa kita itu tidak pas persis sesuai dengan harapan kita.

Tangan Berdoa            Contohnya saja seorang ibu berdoa menginginkan anaknya cantik, putih, tinggi, dan baik hati, tetapi ibu itu lupa tidak berdoa agar anaknya tidak berambut lurus misalnya, padahal keinginan ibu itu sebenarnya ingin punya anak yang berambut agak berombak. Dan akhirnya Tuhan jawab semua kriteria tersebut tetapi Tuhan beri seorang anak dengan rambut lurus.

Lalu apakah ibu itu bisa protes sama Tuhan? Bukankah Tuhan Maha Tahu? Tuhan sebenarnya pasti tahu bahwa ibu itu ingin punya anak berambut agak berombak, tetapi kadangkala Tuhan tidak memberikannya, bukan berdasarkan karena ibu itu lupa mendoakannya, tetapi mungkin saja jika ibu itu diberikan anak yang benar-benar sempurna seperti yang diinginkannya, maka ibu itu akan menjadi sombong, lupa kepada Tuhan, dan sebagainya.

            Intinya: yang pertama adalah jangan sekali-sekali kita berharap kepada manusia karena manusia bisa sangat amat mengecewakan kita. Kedua, jangan menekan seseorang atau memaksakan kehendak kita kepada seseorang, karena kita telah meletakkan harapan kita itu kepadanya. Ketiga, sadarilah bahwa Tuhan itu punya rencana-rencana yang terbaik untuk setiap kita anak-anakNYA. Tidak akan pernah diberikan sesuatu yang buruk pada kita (Matius 7:9 “Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti”).

            Dan satu peringatan yang mungkin akan mengingatkan kita bersama: jangan sampai, karena kita berkeras hati, memaksakan kehendak kita kepada orang lain yang kepadanya telah kita letakkan harapan kita, akhirnya kita lupa bahwa Tuhan itu berdaulat.

Karena Tuhan juga bisa memaksa kita untuk mengikuti rencanaNYA, dengan caraNYA agar pada akhirnya kita mau ‘merelakan’ atau ‘mengikhlaskan’ sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi terhadap orang lain. Misalnya saja kita bisa sampai dibuat sakit lumpuh atau buta atau bisu seperti cerita ayah Yohanes Pembaptis yang tidak percaya ketika mendengar berita bahwa istrinya sedang mengandung.

            Kita tidak mau Tuhan paksa bukan?

Tuhan itu baik. Tuhan itu sempurna. DIA tahu apa saja yang terbaik untuk anak-anakNYA. Dan apa pun yang direncanakanNYA pasti akan berhasil dan DIA, melakukan semua hal untuk kita, yang pasti adalah untuk mendatangkan kebaikan buat kita (Roma 8:28). Jadi jangan pernah berkeras hati dan memaksakan kehendak kita sendiri, karena kita tidak tahu, apa dibalik semua hal yang diijinkanNYA terjadi itu.

Ijinkan DIA, menyatakan kemuliaanNYA didalam hidup kita, dengan caraNYA. Biarlah dalam setiap perjuangan hidup kita, bertujuan untuk memuliakan Tuhan, bukan bertujuan untuk memenuhi ego dan keinginan kita saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s