Perlunya ‘Kehadiran’


Lalu sampailah Yesus dan murid-muridNYA ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Kata Yesus kepada murid-muridNYA: “Duduklah di sini, sementara AKU berdoa.” Dan IA membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes sertaNYA. IA sangat tajut dan gentar, lalu kataNYA kepada mereka: “HatiKU sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini, dan berjaga-jagalah.” IA maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa…Setelah itu IA datang kembali, dan mendapati ketiganya sedang tidur. Dan IA berkata kepada Petrus: “Simon, sedang tidurkah engkau? Tidakkah engkau sanggup berjaga-jaga satu jam?…” Lalu IA pergi lagi…Dan ketika IA kembali pula, IA mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat dan mereka tidak tahu jawab apa yang harus mereka berikan kepadaNYA. Kemudian IA kembali untuk ketiga kalinya dan berkata kepada mereka: “Tidurlah sekarang dan istirahatlah…”

(Markus 14:32-42; Matius 26:36-46; Lukas 22:39-46)

Yesus Di Taman Getsemani

            Suatu hari, ketika saya membaca Firman tersebut diatas, saya merenungkan dan membayangkan seolah-olah saya yang ‘menjadi seperti’ Tuhan Yesus, yang mana pada suatu waktu saya mengalami kesulitan yang sangat berat dan saya memerlukan teman. Paling tidak bagi saya, yang sedang mengalami masalah yang sangat berat, teman bisa membuat saya merasa lebih tenang dan lebih kuat.

            Karena masalah tersebut, akhirnya saya tidak bisa tidur hingga tengah malam, dan saya akhirnya datang kepada teman saya dan berkata: “tolong doakan saya…satu jam saja, tolong temani saya…jangan tidur dan jangan melakukan apa pun juga, hanya tolong doakan saya saja”.

            Sebagai seorang teman, mungkin teman saya akan mengatakan: “iya Lia, saya akan berada disini, satu jam, untuk kamu, dan saya akan berdoa untuk kamu”.

            Tetapi berhubung mungkin pada waktu itu, sudah tengah malam, bahkan menjelang subuh, teman saya merasa sangat lelah dan akhirnya tanpa saya sadari, dia sedang tidur terlelap.

            Apa yang mungkin saya rasakan?

            Saya berpikir dan menjawab dalam hati: mungkin saya akan merasa kecewa, saya mungkin akan menjadi lebih sedih, dan saya mungkin akan lebih down.

            Di satu sisi, saya bisa mengerti, saya datang ketika waktu sudah menunjukkan hampir pagi (subuh), masih untung saya tidak dimarahi teman saya karena telah mengganggu tidurnya, tetapi sebaliknya dilain sisi, saya benar-benar merasa sangat memerlukan bantuan dan kehadiran seorang teman.

            Kalau keadaan misalnya dibalik, jika ada seorang teman yang memerlukan saya diwaktu subuh, hanya satu jam saja, berdoa untuk dia, karena dia sedang mengalami kesusahan, apakah yang akan saya lakukan? (mungkin bisa menjadi suatu perenungan bagaimana jika hal ini terjadi juga pada bapak, ibu, atau saudara/i semuanya?).

            Saya jadi ingat, saya sangat terberkati sekali dengan kehadiran seorang teman, yang sekaligus adalah seorang kakak, di rumah sakit, pada waktu mami saya sakit. Pk03.00 (tiga) pagi, dia datang ke rumah sakit seorang diri, hanya karena saya menelponnya dan mengatakan bahwa saya benar-benar memerlukan seorang teman, untuk menemani saya karena tidak seorang pun bisa menemani saya waktu itu.

            Mami baru saja habis mengalami kejang yang cukup berat, dan saya sungguh tidak kuat dan tidak berani jika harus seorang diri menemani mami saya (saya benar-benar trauma).

            Dan tanpa melakukan penawaran apa pun juga, teman saya ini datang dan dia sama sekali tidak langsung tidur, tetapi dia justru menyuruh saya untuk tidur, bahkan (mungkin) dengan hikmat Tuhan, dia bisa mengerti apa yang mami mau, karena setelah kejang, mami tidak bisa mengucapkan dengan benar apa yang ada dipikirannya dan apa yang diinginkannya.

            Ketika saya menuliskan hal ini pun saya masih sangat terharu. Karena sungguh sikap yang tidak pernah saya duga. Bahkan suaminya, mengijinkannya untuk pergi dan segera menemani saya. Dan dia pun punya 2 (dua) orang anak yang masih kecil, dan dia tinggalkan untuk menemani saya.

            Bapak, ibu, dan saudara/i yang saya kasihi, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi satu detik, satu menit, satu jam, satu hari, satu bulan, satu tahun, dan bahkan tahun-tahun berikutnya. Tidak akan pernah ada yang mengetahui apa yang akan terjadi didepan.

            Saya yakin sekali, jika murid-murid Tuhan Yesus mengetahui bahwa Tuhan Yesus akan disiksa dan akan dibunuh, maka mereka yang sangat mengasihi DIA akan merelakan waktunya, bahkan mungkin tidak hanya satu jam, berjam-jam pun mereka akan rela.

            Seperti pada film ADA APA DENGAN CINTA, dalam salah satu adegannya, jika Cinta mengetahui bahwa teman baiknya akan berusaha bunuh diri, maka dia pasti akan menyediakan waktunya untuk temannya itu.

            Saat-saat sekarang ini, jarang sekali seseorang bersedia meluangkan waktunya untuk orang lain, oleh karena berbagai kesibukan dan hal-hal yang benar-benar membuat kita sibuk dan tidak punya waktu lagi untuk orang lain.

            Tak jarang kita mengeluh dan marah, karena merasa terganggu oleh orang lain.

            Saya sungguh sangat bersyukur, karena sampai pada saat mami berhenti bernafas untuk selama-lamanya, saya hampir tidak pernah beranjak dari sisi mami. Sekali pun saya merasa lelah, capek, dan ada rasa jengkel karena saya tidak mengerti sampai kapan mami akan terbaring seperti itu, saya pun tidak pernah bisa mengerti apa yang mami saya rasakan dan apa yang mami mau. Tetapi entah kekuatan dari mana, saya akhirnya bisa terus berada disisi mami saya.

            Bahkan saya yang sudah hampir selalu berada didekat mami itu saja, sampai detik ini, masih sering ada penyesalan-penyesalan yang timbul di hati dan pikiran saya, yang takkan pernah bisa saya perbaiki lagi.

            Jadi bagaimana untuk selanjutnya?

            Mari kita sama-sama berusaha untuk bisa ‘menikmati’ kehidupan orang lain, dalam arti bisa berada disisi orang-orang yang kita kasihi, khususnya apabila mereka-mereka itu membutuhkan pertolongan dan kehadiran kita.

            Kadangkala tidak bisa 100% kita bisa selalu hadir bagi orang lain. Tuhan memang yang Maha Hadir dan selalu ada dengan kita semua kapan pun kita mau. Tetapi jika memang kita bisa memaksimalkan kehadiran kita bagi orang lain. Lakukan itu! Dukungan, kehadiran, dan doa-doa kita itu pasti sangat amat berguna sekali bagi mereka-mereka yang memerlukan.

            Dan sebaliknya, jika kita memerlukan kehadiran orang lain, maka satu hal yang bisa saya katakan bahwa manusia tidak akan pernah bisa diandalkan, hanya DIA, Tuhan yang Maha Hadir itu yang bisa kita andalkan. Tetapi bukan berarti kita tidak boleh minta tolong, hanya saja, jangan sampai merasa kecewa yang berlarut-larut dengan seseorang! Mengertilah bahwa setiap orang punya kesulitannya masing-masing, jadi bersabar, dan miliki hati yang besar, yang tidak mendendam dan tidak menyimpan kejengkelan.

            Waktu itu sangat berharga…lakukanlah apa yang bisa kita lakukan dengan sebaik-baiknya! Dan berilah apa yang bisa kita berikan dengan ikhlas dan setulus hati kita!

            Tuhan Yesus memberkati!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s