Menjadi Kitab Yang Terbuka


         Sebuah perusahaan bernama Hula-Hula yang begitu terkenal mengalami suatu masalah didalamnya. Seorang pekerja yang bernama Lola awalnya begitu semangat dan berambisi ingin bisa bekerja di perusahan tersebut, yang kemudian akhirnya di terima dengan salary atau pendapatan awal yang lebih tinggi dibandingkan dengan kantornya yang lama.

         Setelah setahun lamanya, Lola baru menyadari bahwa perusahaan yang tampak dari luar bagus dan dikagumi orang sehingga begitu banyak pelamar yang sangat berharap bisa diterima di perusahaan tersebut, ternyata tidak mampu memberinya salary lebih dari yang dia harapkan, yang mana seharusnya tiap tahun ada review (peningkatan), tetapi sebaliknya Lola tidak memperoleh kabar sedikit pun apakah performance nya memang kurang sehingga tidak ada peningkatan salary atau apa yang sebenarnya terjadi, tidak ada kejelasan dari perusahaan.

         Lola begitu kecewa dan akhirnya ia memutuskan untuk mencari pekerjaan lain.

         Tak hanya perusahan yang dapat mengalami hal seperti itu…ada banyak hal yang tampak dari luar baik, belum tentu didalamnya baik. Ada seseorang yang kelihatannya baik-baik saja, tetapi keluarganya hancur dan begitu banyak masalah yang dihadapinya yang sangat berat sekali. Buah-buah yang kita beli bisa saja tampak ranum, enak dan manis kelihatannya, tetapi ketika dikupas ternyata busuk dan banyak ulat.

         Tak jarang juga gereja mengalami hal demikian, kelihatannya baik-baik saja, jemaatnya bertumbuh, gedungnya bagus, dan ‘nyaman’, tetapi didalamnya bisa saja terjadi berbagai hal, entah itu pertikaian, masalah financial, struktur organisasi yang kacau, atau hal buruk lainnya mungkin saja bisa terjadi (siapa yang tahu?).

         Tetapi jika hal-hal ‘busuk’ atau hal-hal buruk itu diketahui, hanya saja akan menimbulkan kekecewaan bagi orang lain. Orang lain mungkin memiliki ekspektasi atau harapan yang tinggi terhadap sesuatu yang kelihatannya baik, tetapi ketika mengetahui bahwa hal yang baik itu busuk didalamnya, maka pasti seseorang akan kecewa ketika melihatnya, apalagi jika ia langsung mengalami sendiri, misalnya sudah sangat kepingin makan apel dan sisa uang itu dipergunakan untuk membeli, ternyata apelnya busuk, pastilah akhirnya akan merasa kecewa.

         Segala sesuatu tidak ada yang kebetulan. Berbagai hal terjadi untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihiNya. Jika hal-hal tersebut di atas terjadi pada diri seseorang, pastilah semua ada maksudNya yang baik, entah untuk memproses seseorang itu, entah untuk menegur seseorang itu, atau mungkin saja hanya sebagai pengalaman yang berharga yang mungkin dapat menjadi kesaksian pada waktu yang tepat.

         Adalah hak bagi setiap orang, perusahaan atau suatu organisasi untuk merahasiakan masalah didalamnya, karena tidak setiap hal menjadi masalah milik umum atau orang banyak. Tetapi alangkah baiknya jika pada akhirnya hal itu tidak menjadi sumber kekecewaan yang luar biasa bagi orang lain.

         Misalkan saja jika ada seorang pelamar yang melamar suatu pekerjaan di suatu perusahaan (menyambung cerita tersebut di atas), pada awal interview apabila pelamar menanyakan tentang kenaikan atau review salary, maka interviewer (yang meng-interview) sebaiknya tidak sampai menjanjikan bahwa dalam setahun salarynya akan di review. Atau bisa saja diungkapkan secara halus, bagaimana caranya agar pelamar tidak sampai berharap banyak dan pada akhirnya tidak dikecewakan.

         Contoh lain, jangan buru-buru bersikap angkuh, ‘bergaya’, dan lain-lain, jika tidak seperti demikian kenyataannya. Misal seseorang berpura-pura menjadi kaya, dandanan mungkin memang ok, sombong sekali gaya bicaranya (terlalu tinggi kata-kata atau kalimat-kalimatnya/sok banget), kemudian ditambah suka merendahkan orang lain, padahal sesungguhnya ia bukanlah seseorang yang kaya dan hanya untuk menutup-nutupi dan agar diterima oleh teman-temannya akhirnya ia bersikap demikian, maka hal itu akan membuat dirinya sendiri bisa direndahkan dan teman-temannya akan menjadi sangat kecewa juga.

         Mengapa harus mengecewakan orang lain jika hal tersebut sebenarnya ‘tidak penting’ untuk dilakukan? Mengapa harus mengatakan ‘hal-hal yang baik’ atau berpura-pura baik, jika keadaan yang sesungguhnya tidak seperti itu? Bukan berarti kita harus selalu bersikap apa adanya tanpa memikirkan perasaan orang lain, tetapi kita harus belajar untuk bisa membaca situasi dan kondisi serta berusaha agar jangan sampai karena perbuatan kita yang berpura-pura itu akhirnya hanya mengecewakan orang lain saja.

Bible         Tuhan sendiri memberikan teladan kepada kita untuk tidak selalu mengecewakan kita, dengan memenuhi semua janjiNya dan bersikap apa adanya, terbukti dengan cerita didalam alkitab pada saat orang banyak berjualan didalam gereja, Ia tidak segan-segan marah. Sekali pun Ia adalah Tuhan yang Maha Baik, Ia tidak berpura-pura baik dan sabar ketika melihat sesuatu yang tidak baik. Ia adalah Tuhan yang apa adanya, Ia menjadi Sosok yang terbuka (menjadi Kitab yang terbuka) yang sampai detik ini, semua umatNya di muka bumi ini dapat membaca dan berusaha untuk mengenaliNya.

         Berbuat baik atau bersikap baik tidak sama dengan berpura-pura baik atau ‘mencari muka’, itu sangat jauh berbeda. Sekali pun kadangkala ada begitu banyak orang yang mudah tertipu dan tidak dapat membedakan yang mana yang benar dan mana yang berpura-pura. Tuhan itu Maha Tahu, segala perbuatan kita akan ada ganjarannya. Jika kita mengecewakan orang lain dengan menutupi hal-hal yang pada akhirnya akan membuat orang lain kecewa, maka suatu saat, kita juga akan dikecewakan juga.

         Sebagai gereja Tuhan (tubuh kita yang adalah bait Allah), alangkah baik jika kita menjadi kitab yang terbuka, yang dapat memberkati banyak orang dengan kehidupan kita, baik dan buruk kita dapat menjadi berkat bagi orang lain, sebab ketika kita telah yakin melekat padaNya, maka hidup kita akan menjadi serupa denganNya yang telah menjadi Kitab yang terbuka itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s