“I am sorry”


SorryAda seseorang bernama Jamaidun, nama panggilannya adalah si Idun, berasal dari sebuah kota kecil, namun ia tinggal seorang diri, karena seluruh saudaranya merantau ke kota besar dengan harapan dapat menjadi orang kaya. Namun si Idun memutuskan untuk tetap tinggal karena ia tidak ingin meninggalkan atau menjual rumah peninggalan orang tuanya.

            Si Idun jadi jengkel dan kecewa terhadap saudara-saudaranya karena telah meninggalkannya sendiri dan menganggap sadauara-saudaranya tidak menghargai peninggalan orang tuanya. Selain itu, si Idun adalah seseorang yang pernah mengalami sakit hati yang disebabkan oleh calon istrinya yang tiba-tiba meninggalkannya karena ada pria lain yang lebih kaya. Dan ditambah lagi saudara-saudaranya juga sering menghina, merendahkan, dan menyakiti dirinya dan juga orang lain karena mereka angkuh, sehingga tidak ada seorang pun yang berani dekat dengan keluarga si Idun sepeninggal orang tua mereka. Sepertinya tidak ada seorang pun yang dapat mendengarkan isi hati si Idun sehingga sakit hati di simpan sendiri oleh si Idun.

            Karena kekecewaan itu, si Idun akhirnya bekerja sangat keras, tanpa ‘berniat’ untuk bersosialisasi dengan sekitarnya karena orang sudah beranggapan negatif tentang dirinya. Si Idun bekerja dari pagi sampai larut malam dan sesekali saja si Idun ikut teman-temannya pergi berlibur pada hari Sabtu atau hari Minggu sepulang dari gereja. Si Idun hanya memiliki tidak lebih dari 2 (dua) orang teman saja yang dekat dengannya, yang benar-benar bisa menerima dia apa adanya (dengan segala kekurangannya).

            Sakit hati yang Idun simpan lambat laun menyebabkan ia mengalami ‘kekeringan rohani’ sehingga sekali pun si Idun menerima firman, tetap saja firman itu tidak dapat tumbuh dengan subur, seperti tanaman yang ditanam di tanah yang kering, tanaman itu tidak akan dapat tumbuh dengan subur. Dan hal itu menyebabkan si Idun tidak dapat memiliki hati yang baik atau tidak dapat bersosialisasi dengan baik. Si Idun sering sekali menyakiti orang-orang sekitarnya melalui kata-kata mau pun perbuatan. Akibatnya, menjadi begitu banyak orang yang disakiti si Idun, sehingga semakin tidak ada orang yang berani dekat-dekat karena takut disakiti dan semakin yakin bahwa anggapan mereka tentang si Idun yang sama seperti saudara-saudaranya itu benar.

            Kerja kerasnya untuk menjadi orang kaya sekali pun di kota kecil nya itu, membuahkan hasil. Sekali pun si Idun tidak menjadi konglomerat, tetapi si Idun dapat membeli apa saja yang diinginkannya. Maklum saja, si Idun hidup sendiri, jadi uangnya sangatlah cukup untuk dirinya sendiri. Namun sayangnya, hal itu membuat si Idun menjadi angkuh, sombong, tidak punya rasa terima kasih, sulit sekali untuk meminta maaf karena merasa dirinya paling benar, paling pintar, paling kaya, mudah tersinggung, mudah iri hati, dan suka ikut campur urusan orang lain sehingga merasa dirinya paling dibutuhkan tetapi jika sarannya tidak diterima, maka si Idun akan menjadi marah (pokoknya si Idun menjadi sangat menjengkelkan sekali).

            Tidak selamanya orang yang memiliki peringai buruk itu selalu menjengkelkan, demikian juga si Idun, kadangkala dia juga bisa berbicara baik-baik dengan orang lain, tetapi di tengah-tengah pembicaraannya, jika ada sesuatu yang menyinggung dirinya, maka ia tidak akan segan-segan membuat orang itu tersakiti kembali (dibalas lebih parah).

            Seorang pendeta di gerejanya memberitahukan si Idun agar dapat melepaskan pengampunan. Sebenarnya si Idun adalah seseorang yang berhati baik dan tidak sama seperti saudara-saudaranya, ia sangat rendah hati, sehingga pada saat pendeta itu memberitahukan segala kebenaran pada si Idun, si Idun mengingatnya dan meletakkannya di hati, serta ingin dapat melakukannya. Dan untuk selanjutnya menjadi masalah pribadi si Idun dengan Tuhan saja. Karena melepaskan pengampunan tidaklah dapat dipaksakan, sekali pun hal itu merupakan keharusan.

            Sampai pada saatNya, pendeta yang cukup mengenal si Idun, memberinya kesempatan untuk meminta maaf kepada seluruh jemaat, yang sekaligus mewakili seluruh keluarganya, orang tua, dan saudara-saudaranya yang telah banyak menyakiti hati jemaat. Maklum saja, tempat si Idun berbakti adalah sebuah gereja kecil dan karena sejak orang tua si Idun masih ada, mereka sudah berbakti di sana, sehingga jemaat sangat mengenal mereka.

            Bagaimana jika kita memiliki teman seperti si Idun? Pastinya kita tidak akan mau berteman dengannya. “Buat apa dekat-dekat? Bikin sakit hati saja” demikian kalimat-kalimat yang akan terlontarkan.

            Begitu banyak artikel atau nasehat berisikan tentang bagaimana seseorang harus dapat mengampuni, seseorang harus mengerti orang lain, dan sebagainya. Begitu sering yang terdengar oleh kita adalah nasehat agar seseorang dapat melepaskan pengampunan. Namun ada hal yang juga tak kalah pentingnya selain melepaskan pengampunan terhadap orang yang menyakiti kita, yaitu meminta maaf karena kita telah menyakiti orang lain atau telah berbuat salah.

            Ada sebuah survey yang mengatakan bahwa kalimat yang paling sulit diucapkan oleh seseorang adalah “thank you (terima kasih)”, “sorry (minta maaf)”, dan “I love you (saya mengasihi kamu)”.

            Manusia itu tidak sempurna (nobody perfect). Tidak semua manusia itu baik. Sekali pun ada seseorang yang mengatakan “dia itu sangat baik”, “dia itu sangat suka membantu”, “dia itu supel”,” dia itu sangat loyal (setia)”, “dia itu orangnya royal (suka memberi)”, “dia itu seseorang yang lemah lembut”, dan sebagainya, tetapi pasti seseorang yang dikatakan baik itu memiliki kekurangan/kelemahan. Ia tidak akan 100% adalah seseorang yang benar-benar baik.

            Demikian juga kita semua sekali pun kita sebagai anak-anak Tuhan harus dapat mengakui bahwa diri kita ini tidak sempurna, kita punya kelemahan, kita punya kekurangan, kita punya sifat yang sangat buruk, kita pernah berkelakukan yang tidak baik, dan kita pernah dan bisa sekali berbuat salah. Pengakuan itu harus ada. Bukannya untuk melemahkan atau membuat kita menjadi rendah diri, melainkan untuk memudahkan kita berkata dengan tegas dan berbesar hati “ya saya telah bersalah dan saya minta maaf”.

            Si Idun dalam cerita di atas itu ada dalam kenyataan kehidupan ini. Ada banyak Idun didalam diri orang-orang di sekitar kita. Tetapi jangan salah…didalam diri kita secara pribadi juga ada sifat-sifat atau sikap-sikap Idun. Mungkin tidak sama persis, tetapi ada satu atau lebih sifat atau sikap Idun yang ada pada kita. Dan sifat atau sikap itu tentunya ada yang membuat orang lain ‘tidak puas’ atau tidak suka dengan kita.

            Sakit hati atau dosa itu dapat dimiliki oleh setiap orang, sekali pun seseorang itu sangat rohani. Karena setiap manusia di muka bumi ini tidak akan ada satu pun yang lolos dari yang namanya disakiti atau dikecewakan atau perbuatan dosa/salah. Dan sakit hati atau dosa sekecil apa pun itu dapat meracuni karakter atau sifat baik yang Tuhan berikan didalam diri kita. Karena itulah mengapa kita perlu untuk sering-sering ‘memurnikan hati’/’membersihkan hati’.

            Memurnikan hati atau membersihkan hati adalah melepaskan pengampunan untuk orang yang menyakiti kita. Lalu bagaimana kalau kita yang menyakiti orang lain? Ada banyak jawaban mengenai pertanyaan tersebut, tentunya disebabkan oleh adanya berbagai macam sifat manusia. Yaitu: bagi orang yang gentleman dan memang menyadari bahwa dirinya bersalah, ia tidak akan segan-segan langsung minta maaf. Tanpa beralasan ini atau pun itu. Namun sayangnya, jarang sekali seseorang berbuat demikian kalau tidak terpaksa.

Karakter lainnya dapat terjadi seseorang itu meminta maaf karena sudah tidak dapat menyangkal bahwa dirinya tidak bersalah. Atau cara lain yang dapat dilakukan oleh seseorang yang ‘keberatan’ untuk minta maaf adalah setelah meminta maaf, kemudian ia berusaha mencari kesalahan orang lain juga, seperti contohnya “ya, saya minta maaf karena saya bersalah, tetapi anda juga salah lho…kenapa waktu itu anda berbuat…(begini begitu)”. Hal itu sama saja dengan mengatakan bahwa sebenarnya ia tidak bersalah, tetapi anda yang bersalah. Sehingga permintaan maaf itu dilontarkan hanya bertujuan untuk menyatakan bahwa dirinya seolah-olah baik.

Atau karakter atau kebiasaan lain dari seseorang adalah memberikan berbagai macam dalih atau alasan untuk membenarkan dirinya agar tidak salahkan, sehingga bila perlu orang lain yang meminta maaf, bukan dirinya. Dan ada berbagai macam cara lainnya untuk menghindari kata “sorry” atau “minta maaf karena saya bersalah tetapi…sebenarnya…anda yang bersalah”.

Entah mengapa permintaan maaf itu sangat berat. Mungkinkah disebabkan karena Tuhan Yesus tidak pernah meminta maaf sehingga tidak ada ‘teladan’ yang memberikan contoh kepada kita untuk tidak segan-segan mengatakan minta maaf jika telah bersalah? Ataukah karena ada sifat-sifat yang sombong atau ego manusia yang menyebabkan seseorang sulit untuk meminta maaf?

Satu hal yang sangat penting sekali dan perlu diingat benar-benar yaitu bahwa Tuhan Yesus tidak perlu memberikan teladan mengenai cara meminta maaf karena diriNya tidak pernah bersalah. IA selalu mengatakan hal yang benar dan IA tidak pernah ingkar janji.

Justru salah satu hal yang perlu dilakukan seseorang ketika memurnikan hati atau membersihkan hati adalah meminta maaf atau memohon ampun atas segala dosa (kesombongan, iri hati, bahkan karena telah menyimpan sakit hati, dan sebagainya) kepada Tuhan Yesus!

Demikian pula jika kita bersalah terhadap sesama, maka kita harus meminta maaf, karena manusia ini milik Tuhan, jika seorang manusia itu disakiti, maka itu berarti juga menyakiti hati Tuhan. Jadi permintaan maaf tidak hanya ditujukan kepada Tuhan, tetapi juga antar sesama umat manusia.

Meminta maaf bukan berarti menghancurkan harga diri kita, tetapi meminta maaf adalah salah satu cara untuk memurnikan hati kita, dari segala kesombongan, keangkuhan, sakit hati, dan iri hati.

Perlu ditanamkan dalam pola pikir kita bahwa meminta maaf tidak akan membuat kita jadi rendah diri. Rendah diri itu terjadi karena orang lain menganggap kita yang meminta maaf adalah seseorang yang mudah disepelekan/rendah. Padahal justru orang-orang yang mau meminta maaf adalah orang-orang yang patut disegani dan dihormati, karena orang-orang itu memiliki jiwa besar, hati yang besar, yaitu hati yang mau menanggung akibat dari kesalahannya, bukannya malah bersembunyi. Dan sebaliknya, jika ada seseorang yang merendahkan seseorang yang telah meminta maaf, maka ia adalah seseorang yang sangat jahat dan justru harus direndahkan.

Kita sebagai anak-anak Tuhan harus memiliki jiwa besar yang mau memaafkan dan dapat meminta maaf. Karena Tuhan sangat mengasihi anak-anakNya yang dapat berbesar hati. Jangan segan-segan meminta maaf jika melakukan kesalahan. Dan jangan mencari-cari alasan untuk membenarkan diri karena waktu yang akan menyatakan kebenaran itu. Tentunya diperlukan sikap yang dewasa dan bijaksana untuk mengetahui kapan harus menjelaskan sesuatu, kapan harus membela diri, dan kapan harus minta maaf.

Pada akhirnya, si Idun dalam cerita tersebut di atas, telah melakukan bagiannya untuk melepaskan pengampunan, membereskan hatinya dengan Tuhan, dan meminta maaf atas semua kesalahannya (bahkan) sekaligus mewakili seluruh keluarganya untuk meminta maaf juga kepada jemaat, lalu bagaimana dengan kita? Akankah kita berani meminta maaf atas setiap kesalahan kita?

Tuhan Yesus memberkati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s