Fitnah


FitnahSemua orang mengetahui bahwa fitnah sangat berbahaya dan jahat. Fitnah dapat membunuh seseorang yang di fitnah. Namun kadangkala untuk membela dan menyelamatkan dirinya sendiri, seseorang tidak segan-segan memfitnah orang lain.

            Seorang paman bernama Cariomasaiki (baca=kariomasaiki), biasa dipanggil paman Rio, sudah terbiasa dengan kebohongan-kebohongannya dan sebagai laki-laki ia dapat dikatakan sebagai laki-laki yang tidak gentle/tidak berani mengakui kesalahannya, selalu ada saja cara untuk membela dirinya sekali pun itu harus memfitnah orang lain, termasuk istrinya sendiri yang biasa dipanggil bibi Ina, dengan nama panjang Veina.

            Pada suatu hari ketika ada acara keluarga, paman Rio meminta sumbangan dari saudara-saudaranya dengan alasan ingin membangun suatu usaha. Namun saudara-saudaranya bertanya mengapa ia harus meminta-minta, padahal orang tua mereka mewariskan hartanya secara merata dan jika ia dapat mengelolanya dengan baik, maka ia tidak perlu meminta-minta sekarang ini.

            Karena kebingungan oleh pertanyaan yang tak dapat dijawabnya, akhirnya paman Rio mengatakan bahwa istrinya, yaitu bibi Ina yang menghabiskan seluruh hartanya dengan hidup berfoya-foya. Oleh karena itu, semua saudara paman Rio akhirnya sangat membenci bibi Ina dan menuduh bibi Ina adalah pencuri, perampok, dan sebagainya.

            Bibi Ina yang tidak tahu menahu tentang harta paman Rio, menjadi sangat sedih. Padahal sejak awal pernikahannya bibi Ina bekerja dan berusaha untuk mencari uang sendiri, ia tidak pernah memperoleh uang belanja dari paman Rio. Bibi Ina membiayai hidupnya sendiri, membeli pakaian dan perhiasan dari hasil keringatnya sendiri. Tetapi paman Rio tiba-tiba bisa mengatakan kepada saudara-saudaranya bahwa bibi Ina berfoya-foya menggunakan uang paman Rio.

            Sejak itu, bibi Ina berusaha terus bekerja, menjajakan kue dan apa pun diusahakannya untuk memperoleh uang tambahan untuk memberi anak-anaknya uang saku dan menyenangkan mereka. Paman Rio tidak suka, ia beranggapan istri dan anak-anaknya sudah cukup diberi makan di rumah dan bisa sekolah, tidak perlu ke mall atau bersenang-senang karena mereka bukan orang kaya.

            Namun bibi Ina mengabaikan perkataan paman Rio, bukan untuk melawan paman Rio sebagai suami, tetapi bibi Ina ingin agar anak-anak juga bisa bersenang-senang, punya teman, dan berkembang, asalkan tidak membahayakan anak-anaknya itu. Sehingga bibi Ina bekerja untuk mengusahakan kehidupan anak-anaknya selain makanan di rumah dan biaya sekolah. Makanan di rumah pun tak jarang bibi Ina yang memenuhinya, karena paman Rio sering pergi dengan alasan bekerja, padahal tak ada uang sepersen pun yang diberikan kepada bibi Ina.

            Cerita tersebut sepertinya terlalu berlebihan, tetapi pada realita kehidupan ini, ada kehidupan keluarga yang seperti demikian. Memang benar paman Rio tidak 100% lepas tangan dalam hal tanggung jawab membiayai keluarganya. Paman Rio dapat menyekolahkan anak-anaknya sampai pada pendidikan sarjana S-2 dan kadang kala ia memberi uang kepada bibi Ina untuk belanja di pasar dan beli sesuatu untuk camilan di rumahnya. Paman Rio juga tidak lupa membayar tagihan listrik, air, dan sebagainya sekali pun pada saat-saat tertentu, paman Rio sering pergi meninggalkan rumah jika dirasa akan didatangi oleh petugas PDAM atau penagih lainnya tetapi ia sedang tak mempunyai uang, sehingga bibi Ina yang membayarkan tagihan tersebut.

Bibi Ina berjuang hidup demi anak-anak yang disayanginya. Namun akibat tekanan dan tuduhan suami yang tidak benar, membuat bibi Ina lama kelamaan menjadi seorang wanita yang keras. Pada usianya yang ke-55 tahun, bibi Ina mengalami sakit yang sangat parah. Begitu banyak pendeta yang datang dan berdoa untuknya dan hampir 90% berpesan pada bibi Ina agar bisa mengampuni, sekali pun mereka tidak mengetahui apa yang terjadi dengan bibi Ina.

            Separuh dari hidup bibi Ina mengalami tekanan karena harus menelan fitnah, sindiran, caci maki, belum lagi suami yang tidak pernah berhenti menyakiti hatinya dengan setiap perkataan-perkataan yang tidak benar, dan harus menanggung begitu banyak biaya sehingga ia harus terus berusaha mendapatkan uang. Maka tidak heran jika bibi Ina mengalami sakit yang cukup parah dan tentu saja 85% benar dugaan bahwa penyakitnya itu karena ia menyimpan sakit di hati yang sangat dalam.

            Jika kita mengalami apa yang dialami oleh bibi Ina, apakah kita mampu mengampuni paman Rio? Bagi orang-orang yang tidak berada dalam keadaan sesungguhnya, maka mudah bagi mereka mengatakan harus bisa mengampuni dan melupakan. Tetapi sakit hati yang dipupuk, disimpan, dan selalu bertambah setiap hari, bukanlah sakit hati biasa yang dalam sehari atau dua hari bisa langsung mengampuni. Sekali pun bibi Ina dalam keadaan sakit, paman Rio masih sangat tega menyakiti hatinya. Paman Rio tidak segan-segan mendatangkan temannya yang dokter dan mengatakan di depan bibi Ina bahwa penyakitnya tidak akan dapat disembuhkan.

            Seseorang yang berjuang untuk sembuh, bukannya dihibur dan dikuatkan, tetapi malah ditekan dan masih disakiti. Dan tidak hanya itu, paman Rio juga tidak mengeluarkan sepeser pun uang untuk biaya berobat bibi Ina. Tentu saja bibi Ina tidak dapat dengan mudah mengampuni dan menyembuhkan luka di hatinya terhadap paman Rio, sekali pun bibi Ina tidak berharap untuk dibiayai, tetapi paling tidak bagi orang sakit, perlu baginya suatu perhatian dan kasih sayang dari orang-orang yang dekat dengannya.

            Paman Rio tidak menyadari bahwa bibi Ina telah melakukan banyak hal untuknya dan anak-anaknya. Ia tidak melihat sisi positif dari bibi Ina. Yang ada dihatinya adalah fitnah, tuduhan yang dianggapnya benar, dan selalu mencari cara agar bisa menyakiti bibi Ina lebih lagi. Kebencian yang tak beralasan, diawali dari fitnah/perkataan yang tidak benar demi memperoleh suatu keuntungan, telah berakibat fatal, dan sayangnya tidak ada penyesalan dan usaha untuk memperbaiki hal itu, malah sebaliknya paman Rio semakin bersenang-senang di atas penderitaan istrinya itu.

            Mungkin akan ada banyak komentar dari cerita tersebut di atas, salah satunya pasti ada yang ingin agar bibi Ina dapat membela dirinya dihadapan saudara-saudara paman Rio. Namun bibi Ina tidak pernah berusaha untuk membela diri, dia hanya berusaha membuktikan bahwa ia bekerja dan tuduhan bahwa ia menghabiskan harta paman Rio itu tidak benar. Sekali pun sudah dibuktikan, masih saja mata hati paman Rio dan saudara-saudaranya tidak terbuka.

            Namun Tuhan sungguh tidak buta. Tuhan tidak pernah menutup pintu berkat untuk bibi Ina. Setiap usaha bibi Ina selalu berhasil, sebaliknya paman Rio tidak pernah berhasil sehingga hidupnya dipenuhi dengan hutang dan harta sedikit demi sedikit terkuras habis oleh wanita simpanannya. Sekali pun bibi Ina sakit, tetapi Tuhan tidak pernah berhenti mengulurkan tanganNya, biaya untuk bibi Ina tetap ada dan kesehatan bibi Ina berangsur-angsur mulai pulih.

            Bibi Ina belum 100% sembuh, tetapi bibi Ina, yang telah mengalami berbagai kebaikan Tuhan hanya bisa mengandalkan Tuhan-nya. Bibi Ina berjuang dalam sakitnya bersama Tuhan.

            Dari cerita tersebut, mungkin kita bisa terbawa emosi, marah terhadap paman Rio, atau mungkin marah terhadap bibi Ina yang tidak mau menceraikan atau membela dirinya, dan sebagainya. Setiap orang boleh berpendapat apa pun juga. Tapi yang pesan terpenting dalam artikel ini yang ingin disampaikan adalah jangan sampai ada orang-orang yang memiliki sifat seperti paman Rio lagi. Biarlah sifat atau karakter paman Rio hanya ada pada cerita tersebut (entah dianggap itu adalah cerita benar atau hanya sekedar cerita).

Jika ada orang-orang yang sudah terbiasa dengan kebohongan, fitnah/menceritakan hal-hal yang tidak benar tentang orang lain demi membela dan membaik-baikkan diri sendiri, maka saat ini harus benar-benar bertobat. Karena orang-orang yang seperti paman Rio hanya akan membuat begitu banyak orang menderita.

            Seorang laki-laki harus bisa bertanggung jawab terhadap istri yang dinikahinya dan terhadap anak-anaknya. Ia harus bisa mencintai dan melindungi mereka, agar sebagai seorang laki-laki, ia bisa dihargai dan dihormati oleh istri dan anak-anaknya.

            Tuhan itu tidak buta dan tidak tuli, Ia melihat dan mendengar setiap ratap tangis orang-orang yang diciptakan dan dikasihiNya. Jadi janganlah kita mengatakan kebohongan dan hal-hal yang buruk, entah keburukan itu memang benar atau hanya sekedar dibuat-buat demi keuntungan diri sendiri.

            Mari kita tidak lupa berdoa bagi keluarga-keluarga, bagi suami, bagi istri, dan anak-anak. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka, tapi biarlah melalui doa-doa kita, Tuhan yang Maha Tahu, Maha Pengasih, dan Penyayang itu yang melakukan bagianNya untuk setiap keluarga yang didoakan.

            Tuhan memberkati setiap suami, istri, dan anak-anak!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s