Happiness


HappinessAda sebuah artikel yang di beri judul 90/10, yang mengatakan bahwa kehidupan manusia sehari-harinya 10% ditentukan oleh hal-hal atau kejadian yang tak dapat dikendalikan (atau tidak terduga). Misalnya kemacetan, listrik padam sehingga tidak bisa lihat acara televisi yang telah dinanti-nantikan, sakit, kecelakaan, gangguan anak kecil, dan lain sebagainya adalah berbagai hal yang berada diluar rencana atau dugaan seseorang.

            Sedangkan 90% nya lagi kehidupan manusia sehari-harinya ditentukan oleh bagaimana seseorang itu memutuskan untuk bersikap. Maksudnya adalah dengan kejadian-kejadian yang tak terduga itu, bagaimana reaksi kita? Dan hal itu yang nantinya akan menentukan bagaimana ‘nasib’ kita atau suasana hati kita (bahkan keberhasilan kita) sepanjang hari itu.

            Sebuah cerita dari seorang anak kecil yang bernama Xia-Xia. Suatu hari, di pagi hari sebelum ia berangkat ke sekolah, ia berdoa kepada Tuhan dengan mengatakan “Tuhan, hari ini Xia-Xia mau sekolah, Xia-Xia mau bahagia apa pun yang akan terjadi sepanjang hari ini. Amin”.

            Singkat cerita, Xia-Xia berangkat sekolah, tentunya dengan ‘tidak memikirkan atau mengingat’ terus menerus doanya itu. Pada hari itu, ada seorang guru yang seharusnya mengajarkan Matematika namun tidak masuk karena sedang sakit, sehingga guru lain yang menggantikannya memberikan tugas-tugas yang sangat banyak untuk dikerjakan di kelas dan di rumah. Guru tersebut mungkin saja tidak mengerti kebiasaan mengajar sang guru Matematika yang digantikannya itu, dan hanya ‘asal’ memberikan tugas agar siswa ada yang dikerjakan, maka diberikan saja tugas yang begitu banyak dan harus dikumpulkan, sehingga semua siswa mengeluh dan marah, karena jengkel sekali. Ada yang sampai menyeletuk “guru ini tidak berperasaan, kita diberi tugas yang begitu berat”.

            Namun berbeda dengan sikap Xia-Xia, ia mengingat apa yang didoakannya tadi pagi bahwa ia memilih ingin bahagia pada hari itu, sehingga dengan tersenyum, dalam hatinya ia berdoa “Tuhan, sekali pun tugasnya sangat banyak, aku mau mengerjakan, yah…itung-itung buat latihan. Terima kasih Tuhan. Amin”. Lalu Xia-Xia mulai mengerjakannya.

            Reaksi Xia-Xia yang tenang, tidak ikut mengeluh dan marah-marah, serta memilih untuk mengerjakan tugas tersebut perlahan-lahan meski pun sebenarnya tugasnya memang sangat banyak, tanpa disadarinya, ternyata Tuhan turut campur tangan sehingga akhirnya Xia-Xia berhasil menyelesaikan semuanya. Sedangkan teman-temannya yang lain tidak bisa menyelesaikannya karena mereka semua sibuk mengeluh dan marah-marah.

            Tugas tersebut adalah tugas yang mendadak, tak diduga oleh para siswa bahwa mereka akan mendapat tugas tersebut, dan tidak ada yang tahu apakah mereka sebelumnya sudah mendapatkan tugas yang bertubi-tubi yang membuat mereka lembur, sampai tidak tidur untuk mengerjakan, kemudian baru saja bernafas lega karena tugas sudah selesai eh malah ditambahi oleh tugas yang kesannya tak masuk akal itu? Atau malah mungkin saja tugas yang lainnya itu masih menggantung, belum dikumpulkan, sehingga tambahan tugas Matematika itu hanya akan menambah beban mereka.

            Tetapi bagaimana reaksi para siswa itulah yang akan menentukan apakah mereka dapat menyelesaikan tugasnya itu ataukah tidak? Itu adalah pilihan mereka dan kita sudah tahu jawabannya.

            Demikian pula dalam hidup ini, ada pilihan-pilihan di tangan kita. Ketika kita memilih itu berarti kita membuat suatu keputusan, dan dari keputusan itu, barulah kita akan menjalaninya.

            Berdoalah di pagi hari, dan putuskanlah bahwa kita mau menjalani hari itu dengan sukacita dan kita mau bahagia. Kemudian jangan lupa untuk mempraktekkannya. Misalnya dengan cara benar-benarlah tersenyum (sekali pun untuk awalnya harus memaksakan diri), menyapa teman-teman kita, datang ke sekolah atau ke kantor dengan riang mengucapkan “selamat pagi”.

            Pada saat mengalami kesulitan atau kesukaran atau masalah apa pun, mungkin reaksi pertama kita adalah marah, kesal, nangis, atau bingung. Tetapi segeralah ingat bahwa kita telah memutuskan untuk bersukacita, lalu berdoalah “Tuhan, Engkau jauh lebih besar dari apa pun juga, Kau pasti punya kunci jawabannya, saya minta tolong Kau bukakan bagi saya pintu menuju jalan keluar tersebut. Dalam nama Yesus. Amin”

            Setelah itu, kembalilah tersenyum/paksalah diri untuk kembali tersenyum, juga memiliki hati yang ikhlas menerima dan tetaplah percaya bahwa Tuhan pegang kendali, sehingga pastilah apa pun hasilnya itu akan mendatangkan kebaikan buat kita. Jalani dan lewati semuanya itu. Maka reaksi kita yang positif itu akan menarik hal-hal yang positif juga bagi kita. Masalah kita akan terselesaikan dengan cara yang paling baik.

            Tidak hanya berhenti sampai di situ, dengan hati yang bahagia, sekali pun ada masalah yang sukar, maka kita dapat dengan mudah mengucap syukur kepada Bapa di surga, tentu saja karena hati kita senang. Seperti jika kita diberi sesuatu dan kita senang, otomatis kita akan mengucap syukur dan atau berterima kasih berkali-kali. Tetapi jika hati kita tidak senang, maka sulit bagi kita untuk mengucapkan kata terima kasih dan apa lagi mengucap syukur.

            Kebahagiaan itu tidak ditentukan dari apa yang kita terima, tetapi kebahagiaan adalah keputusan kita untuk bersikap.

            Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s