SUAP


suapBegitu banyak orang ingin bisa berada di dekat orang-orang penting dan terkenal, sampai-sampai ada seseorang yang tidak segan-segan untuk berdekatan atau ‘merayu’ seseorang yang dianggapnya menguntungkannya, entah agar bisa membuatnya ikut menjadi lebih terkenal, atau lebih diperhatikan oleh atasan, atau agar lebih bisa memperoleh banyak fasilitas, atau agar lebih memperoleh pembelaan, atau keuntungan-keuntungan lainnya yang bagi seseorang itu sangat penting bagi dirinya.

Seorang murid yang ingin agar gurunya menyayangi dan memperhatikan dia, serta (khususnya) dapat memberinya nilai-nilai tambahan, maka ia bisa saja menyuap gurunya dengan memberikan sesuatu sehingga guru itu menjadi ‘tunduk’ dengannya. Tidak jarang juga, orang tua murid yang mungkin karena tidak ingin anaknya gagal, malah memberikan contoh yang buruk kepada anaknya, yaitu dengan cara memberikan sesuatu kepada gurunya agar anaknya memperoleh ‘pertolongan’.

Di dunia kerja, ada banyak pegawai yang melakukan ‘pendekatan’ dengan atasannya, dengan berkata yang ‘manis-manis’, memuji-muji atasan, menjelek-jelekkan orang lain, dan cara apa pun dilakukannya agar atasannya mengira ia adalah seorang pekerja yang baik. Sehingga tak heran jika ditemui di perusahan-perusahaan, pegawai-pegawai yang tidak pandai bekerja, malas, tidak mengerti apa yang harus dikerjakannya, namun bisa memperoleh kedudukan yang cukup penting di perusahaan dan memperoleh pelbagai fasilitas, hanya karena ia pandai ‘menjilat’ (demikian bahasa ‘keren’nya).

Tidak hanya di dunia kerja dan sekolah, di dalam keluarga pun, anak-anak bisa juga berusaha mencari perhatian orang tuanya, hanya agar ia di sayangi lebih dari pada saudara-saudaranya yang lain, sehingga memudahkannya untuk memperoleh apa pun yang ia inginkan melalui orang tua nya dan memperoleh pembelaan/kepercayaan yang lebih dan mungkin sekali agar ia memperoleh harta warisan.

Lebih parah lagi jika seandainya di gereja pun ada jemaat yang berusaha berbaik-baik dengan pendetanya, entah untuk memperoleh penghormatan dan penghargaan lebih, atau agar dipandang baik di antara jemaat yang lainnya (mempunyai nama), atau karena hal-hal lainnya. Atau dalam suatu organisasi didalam gereja atau luar gereja, ada juga orang-orang yang berusaha untuk berbaik-baik dengan pimpinannya agar ia mendapat nama, menduduki posisi dalam struktur organisasi yang lebih tinggi (pangkat), dan lain-lain.

Di mana-mana, kapan pun, siapa pun, ada begitu banyak contoh kejadian perihal suap menyuap. Dari yang tua, muda, miskin, kaya, berpendidikan, dan tidak berpendidikan (tidak bersekolah), di kantor, di sekolah, di rumah, di gereja, di jalan raya, di mana-mana, semuanya…ada saja yang namanya suap.

Masing-masing pribadi memiliki masalah, keinginan, kebutuhan, dan kepentingannya sendiri-sendiri, namun pada intinya masing-masing pribadi ingin dihargai, ingin dihormati, ingin dipandang baik, ingin ada pengangkatan/peningkatan, ingin dinilai baik, ingin disayangi lebih dari pada yang lain, ingin diperhatikan, ingin dipuja, ingin di sanjung, ingin memiliki banyak teman, ingin menjadi yang ter-/paling baik sehingga setiap orang bisa saja melakukan pelbagai cara.

Bagaimana jadinya kalau di dunia ini tidak ada yang namanya suap/’pendekatan yang tidak halal’? Bagaimana hidup orang-orang yang biasa menyuap itu? Dapatkah mereka berjuang atau bertahan? Lalu bagaimana nasib mereka-mereka yang tidak lagi memperoleh sedikit ‘tambahan’ dari hasil ‘pendekatan’ orang-orang yang ‘memperalatnya’?

Nah…yang menjadi masalah adalah yang disuap saja mau menerima (mungkin) dengan senang hati, bagaimana mungkin dunia bisa hidup tanpa suap?

Tidak semua pribadi bisa melakukan ‘pendekatan-pendekatan’ khusus terhadap orang-orang tertentu dan kebanyakan dari mereka akhirnya hanya bisa berkata “ya sudah nasib kalau tersaingi oleh orang-orang yang lebih dekat dengan pimpinan”. Namun mungkin sekali orang-orang yang seperti itu justru sangat berpotensi dalam bidang-bidang tertentu. Bisa dibayangkan, bagaimana orang-orang yang seperti itu, kadangkala diperlakukan tidak adil hanya karena mereka tidak bisa ‘menyuap’?

Karena ambisi, ego, harga diri, sulitnya hidup jika berkekurangan (ingin kaya), dan tidak bisa bersyukur serta mengembangkan apa yang sudah Tuhan berikan, akhirnya manusia memilih jalan pintas. Pertanyaannya adalah apakah dengan memperoleh segala apa yang diinginkan (kekayaan, kehormatan, kedudukan, jabatan, keuntungan yang berlebih, dan lain-lain), seseorang dapat hidup bahagia?

Dan menjadi kesalahan seorang guru atau pimpinan (di perusahaan dan atau organisasi) atau sebagai orang tua jika mereka-mereka itu mau menerima suap dari murid, bawahan, atau anak-anaknya. Mengapa? Karena kita sebagai manusia, makhluk paling sempurna yang Tuhan ciptakan, seharusnya dapat lebih bijaksana dan melihat dengan kebenaran, yang hanya hati nurani kita saja yang bisa mengatakan apakah itu sesuatu yang baik atau sesuatu yang buruk? Hati kita sendiri yang bisa menilai apakah seseorang itu atau seseorang ini tulus dalam berteman dengan kita? Jika kita menjadi miskin misalnya, apakah ia tetap akan berteman dengan kita?

Teladan yang paling sempurna adalah Bapa kita. Bapa kita adalah Bapa yang memiliki seluruh isi dunia ini. Bapa kita adalah pemilik dari perusahaan dan organisasi apa pun di dunia ini. Bapa kita adalah Guru diatas segala guru di muka bumi ini. Bapa kita adalah Orang Tua yang patut kita hormati. Namun, Bapa kita adalah Bapa yang anti suap. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa melakukan pendekatan dan berbaik-baik denganNya, karena Ia menilai hati kita dan tidak memandang kita berdasarkan atas kekayaan, kehormatan, atau hal apa pun yang sifatnya hanya sementara di muka bumi ini.

Jika kita mengaku sebagai anak-anak Tuhan, maka sudah sepatutnya kita meniru teladan yang diberikan oleh Bapa kita. Kita harus belajar untuk tidak suka memberikan sesuatu kepada seseorang atau berteman dengan seseorang itu hanya karena kita menginginkan atau mengharapkan sesuatu darinya. Jika kita ingin memberi, kita harus memberikannya dengan setulus hati kita, tanpa mengharapkan imbalan atau apa pun juga. Jika kita menginginkan sesuatu dan berharap sesuatu, maka alangkah baik jika kita meminta dan berharap hanya kepada Bapa kita.

Dan belajarlah agar tidak membuat seseorang itu bergantung pada kita, lalu kemudian ia berusaha memberi atau dekat dengan kita karena ia membutuhkan kita. Jika kita bisa memberikan pertolongan atau mempermudah jalan seseorang, maka kita harus menolong dan mempermudah jalan orang itu.

Ingatlah bahwa manusia itu hidup dan diciptakan sebagai makhluk sosial, sehingga wajar apabila kita hidup saling menolong satu dengan yang lain. Bertemanlah dengan semua orang, dengan tanpa membedakan status atau golongan tertentu, karena hidup seseorang dalam sekejab saja bisa berubah, karena masih ada yang Lebih Tinggi dan Lebih Atas daripada kita.

Tuhan Yesus memberkati dan menyertai kita semua.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s