Surrender


Surrender 

            Kata berserah adalah kata yang paling sering dipakai oleh seseorang yang sedang ada dalam masalah dan sepertinya sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Atau sering juga dipakai oleh seseorang yang sedang menghibur seseorang yang lain yang sedang berkesusahan: “berserah saja kepada Tuhan, agar Dia yang ber-perkara”.

Sebenarnya berserah itu apa atau bagaimana sih?

            Seringkali seseorang yang ‘mengaku’ berserah itu tidak benar-benar berserah, tetapi lebih tepatnya pasrah karena sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Padahal berserah dan pasrah itu sebenarnya adalah 2 (dua) kata yang berbeda.

            Kalau pasrah, lebih mendekati arti kata menyerah. Sedangkan seseorang yang pasrah atau menyerah, itu berarti seseorang itu telah membuat dirinya berada di posisi kalah. Karena setiap orang yang sudah menyerah, ia akan berhenti dari ‘perjuangan’nya, seperti seorang pejuang yang menyerah pada musuhnya, ketika pejuang itu menyatakan bahwa ia sudah menyerah, maka musuh dapat bertindak apa saja terhadap dirinya, karena sudah tidak ada perlawanan lagi. Dan itu berarti pejuang itu telah kalah.

            Sama seperti halnya dengan ‘pasrah’, bisa kita lihat reaksi seseorang yang mengatakan “saya pasrah”, ia akan mengatakan hal itu dengan berekspresi seperti seseorang yang sudah menyerah, tidak tahu lagi harus berbuat apa, kemudian disertai dengan adanya kesedihan dan kesusahan di hatinya, dan mungkin saja disertai dengan rasa kecewa karena seolah-olah Tuhan tidak menolongnya.

            Sebaliknya kata surrender atau berserah itu tidak sama persis seperti arti kata pasrah atau menyerah.

            Seseorang yang berserah, itu berarti menyerahkan setiap masalahnya kepada Tuhan, namun ia tetap pada perjuangannya dan terus menerus meletakkan harapannya melalui doa-doanya.

Berserah itu berarti seseorang mempercayakan setiap masalahnya didalam tangan Tuhan, namun bukan berarti ia tidak mengusahakannya.

            Contoh seseorang yang berserah yang paling mudah adalah seperti seorang mahasiswa yang sedang menghadapi ujian akhir (skripsi). Mahasiswa tersebut sudah berkali-kali berusaha menyelesaikan tugas akhirnya, tetapi selalu saja dosen sudah menolaknya berulang kali, padahal waktu mengumpulkan sudah semakin dekat. Ia sudah berusaha dengan sekuat tenaganya namun tetap saja tugas akhirnya kurang memuaskan bagi dosennya. Akhinya ia berserah kepada Tuhan, ia berdoa meletakkan perjuangannya untuk menyelesaikan tugas akhirnya ke dalam tangan Tuhan. Ia tetap pada pengharapannya agar bisa segera lulus tepat pada waktunya, berserah pada Tuhan, namun ia terus pada perjuangannya untuk menyelesaikan tugas akhirnya. Sehingga akhirnya Tuhan turut bekerja, dosen akhirnya bisa menerimanya dan ia bisa lulus dengan baik serta tepat waktu sesuai dengan harapannya.

            Berserah itu berarti meletakkan/menyerahkan masalah kita ke dalam tangan Tuhan.

            Berserah sama seperti halnya ketika kita memberi seseorang suatu hadiah dan tidak mengharapkan balasannya, sudah tidak dipikir lagi apakah hadiah kita itu akan mendapat balasannya kembali atau mau diapakan hadiah tersebut, kita sudah tidak perlu peduli lagi, yang penting kita sudah memberi dengan tulus, maka kita tidak perlu memikirkan/mengingatnya lagi.

            Demikian pula jika kita sudah menyerahkan masalah kita ke Tuhan, maka kita tidak perlu memikirkannya. Karena ketika kita memikirkannya, itu berarti kita belum sepenuhnya benar-benar menyerahkannya ke Tuhan. Seperti ketika kita memberikan hadiah kepada seseorang, kita terus menerus menanyakan kepadanya “hadiah dari saya mau kamu apakan?” atau “hadiah dari saya, kapan akan dibuka?” atau “apakah kamu akan memberikan saya balasan terhadap hadiah saya?” atau “saya menginginkan hadiah lain jika kamu ingin membalas pemberian saya”. Coba bayangkan jika kita yang diberi oleh seseorang, lalu seseorang itu menanyakan/mengungkitnya terus menerus, kita pasti akan merasa jengkel bukan? Lama-lama kita bisa saja mengembalikan hadiah itu agar kita tidak diusik lagi.

            Berserah berbeda dengan menginvestasikan sesuatu. Jika kita menginvestasikan uang kita pada suatu bank atau memberikan pinjaman misalnya, maka kita memang mengharapkan suatu hasil, bunga/return dari hasil investasi/tabungan kita. Namun kita tidak mnginvestasikan masalah kita ke Tuhan bukan?

            Ketika kita berserah kepada Tuhan, maka kita tidak lagi perlu ragu atau kuatir apa yang akan terjadi dengan masalah kita, karena Tuhan yang akan bekerja untuk kita dan kita tahu Siapa itu Tuhan? Tuhan adalah yang Empunya kunci jawaban dari masalah apa pun yang ada di muka bumi ini.

            Tidak mudah berserah kepada Tuhan dan tidak memikirkannya lagi, karena kita adalah manusia dan kenyataan masalah yang dihadapi mungkin sudah mendesak. Namun ingatlah bahwa Tuhan itu selalu bekerja tepat pada waktuNya. Yang penting kita tidak berhenti pada perjuangan kita dan tidak berhenti juga dalam doa-doa dan pengharapan kita kepada Tuhan, mengkoreksi diri kita, membenahi diri, hati dan pikiran kita, maka percayalah bahwa Tuhan itu tidak tuli, Tuhan pasti mendengar dan memberikan jawaban kepada kita. Jawaban yang terbaik dari segala jawaban yang terbaik dan tepat pada waktuNya. Amin!

            Kita sebagai anak-anak Tuhan dan masih hidup di muka bumi ini, maka kita semua punya masalah dan perjuangan. Mari kita saling mendoakan dan terus semangat dalam perjuangan kita bersamaNya!

Mari kita terus berlari dan maju bersamaNya! Sampai Tuhan menyatakan kemuliaanNya, kebaikanNya, kasihNya, dan mujizatNya dalam hidup kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s