Jangan Munafik!


Munafik2Munafik, jika mencari arti katanya adalah berpura-pura atau setia kepada agama, pekerjaan, atau sesuatu, tetapi sebenarnya di hatinya tidak menyukai. Munafik dalam arti lain adalah suka (selalu) mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perbuatannya, atau dengan arti lain yakni bermuka dua. Jika saya mencari kata dalam bahasa Inggrisnya, maka munafik dalam bahasa inggrisnya, salah satu kata yang keluar adalah liar (sama dengan pembohong).

            Didalam Firman Tuhan, Tuhan Yesus sering mengatakan: “hai kamu orang munafik…(kepada ahli-ahli taurat)” atau “janganlah engkau munafik…!”.

            Tuhan mengatakan agar kita tidak menjadi seorang yang munafik, mengapa? Kalau dilihat dari arti katanya, singkatnya adalah jangan kita menjadi seorang yang pembohong! Mengatakan suka dimulut, tetapi tidak didalam hati.

            Seringkali dalam hal ini, orang-orang yang suka bermuka dua lah yang menjadi seperti itu, yakni orang-orang yang hendak mencari perhatian atasannya atau mencari perhatian sang kekasih atau mencari perhatian seseorang yang dianggap ‘penting’ di masyarakat.

            Lalu bagaimana dengan orang-orang yang berbeda-beda sikapnya, tergantung dari lingkungan atau kelompoknya? Misalnya di kelompok elit, maka dia bisa tiba-tiba menyombongkan diri, tetapi suatu hari ketika dia berada di lingkungan atau kelompok rohani, tiba-tiba dia bisa menjadi sangat rendah hati dan penolong.

            Siapa yang menyukai orang seperti itu? Yang bisa dan mudah sekali berubah-ubah, dan hal itu disebabkan oleh sikapnya yang tidak konsisten, tidak punya prinsip, mudah terombang ambing, dan mendua hati.

            Kata munafik seringkali dipakai untuk orang-orang beragama atau disisi rohani.

            Jadi seorang pelayan Tuhan, baik itu pelayan mimbar, usher, dan khususnya seorang pendeta, biasanya paling sering menjadi sorotan orang banyak. Salah sedikit saja, maka orang sudah langsung ‘menuding’ atau ‘mengata-ngatai’.

            Realitanya, anak-anak Tuhan, yang mengenal dan mengetahui kebenaran, itu memang dituntut lebih banyak daripada orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Jadi yang disebut pelayan Tuhan, itu pasti dianggap lebih rohani daripada yang tidak pelayanan, dan resikonya, yang pelayanan akan lebih disorot atau dilihat orang, daripada yang yang tidak pelayanan.

            Praktek tidaklah semudah teorinya.

            Diatas mimbar seorang pendeta bisa mengatakan agar setiap orang bisa saling mengasihi, saling mengampuni, dan saling menerima. Tetapi realitanya, pulang dari berkotbah, ada mobil yang motong jalannya, hati bisa langsung mendongkol dan langsung mengejar untuk membalasnya. Lupa dengan apa yang telah disampaikan dalam kotbahnya tadi.

            Bercerita kesana kemari bahwa ketika dia melayani, Roh Tuhan bekerja, semua orang rebah, dan semua orang menyukai pelayanannya. Tetapi realitanya keluarganya dirumah sedang menanti dengan marah karena kelaparan, tidak diberi nafkah (tidak ada sukacita dirumahnya).

            “Tetapi hati ingin melayani Tuhan, masa kita mau menjadi jemaat biasa terus menerus Lia?”. Yah melayani Tuhan, itu salah satu kemajuan didalam kerohanian yang bisa kita alami. Tetapi ingatlah, ketika kita mengambil keputusan untuk melayani, itu berarti tuntutan kita untuk menjadi seorang yang lebih baik itu pasti ada. Karena setiap kali kita mengatakan sesuatu yang dikatakan oleh Firman Tuhan (teori), maka orang akan mempertanyakan prakteknya, realitanya, bagaimana kita bisa menjadi teladan atau contoh bagi orang-orang yang belum mengenal Tuhan?

            Kita bisa mengatakan bahwa Tuhan itu cinta segala bangsa, Tuhan cinta semua anak-anak di bumi, Tuhan menerima semua orang tanpa pandang bulu, dan kita sebagai anak-anak Tuhan harus menjadi seperti Bapa kita, maka dalam hal itu pun kita akan dituntut untuk memenuhi prakteknya.

            Nobody perfect! Ya…tidak ada manusia yang sempurna, semua mempunyai kelemahan, semua mempunya kekurangan, ada kalanya seorang pelayan Tuhan melakukan kesalahan, tetapi tuntutan itu akan tetap ada dan selalu ada. Lalu bagaimana cara kita menghadapinya?

            Mau tidak mau, suka atau tidak suka, tidak ada pilihan lain, kita tetap harus menjadi teladan dan itu berarti kita harus memenuhi tuntutan tersebut. Terus menerus belajar untuk menjadi serupa dengan gambarNYA dan mengikuti teladan Tuhan.

            Sekali lagi, kita harus bisa menempatkan posisi kita pada posisi Tuhan, melihat segala sesuatu dari sudut pandang dan tolak ukur Tuhan.

            Jangan menjadi seorang yang munafik! Melayani Tuhan, tetapi di hati penuh dengan kebencian, penuh dengan rasa tidak hormat terhadap orang lain, tidak bisa menghargai, egois, suka memaksakan kehendak, hatinya penuh dengan kemarahan, iri hati, kesombongan, dan bibirnya selalu mengeluarkan kata-kata fitnah (menyalahkan orang lain).

            Ingatlah bahwa Tuhan melihat hati! Perbaiki hati kita selagi masih ada kesempatan. Buang jauh-jauh kepahitan, kemarahan, iri hati, kesombongan, dan segala kemunafikan. Mungkin manusia tidak tahu, tetapi Tuhan melihat hati. DIA yang akan menilai setiap perbuatan kita. Suatu saat, kita pasti akan diperhadapkan dengan sesuatu yang berkaitan dengan hati kita.

            Jika hati kita baik, maka kita akan diperhadapkan dengan berkat-berkat dari Tuhan, dan sebaliknya, jika hati kita tidak baik, maka kita akan diperhadapkan dengan segala masalah, yang bertujuan untuk memurnikan kembali hati kita.

            Tuhan sayang anak-anakNYA. DIA tidak akan memberikan rancangan atau sesuatu yang buruk. Setiap hal itu baik. Semua yang diberikan itu baik. Tetapi kembali lagi kepada hati. DIA Tuhan yang tidak bisa disuap. DIA Tuhan yang melihat hati yang tersembunyi sekali pun. DIA Tuhan yang mengetahui segala yang terbaik diantara yang terbaik bagi kita anak-anakNYA.

            Jangan menjadi seorang yang munafik! Karena Tuhan tidak suka didustai…dan tidak ada seorang manusia pun di muka bumi ini yang suka kepada pembohong, termasuk diri kita sendiri juga tidak akan suka kalau dibohongi. Oleh karena itu: jangan menjadi seorang yang munafik!

            Tuhan memberkati.

7 thoughts on “Jangan Munafik!

  1. Sungguh tidak mudah ya..
    kita yng ingin mengungkapkan kebaikan dan kita harus memberi contoh teladan sesuai apa yang kita ucapkan..
    yang saya tidak mengerti..
    biasanya kita didepan orang2 Top kita harus juga menunjukan kita punya power or sesuatu yang cukup berharga untuk ditampilkan..
    klau kita cuman rendah hati? apakah nanti tidak dianggap (nothing?)
    bukankah kita harus menyesuaikan diri disegala situasi? n Lokasi..
    trus dikatakan kita bermuka dua??
    bagaimana ya??

    • Sorry karena baru bisa membalas🙂
      Tapi kita udah pernah membahasnya di FB…
      So…menurut saya, tidak perlu kita menunjukkan bahwa kita punya power atau sesuatu yang cukup berharga untuk ditampilkan, apalagi hanya ke orang-orang ‘top’ hehehe….
      Tidak akan ada yang berhak menganggap diri kita nothing karena kita makhluk ciptaan Tuhan & kita itu sangat amat berharga sekali di mata Tuhan…
      Kalau seandainya kita direndahkan…kita dianggap nothing oleh manusia…so what gitu lho?
      Bukan berarti kita terus harus merendahkan diri (minder2) lho…
      Intinya: bersikaplah wajar…
      Orang-orang ‘top’ itu juga punya hati, punya mata, mereka suka atau tidak suka, pasti bisa menilai kita ini bagaimana…
      Penyesuaian diri, tidak perlu dengan ‘mengangung2kan’ diri atau mengunggulkan diri sendiri…bersikaplah wajar, bersikaplah baik, dan bersikaplah tetap rendah hati…Tuhan itu menilai hati…even kita mau menunjukkan bahwa kita ini ya punya kemampuan, tapi kalau hati kita tidak tulus (hanya untuk menyombongkan diri), ya percuma saja, kenapa? Karena Tuhan ga suka & one day, pasti deh akan jatuh…
      Nangkap maksud saya?
      Pilih mana?🙂
      Murnikan hati…itu saja…karena Tuhan melihat hati, melihat tujuan hati kita, melihat kebaikan hati kita..:)
      Misal orang mau anggap kita bermuka dua pun (sebaliknya), ya so what juga?
      Orang sekitar tuh hanya melihat & menilai dari luar…
      Tapi Tuhan melihat hati..menilai hati kita…& lambat laun, orang2 yang ‘benar’, orang-orang yang ‘waras’, juga akan bisa menilai…kita ini sebenarnya bagaimana🙂
      Tuhan memberkati

  2. Kalau di kamusku MUNAFIK itu singkatan dari MUKA NABI PIKIRAN KRIMINAL. Ayo berjuang untuk punya muka nabi pikiran Yesus!!! jangan lupa hafalkan 1 Samuel 16:7 “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati”.
    Tapi, menariknya kata pribadi dalam bahasa latin itu memakai kata ‘persona’ yang sebenarnya bisa diartikan topeng, manusia itu sebenarnya topeng. Coba kalau gak percaya ambil waktu buat gambar wajah kita dari kertas putih, trus 1 sisi tuliskan hal-hal tentang kita menurut orang lain (bisa tanya ke mereka), trus di sisi baliknya tuliskan hal-hal tentang kita menurut kita sendiri yang sebenarnya Tuhan juga jadi saksinya. Apa hasilnya? kita pakai topeng kan?. Aku sudah coba. Contohnya orang lihat betuel itu percaya diri, tapi tidak banyak yang ngerti banyak kali aku merasa kurang puas dengan diriku sendiri, misalnya mengapa aku harus pakai kaca mata, mengapa kurus, dll. Jadi menurutku judul “Jangan Munafik” agak berat, semua kita punya kecenderungan munafik. Bahkan banyak tokoh di Alkitab pernah hidup munafik (Abraham,Musa, Petrus, dll).
    So? Tuhan yang yang jadi saksi siapa kita di tempat tersembunyi yang harus jadi pelarian kita. Kalau balik pertama kali manusia diciptakan Allah, “telanjang” di hadapan Allah dan manusia, tidak ada yang ditutupi. Tapi semua itu rusak karena dosa. Bersyukur Yesus memulihkan semua itu. Dia tidak berhenti dalam urusan pertobatan, tapi lewat pekerjaan Roh Kudus, Ia memurnikan hidup kita, mengikis topeng-topeng kita, mengikis kemunafikan kita. JAdi apa yang harus kita lakukan, peka dan terbuka terhadap tuntunanNya, saat kita mau atau sudah munafik, siap-siap dikoreksi dan dipulihkan. Inilah bentuk kerjasama kita dengan Roh Kudus. Kita buka hati, telinga dan pikiran, Roh Kudus mengingatkan, menegur, memampukan kita untuk berubah. Juga meminta Dia menolong kita untuk ‘deal’ dengan sisi topeng kita yang tersembunyi, menerima kekuranga kita dan mengalahkan ketakutan-ketakutan kita, Dia Mahatahu dan MAha kuasa.
    Kalau boleh usul judul plus tambah doa, “Kikislah Kemunafikanku!!!” (sebuah doa)
    Roh Kebenaranku dan Roh Penolongku,
    Aku jujur kepadaMu bahwa aku adalah pribadi yang condong untuk munafik. Banyak yang aku sembunyikan jauh dalam sanubariku, karena aku takut malu, takut tidak disayang, takut tidak dihargai, takut jadi ‘nothing’. Siapa aku di mata orang sangat beda dengan siapa aku yang aku kenal dan yang Kau kenal.
    Aku berdoa dan berserah, benarkan aku dan tolong aku dalam kerapuhanku. Bukankah dalam kelemahanku itu pun Kau sanggup bekerja memakai aku untuk menjadi berkat bagi orang lain. Tolong, tolong, dan tolong. Benarkan, benarkan, dan benarkan. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s