Sudoku


SudokuSudoku adalah sebuah permainan yang terdiri dari angka, yakni terdiri dari angka satu sampai dengan angka sembilan, yang harus disusun dalam suatu kotak dengan luas 9×9 (sembilan kali sembilan) kotak, yang mana dalam sebaris baik secara horisontal maupun vertikal, tidak boleh terdapat angka yang sama.

            Permainan ini terdiri dari level easy (mudah), medium (sedang), hard (sulit), dan genius (jenius). Tentu saja di setiap ‘tempat’ yang menyediakan permainan ini berbeda-beda nama tingkatannya, yang ada di handphone berbeda nama tiap levelnya dengan yang ada di internet (game online). Tetapi seperti pada umumnya permainan, selalu ada tingkatan dari tingkat yang termudah sampai yang paling sulit.

            Saya sangat menyukai permainan ini, khususnya diwaktu senggang saya suka bermain permainan Sudoku ini, karena selain mengasah otak (mau tidak mau kita harus berpikir), juga ada kepuasan tersendiri jika bisa memainkannya sampai akhir.

            Setelah berkali-kali saya memainkannya, berkutat dengan angka-angka tersebut, dan berburu dengan waktu juga, akhirnya saya menemukan strategi cara bermain, tentu saja dalam hal ini, saya harus menggunakan logika.

            Tetapi stragtegi tersebut ternyata tidak selalu bisa diterapkan dalam permainan Sudoku ini. Ada kalanya saya harus ‘berani’ menebak dan meletakkan suatu angka dalam kotaknya. Dan ada kalanya juga, logika saya harus bermain dengan cara atau strategi yang sedikit berbeda.

            Setiap kali saya bermain Sudoku, saya tidak pernah berani untuk naik ke level yang lebih tinggi. Saya selalu bermain di level easy (mudah). Berhari-hari setiap kali saya bermain, saya selalu berada di level easy. Itu pun, tak jarang saya kalah (tidak bisa menyelesaikannya).

            Sampai suatu hari, saya berada dititik bosan. Saya bosan bermain Sudoku di level easy, dan dengan iseng saya mencoba melihat level medium (sedang), yakni satu level di atas easy.

            Tanpa disangka, ternyata saya pun berhasil menyelesaikannya. Dan karena perasaan gembira, bisa menyelesaikan Sudoku di level yang lebih tinggi, akhirnya saya pun mencoba ke level-level hard (susah) dan genius (jenius). Walau pun tidak seperti pada level easy, yang mana saya hampir selalu bisa menyelesaikannya dalam waktu yang singkat dan kebanyakan pasti saya dapat menyelesaikannya, tetapi dari situ saya mulai menyadari bahwa keberanian tidak hanya ddapat digunakan pada saat meletakkan angka-angka tersebut, tetapi agar saya bisa naik tingkat, maka saya juga harus berani meng-klik permainan di tingkat yang lebih tinggi dan berusaha untuk menyelesaikannya.

            Selesai atau tidak selesai, bisa atau tidak bisa, paling tidak saya sudah pernah mencoba, sehingga saya bisa mengetahui, sebenarnya tingkat kesulitannya itu seberapa? Apakah saya masih mampu atau tidak?

            Pada waktu saya berada di bangku sekolah sampai di tingkat universitas. Saya selalu mendengar ‘kata orang’ di kelas berikutnya (yang lebih tinggi) itu pelajarannya susah. Sampai saya takut-takut, bahkan sempat terlintas: mungkin enakan di kelas sekarang ini. Tapi mau tidak mau, saya tetap harus naik ke kelas berikutnya. Dan ternyata saya bisa. Bahkan terus menerus naik sampai akhirnya saya bisa meraih gelar Sarjana Teknik.

            Dari pengalaman saya, saya tidak pernah mau berkata kepada adik-adik kelas saya bahwa dikelas yang lebih tinggi pelajarannya sulit, karena mungkin saja itu bisa membuat hati mereka ciut, jadi lemah dan tidak punya semangat di tahun ajaran yang baru.

            Demikian pula di dunia kerja yang sudah saya jalani selama kurang lebih hampir enam tahun ini, saya juga melihat bahwa ada posisi-posisi dari yang terendah sampai yang tertinggi.

            Setiap posisi tentunya memiliki kesulitannya masing-masing dan kalau ada yang naik ke posisi yang lebih tinggi, tentunya ada hal baru yang harus dia pelajari. Ketika dia berada di posisi sebagai staff biasa, kemudian naik menjadi seorang pemimpin, ada banyak yang harus dia pelajari, karena kedua posisi itu sangatlah berbeda.

            Mungkin sebagai bawahan, dia bisa berkata: kalau saya menjadi atasan, saya akan…(begini begitu), tetapi kenyataannya, ketika dia berada di posisi sebagai seorang atasan, prakteknya belum tentu bisa diterapkan apa yang pernah dipikirkannya, bahkan seringnya justru apa yang dicita-citakan atau pernah dipikirkannya, tidak bisa diterapkan.

            Tetapi yang pasti, sesulit apa pun, jika memang seseorang sudah diangkat untuk berada di posisi yang lebih tinggi dan dia mau belajar serta menyesuaikan diri, maka dia lama kelamaan akan bisa atau mampu mengatasi dan tahu apa yang harus dilakukannya.

            Seringkali dalam hidup ini, berjalan bersama Tuhan, lebih suka perjalanan yang biasa-biasa saja, santai-santai, seperti seorang anak kecil yang berjalan-jalan santai sambil bersenda gurau ditaman dengan ayah atau ibunya. Jadi kita lebih suka menjadi seorang anak kecil itu, yang selalu dimanjakan, selalu diajak bersenda gurau, tidak suka terhadap sesuatu yang serius atau menegangkan.

            Padahal didalam hidup ini, menjadi lebih tua dan menjadi lebih dewasa itu tidaklah menakutkan. Kita masih bisa bercanda, bermanja-manja, dan bersenda gurau juga seperti anak-anak.

            Intinya kita harus mempunyai iman (keberanian) untuk melangkah ke tingkat yang lebih tinggi dan agar kerohanian kita pun lebih meningkat. Tentu saja dalam perjalanannya Roh Kudus lah penolong kita.

            Biasanya, Tuhan sebagai Bapa kita, akan memimpin kita dan membuat kita bisa naik tingkat. Dan kenaikan tingkat itu seperti pada saat kita sekolah, harus ada ujian yang harus kita selesaikan, dalam hal ini masalah adalah ujian kita itu.

            Masalah, ada yang bisa dihindari, ada yang mau tidak mau harus dihadapi, seperti permainan Sudoku tadi, jika saya tidak berani melangkah ke tingkat yang lebih tinggi, maka saya pun tidak akan pernah main di level medium, hard, mau pun genius. Jadi itu adalah pilihan saya sendiri, saya bisa menghindari level yang lebih tinggi jika saya tidak mau mencoba.

            Tetapi ada juga masalah yang mau tidak mau harus dihadapi, seperti ujian akhir di sekolah, mau tidak mau harus dikerjakan, agar bisa naik kelas (walau pun mungkin kita tidak mau berada dikelas yang lebih tinggi itu).

            Yang bisa saya katakan dalam artikel ini adalah setiap dari kita, anak-anak Tuhan, seluruh umat manusia yang ada dimuka bumi ini, tidak ada seorang pun yang tidak bisa naik level dan bisa bertahan di level tersebut bahkan tiada yang mustahil dia bisa naik ke level yang lebih tinggi lagi.

            Tergantung bagaimana kita menghadapi masalah tersebut, apakah kita akan menghadapinya dengan berani (beriman), ataukah kita terus menghindarinya, sehingga kita hanya akan berputar dalam masalah itu terus menerus?

            Ada orang-orang yang lebih suka menunggu, ada juga orang-orang yang lebih suka cepat-cepat. Dalam hal ini, saya lebih menyarankan agar kita menjadi lebih berhikmat dan mendengarkan pimpinan Roh Kudus. Karena tidak semua hal bisa dihantam rata penyelesaiannya.

            Yang pasti, tingkatkan kerohanian lebih lagi. Beranilah untuk menerima karunia Roh dari Tuhan, beranilah untuk mengimani sesuatu, beranilah untuk lebih dekat lagi dengan Tuhan, walau pun resikonya kita akan dituntut lebih daripada orang lain yang belum memaksimalkan karunia yang didalam dirinya.

            Naiklah ke tingkatan-tingkatan yang lebih lagi, dalam kerohanian, dan dalam setiap keputusan yang harus diambil, serta kebijakan dalam segala sesuatunya (mengatur waktu, memimpin rumah tangga, memimpin perusahaan, sebagai ketua kelas, sebagai ketua sel, dan sebagainya).

            Tuhan tidak ingin anak-anakNYA berada di level yang easy (mudah) terus menerus. Selain itu, berada di level easy itu cukup membosankan. Maka naiklah, terus menerus, meningkat, dan membawa perubahan yang baik bagi lingkungan sekitar! Alami Tuhan didalam hidup kita disetiap tingkatan yang berbeda dan lebih tinggi tentunya!

            Tuhan memberkati.

2 thoughts on “Sudoku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s