Fiction vs Reality


Bayangan2

            Seorang teman pernah mengatakan kepada saya ada didalam suatu buku dituliskan bahwa Darlene Zschech, seorang worship leader HillSong Churh di Sydney, Australiabaik diatas panggung mau pun dibawah panggung dia itu sama”, yang artinya sebagaimana kita melihat dia great atau hebat diatas panggung, maka didalam hidup kesehariannya pun dia tetap great atau hebat.

Darlene Zschech

            Ada cerita lain lagi tentang seorang pembawa Firman Tuhan disebuah gereja yang tidak perlu disebutkan namanya. Sepulangnya dia dari berkotbah disuatu gereja, bersama istri dan anak-anaknya, ditengah perjalanan mereka pulang kerumah, mobil yang mereka tumpangin didahului dengan cara yang tidak sopan oleh seorang anak muda yang mengendarai sepeda motor. Dan apa yang terjadi? Si yang disebut sebagai ‘pembawa Firman’ tersebut memaki-maki dan mengumpat didalam mobilnya dan semua ucapannya didengar oleh istri dan anak-anaknya.

            Seseorang dapat dikatakan ‘berhasil’ dalam pelayanannya, sebenarnya adalah jika seseorang itu bisa ‘memenangkan’ anggota keluarganya terlebih dahulu.

            Setuju atau tidak setuju, realitanya didalam segala hal, dukungan dari sebuah keluarga terhadap pekerjaan dan pelayanan kita itu dapat membuat kita jauh lebih dapat maksimal dan dapat dikatakan ‘berhasil’. (Dalam hal ini saya tidak berbicara mengenai seseorang yang mungkin keluarganya belum menerima atau mengenal Tuhan Yesus tentunya).

            Jika anggota keluarganya saja tidak bisa menghormati seseorang itu dalam pelayanannya, bagaimana dia bisa menjadi berkat bagi orang lain? Sekali pun realitanya ada banyak orang juga yang bisa saja menganggapnya atau melihatnya hebat dalam pelayanannya dan kita pun tidak bisa (bahkan TIDAK BOLEH) menghakimi seseorang itu apalagi jika Roh Kudus memang mau bekerja disaat seseorang itu sedang melayani disuatu tempat tersebut.

            Tetapi lambat laun, jika kita sebagai pelayanan Tuhan, tidak bisa menjaga hidup kita, maka lama kelamaan orang akan tahu dan kita pun tidak akan menjadi berkat sekali pun ‘dulunya’ kita sukses.

            Semuanya kembali ke hati…

            Jika hati kita murni…jika hati kita tulus…maka kita bisa menjadi berkat bagi sekitar kita.

            Orang yang senyum-senyum, ramah, dan cakep, bukan berarti dihatinya dia tidak menyimpan sesuatu yang ‘buruk’. Dan seperti sampah, serapat apa pun kita menutupnya, maka cepat atau lambat, orang pasti akan mencium bau busuknya.

            Demikian pula hati kita, jika didalamnya ada kemurnian dan ketulusan, maka yang tercium adalah segala sesuatu yang baik, sekali pun mungkin sebagai manusia pernah didapati dia berbuat salah. Sebaliknya jika hati kita busuk, yang ada hanyalah kemarahan dan kebencian, rasa tidak terima yang berlebihan, maka yang tercium adalah segala sesuatu yang buruk, sekali pun dia berbuat baik, orang tidak akan suka menerima kebaikannya, malahan dia akan dianggap sebagai seorang yang munafik.

            Nobody perfect! Ya benar, selama kita hidup menjadi seorang manusia, kita tidak akan pernah luput dari yang namanya kesalahan. Tetapi jika kita terus menerus memiliki hubungan yang rekat dengan Tuhan, akrab dengan Tuhan, berserah total sepenuhnya kepada Tuhan dan mengijinkanNYA memperbaiki segala aspek kehidupan kita, maka saya percaya bahwa kita akan dibentukNYA menjadi semakin indah. Dan tiada yang mustahil, orang akan mengatakan bahwa kita sama baiknya atau sama hebatnya diatas panggung mau pun dibawah panggung. Keluarga pun pasti akan melihat semuanya itu.

            “Lia, bagaimana jika didalam keluarga kita terus menerus ditekan dan akhirnya kita berbuat jahat lagi dan keluarga tidak akan terberkati?”. Semuanya itu kembali lagi kepada kita. Saya tahu bahwa setiap dari kita punya keterbatasan, ada waktunya kita akan meledak dan jengkel dengan sekitar yang terus menerus menekan kita sehingga akhirnya kita kembali berbuat buruk atau jahat.

            Tetapi jika untuk berbuat baik itu kita hanya berpura-pura, maka kita bisa merasa lekas lelah dan capek, bahkan kita pun akan menjadi sangat kecewa dan takkan lama kita akan kembali kepada keburukan kita itu lagi. Sebaliknya jika kita berjalan bersama Tuhan, hati kita tulus, hati kita murni, maka akan ada waktunya dimana orang-orang akan mulai mempercayai kita dan melihat semua kebaikan kita dan semua perubahan yang ada didalam diri kita itu benar (murni dan tulus serta apa adanya). Mungkin ada waktunya kita capek dan seolah-olah kembali menjadi buruk karena kemarahan dan kekecewaan kita, tetapi kemudian kita akan kembali mencoba untuk menjadi lebih baik sehingga akhirnya kita berhasil membawa perubahan didalam diri kita dan orang-orang akan mengakuinya.

            Semuanya hanya bisa kita serahkan kepada Tuhan. Kita bawa semua kelemahan kita ke hadapanNYA dan berserah sepenuhnya kepada Tuhan. Biarkan DIA bekerja dan masuklah dalam perencanaanNYA yang sempurna! Maka saya sungguh percaya bahwa DIA akan campur tangan, memotong semua ranting-ranting yang membuat busuk buah-buah yang baik yang ada didalam karakter kita.

            Jadilah contoh dan teladan sebagai pelayan Tuhan bagi keluarga dan lingkungan sekitar kita! Karena memang kita semua akan dituntut untuk hal itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s