Mental Gratisan


Shangrilla Hotel            Suatu hari di Hotel Shangrilla, diadakan sebuah acara pameran perhiasan dan acara ini memang sudah biasa diadakan setiap setahun sekali, yang mana beberapa toko perhiasan di Asia pun datang untuk turut serta memamerkan perhiasannya.

            Didalam iklannya di koran dan undangan yang terlampir, tertulis bahwa bagi 100 pendatang pertama akan mendapatkan sebuah liontin berlian. Tidak diketahui besarnya seberapa, hanya ada bentuk gambarnya saja (yang mana bisa saja menipu: kelihatannya besar tapi ternyata kecil), tetapi yang pasti orang-orang berkelas dengan dandanan paling modern, membawa tas bermerk LV (Louis Vuitton) pun turut serta mengantri dan rela berdesak-desakan demi mendapatkan sebuah liontin berlian yang mungkin bisa mereka beli dengan kekayaan yang mereka miliki.

Free2            Siapa sih yang tidak mau diberi gratisan sebuah liontin berlian? Tidak peduli besar atau kecil ukurannya, jelek atau bagus modelnya, tipe berlian yang bagaimana atau colour nya apa, yang penting gratis, maka siapa pun rela mengantri berlama-lama dan berdesak-desakan sekali pun.

            Cerita lain lagi mengenai email yang berisikan bahwa ada sebuah perusahaan yang baru membuka usahanya dibidang menjual IPod, maka untuk pertama kalian, akan ada IPod gratis bagi yang memforward email tersebut ke 15 orang atau 25 orang, dan seterusnya. So? Tidak ada ruginya memforward email saja dan men-cc email address yang ditentukan, walau pun itu memang salah satu cara perusahaan tersebut memasarkan usahanya, siapa tahu (who knows?) kita menjadi pemenangnya? “toh tidak merepotkan juga hanya sekedar memforward email saja” demikian kita berpikir bukan?

            Tidak ada yang salah dengan semua cerita tersebut diatas, bahkan saya pun kalau memang bisa juga akan rela mengantri dan berdesak-desakan demi sebuah liontin berlian, apalagi saya gemar sekali mengkoleksi bermacam-macam perhiasan, dan tidak menjadi masalah juga bagi saya untuk ikutan memforward email, walau pun saya tidak terlalu memerlukan IPod, karena saya sudah mempunya MP4 dan cukup bagi saya, bahkan saya berpikir kalau pun saya mendapatkan, maka saya akan menghadiahkannya kepada orang yang lebih hobby atau membutuhkan.

Free            Tetapi jangan sampai kita sebagai anak-anak Tuhan mempunyai mental gratisan. Selalu saja mau apa-apa yang gratis dan atau discount-an. Ya, kita harus bijaksana dalam menggunakan dan memanfaatkan segala sesuatu termasuk barang belanjaan kita, karena memang ada merk-merk tertentu yang sayang kalau dibeli pas tidak discount, karena harganya jadi sangat mahal. Tetapi bukan berarti kita hanya mau datang ke konser-konser rohani juga hanya jika free (gratis) tiketnya.

            Kadangkala anak-anak Tuhan tidak cukup bijak dalam hal ini, mereka berani membayar mahal untuk baju-baju, tas, arloji, dan perhiasan yang mereka kenakan, tetapi tidak berani atau tidak mau membayar tiket masuk untuk sebuah konser rohani, membeli buku-buku rohani atau kaset-kaset rohani yang dapat dibilang sebenarnya worthed (layak) sekali untuk dibeli.

            Coba pikirkan, jika ada KKR kesembuhan, tetapi ada tiket yang harus dibayarkan, akankah orang-orang yang sakit itu dari keluarganya rela untuk membelikan tiket dan mengajaknya pergi agar dia mendapatkan doa kesembuhan? Atau tidak usah jauh-jauh, bagaimana jika didalam gereja, untuk bisa menikmati acara Natal, kita harus membayar sejumlah uang untuk tiket masuk? Apakah kita rela membayarnya?

Benny Hinn            Kakak ipar dari adik kandung mami saya, pernah rela membelikan tiket masuk untuk mami saya datang ke acara KKR nya Benny Hinn di Jakarta. Dan sempat juga sewaktu di Singapore, ada seorang teman lama, saya biasa memanggilnya om Paul, dia juga rela membelikan tiket seharga beberapa SGD (Singapore dollar) agar mami saya bisa mendapatkan jamahan Tuhan melalui acara KKR tersebut.

            Saya sama sekali tidak melihat berapa ratus yang mereka keluarkan untuk mami saya, tetapi saya melihat betapa mereka mengasihi mami saya sehingga mereka rela mengeluarkan uangnya agar mami saya dapat mengalami Tuhan melalui KKR tersebut. Karena ada juga orang-orang yang berpikir “ah…iya kalau sembuh…kalau tidak bagaimana? Kan lebih baik uangnya dipakai untuk berobat bener-bener ke dokter yang tepat”, tidak salah…tetapi apakah memang demikian kecil mental anak-anak Tuhan?

            Mendapatkan sesuatu yang gratis itu memang sangat menyenangkan dan sah-sah saja, tetapi kita sebagai anak-anak Tuhan jangan sampai memiliki sebuah mental yang gratisan, semua mau serba gratis, buku rohani yang diberi secara gratis akan diambil saja, entah nantinya akan dibaca atau tidak, yang penting ambil dulu, tapi kalau disuruh beli ogah.

Yesus Bawa Salib            Kita bisa bayangkan jika untuk menebus dosa kita, Tuhan pun hitung-hitungan sama kita, apa yang terjadi? Kita bisa bayangkan jika untuk bernafas saja kita harus membayar, apa yang terjadi?

            So? Milikilah mental Kristus, yang berani membayar sebuah harga yang mahal untuk sesuatu yang memang benar-benar baik dan layak untuk kita ‘beli’ dan jangan hanya berani bayar mahal untuk barang-barang bermerk saja!

Tuhan memberkati!

One thought on “Mental Gratisan

  1. Di dunia ini tidak ada barang gratis. Kalau ada yang gratis, pasti itu ada yang sudah membayarnya untuk kita. Juga dengan keselamatan dalam Kristus (yang sering disebut gratis bagi kita, manusia), Kristus telah membayar lunas di kayu salib, jadi bukan gratis juga, ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s