All not about money


Airline Ticket            Seorang teman bernama Catherine, suatu hari dia mendapatkan sebuah tiket gratis sebagai hadiah dari kantornya untuk berlibur ke Bali dari kantornya. Tiket tersebut sudah diberikan kepadanya dan tertulis namanya, sehingga dia hanya tinggal bersiap untuk berangkat.

            Tetapi dalam suatu waktu tertentu, Branch Manager didalam perusahaan tersebut memanggilnya dan mengatakan bahwa ada seorang sales yang menurutnya ‘lebih layak’ untuk mendapatkan tiket tersebut, jadi Branch Manager ini meminta tiket tersebut untuk diberikan kepada seorang sales tersebut.

            Tanpa ada pikiran yang negatif atau marah, Catherine berikan tiket tersebut kepada sales yang bersangkutan dan segera melupakannya. Jika ditanyai, baru setelah mengingatnya, dia menceritakannya kembali dengan senyum dan sama sekali tidak terbesit nada bicara yang mengandung unsur-unsur sakit hati atau kejengkelan. Dia benar-benar ikhlas. Bukan berarti dia tidak berminat ke Bali, tetapi memang demikian sikap yang dia tunjukkan.

            Justru yang marah dan kecewa adalah teman-temannya. Bahkan head nya secara langsung pun berusaha untuk menghiburnya dengan mengatakan bahwa di Bali tidak enak, ada acara di tengah lapangan dan sangat panas, dan sebagainya. Namun si Catherine sama sekali tidak merasa tidak enak atau jengkel.

            Sungguh suatu hati yang luar biasa menurut saya dan tentunya menurut teman-temannya juga. Diantara 10 orang mungkin hanya ada 1 orang saja yang mampu memiliki hati yang sedemikian luar biasanya. Dia tidak hanya sekedar tidak marah dan tidak jengkel di bibir lidahnya, tetapi dari hati dan pikirannya pun dia sudah benar-benar mengikhlaskan dan melupakannya.

            Memang ada kalanya di suatu waktu tertentu masing-masing kita bisa berlaku demikian, memiliki hati yang tulus mau memaafkan dan melupakan kejadian yang ada. Tetapi bagaimana jika tiket yang diberikan itu adalah hadiah ke Eropa misalnya? Akankah teman saya si Catherine atau kita semua mampu mengikhlaskannya dan  melupakannya?

            Jujur saya katakan, kalau saya di posisi Catherine, jangankan ke Eropa, ke Bali saja saya pasti sudah marah sama Branch Manager tersebut. Karena yang menjadi ukuran sebenarnya bukanlah harga tiketnya tetapi caranya yang sama sekali tidak bijaksana.

Money2            Dan seringkali orang salah sangka, mereka mengukur dan menilai sesuatu itu dari masalah materi atau dilihat dari barangnya, atau jika dalam cerita tersebut diatas adalah harga tiketnya. Padahal sesungguhnya yang membuat seseorang menjadi kecewa, kesal, marah, jengkel, dendam, sakit hati, hingga kepahitan itu adalah caranya, bukan wujud barangnya. Mungkin ada rasa sayang (eman), karena pemberian yang seharusnya menjadi miliknya diambil kembali dan diberikan kepada orang lain, yang namanya hati sudah senang, kemudian tiba-tiba kesenangan itu diambil, tetapi sebenarnya barang bisa dicari, barang bisa dibeli, uang bisa dicari lagi dengan bekerja sungguh-sungguh. Tetapi cara yang salah, bisa menimbulkan bekas luka di hati, itu tidak bisa dikembalikan dengan apa pun juga.

Chocolate            Seseorang suka memberikan barang orang lain yang bukan miliknya, jadi suatu ketika ada temannya datang, lalu seseorang ini menawarkan sebuah coklat, padahal coklat itu bukan miliknya, tetapi dengan bangga dia menawarkan dan memberikan coklat itu kepada temannya. Lalu seseorang ini mengatakan kepada si pemilik coklat “saya kasihan melihat temanku tadi, dia ingin makan coklat, jadi aku lihat ada coklatmu, ya kuberikan saja kepadanya”.

            Menjengkelkan bukan? Apakah yang membuat jengkel? Bukan karena kehilangan coklatnya, tetapi karena caranya seseorang itu memberikan coklat itulah yang sangat amat menjengkelkan sekali. Seandainya dia memang ingin memberikan temannya sebuah coklat dan dia tidak memilikinya, sebenarnya tidak perlu sampai memaksa mungkin dengan alasan ‘coklatmu saya pinjam, nanti saya ganti’ bukan? Bisa saja, lain waktu dia membeli coklat sendiri di toko lalu memberikan kepada temannya.

            Dan masih ada banyak lagi cara-cara yang tidak masuk diakal, tetapi realitanya sering terjadi dan hal itu sungguh amat sangat menjengkelkan sekali.

            Untuk orang-orang yang terbiasa berbuat demikian, bersikap tidak cukup bijaksana dan tidak adil, maka harus dengan kesadaran diri yang sungguh-sungguh untuk mengubah cara-caranya, agar jangan sampai dia selalu membuat jengkel dan kecewa orang-orang di sekitarnya.

            Dan sebaliknya, bagi yang selalu menerima sikap yang tidak bijaksana dan tidak adil, mari kita sama-sama belajar untuk bisa bersikap seperti Catherine dalam cerita tersebut diatas. Tidak mudah, sangat tidak mudah, apalagi kalau ada yang sengaja menyakiti kita. Tetapi tidak ada gunanya kita menyimpan kemarahan, apalagi jika seseorang itu tidak menyadari kalau kita sedang marah dengannya.

            Biarlah Roh Kudus, membimbing dan membantu kita semua untuk menjadi seorang pribadi yang baik. Karena tidak mudah jika kita berjalan sendirian untuk mengubah pribadi kita sendiri. Tuhan Yesus memberkati!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s