Jangan Mau Rugi!


Sakit hati

          Didalam sebuah artikel saya, sempat saya menuliskan bagaimana seorang anak Tuhan sebaiknya dan sudah seharusnya kita menjadi panutan bagi oranh-orang yang belum mengenal Tuhan. Apalagi bagi mereka yang mau serius melayani, alangkah baiknya mereka menjaga perkataan dan tingkah laku mereka. Semuanya karena orang di luar sana melihat dan mengkoreksi, serta sangat banyak yang akhirnya menjadi sakit hati, kepahitan, dan akhirnya menjadi benci.

          Dan didalam artikel lainnya lagi, saya pun mengatakan bahwa bagaimana pun kita semua adalah makhluk ciptaan Tuhan, yang hanyalah seorang manusia biasa. Tidak bisa anak-anak Tuhan dituntut harus hidup suci dan kudus terus menerus, walau pun memang demikian tuntutannya. Ada kalanya anak-anak Tuhan juga bisa berbuat salah dan berdosa, karena memang anak-anak Tuhan masih seorang anak manusia biasa.

          Kedua artikel tersebut jika menjadi satu dapat disimpulkan bahwa kedua belah pihak sebaiknya saling memaafkan dan terlebih lagi, sudah seharusnya sama-sama belajar untuk saling mengampuni dan mengasihi, karena sebenarnya, masing-masing pihak sudah sama-sama mengetahui ajaran Firman Tuhan, bahwa kita harus hidup dengan saling memaafkan dan saling mengasihi. Hanya bedanya, karena yang satu merasa tidak mengetahui banyak, maka yang satu itu menuntut yang lain, yang dianggapnya mengetahui banyak. Sebaliknya yang mengetahui banyak juga kembali menuntut dan menyalahkan, sampai akhirnya kemudian timbul kemarahan, sakit hati, kepahitan, dan kebencian yang berkepanjangan.

          Tahukah kita semua bahwa sakit hati, kepahitan, dan kebencian itu akan berdampak sangat buruk bagi tubuh, jiwa, dan roh kita sendiri? Apa pun itu alasannya, baik kita berada di posisi yang benar atau salah, dampak dari sakit hati, kepahitan, dan kebencian itu benar-benar sangat amat buruk sekali. Dan didalam ajaran mana pun, tidak akan ada yang menyangkalinya bahwa sakit hati, kepahitan, dan kebencian benar-benar hanya akan membuat kita jauh dari Tuhan dan membuat kita dekat dengan neraka.

          Sakit hati, kepahitan, dan kebencian akan menutup mata kita dari kebenaran, menutup pintu hati dari kasih, serta menutup telinga kita dari suara Tuhan. Tuhan kita memang Maha Besar dan Maha Kuasa, tetapi saat sakit hati, kepahitan, dan kebencian berkuasa didalam hati dan hidup kita, maka DIA tidak lagi berkuasa atas hati dan hidup kita.

          Suatu pengertian yang baru dari bacaan Matius 23:3, yang berbunyi “sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya”.

          Dari bacaan Firman Tuhan tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak dikatakan pengajaran mereka sesat atau salah. Bukan berarti juga mereka dilarang untuk mengajar atau melayani lagi. Tetapi kita semua yang ‘menyadari’ kesalahan orang lain yang mungkin kita anggap lebih mengerti Firman dibandingkan kita sendiri dan kita tahu bahwa orang lain itu hanya bisa mengajar tetapi tindakan dan perkataannya tidak sesuai dengan yang mereka ajarkan, diberitahukan bahwa lebih baik kita tidak menjadikan mereka sebagai teladan didalam hidup ini.

          Mengenai semua semua tingkah laku dan perkataan mereka yang tidak sesuai dengan apa yang mereka ajarkan, itu semua mutlak bukan tanggung jawab kita lagi dan kita tidak berhak menghakimi mereka. Kita tidak diajarkan untuk sakit hati, kepahitan, bahkan sampai membenci mereka. Apa yang mereka ajarkan, itulah yang kita dengarkan dan kita lakukan.

          Kalau kita ‘berani’ mengambil alih tugas Tuhan dengan mengata-ngatai orang-orang yang telah bersalah itu, bahkan sampai membenci mereka, maka kitalah yang akan celaka, karena akhirnya kita juga yang akan ‘berurusan’ dengan Tuhan.

          Mungkin ada yang akhirnya menjauh atau menghindari, misalnya saja pindah gereja atau pindah agama, dengan alasan untuk menghindari kebencian itu. Namun sebenarnya sakit hati, kepahitan, dan kebencian itu ada didalam hati, sehingga kemana pun kita pergi, maka kebencian itu akan ikut bersama-sama dengan kita.

          Selama kita tidak membereskan dan total mengampuni, maka selama itu juga kita tidak akan pernah berada didalam kasih Tuhan sepenuhnya. Kita tidak akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, karena ‘lagi-lagi’, secara terus menerus kita akan dibuat kesal, jengkel, marah, dan direpotkan dengan hal-hal yang telah membuat kita sakit hati, pahit, dan benci itu. Mengapa? Karena Tuhan ingin kita selesai dengan dosa sekecil apa pun. Dan justru karena Tuhan mengasihi kita, maka DIA membuat kita terus menerus ‘bertemu’ dengan masalah yang kita hindari dan belum selesaikan itu, agar kita akhirnya dapat bertobat.

          Saya menuliskan kebenaran ini dengan tujuan ingin menginformasikan kepada para pembaca agar jangan sampai kita bersama-sama (anda dan saya) mengalami sakit hati, sampai menjadi kepahitan, dan akhirnya berbuah menjadi kebencian dengan orang-orang yang kita anggap adalah pengajar atau ‘lebih senior’ dibandingkan dengan kita atau pelayan Tuhan karena itu semua tidak ada gunanya dan benar-benar merugikan diri kita sendiri.

          I love you all…God bless you!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s