Di Balik Kisah Penyaliban Yesus


Yesus Bawa Salib

            Perayaan Paskah adalah moment untuk mengingatkan kembali mengenai pengorbanan Tuhan Yesus untuk menebus semua dosa, kesalahan, dan sakit penyakit umat manusia. Setiap kali kita membaca isi kitab Matius 26:36 sampai dengan Matius 28, maka kita akan selalu diingatkan kembali bagaimana kasih Tuhan terhadap kita, sehingga Tuhan rela mengorbankan nyawaNYA bagi kita semua.

            Tetapi ketika saya mencoba membaca kembali kisah kematian hingga kebangkitan Tuhan, yang menarik perhatian saya adalah orang-orang yang menjadi perencana dan pelaku untuk membunuh Tuhan Yesus, yang menjadi pertanyaan saya adalah “mengapa mereka sampai hati membunuh Tuhan Yesus, sedangkan pada waktu itu, bukankah pengajaran Tuhan Yesus sudah cukup ‘terkenal’, jadi seharusnya mereka mengenal dan mengerti ajaranNYA yang tak diragukan lagi kebenarannya itu?”.

            Hal ini jarang sekali bahkan seharusnya mungkin tidak perlu di bahas, karena memang suatu hal yang buruk tidak perlu diajarkan. Tetapi sebaliknya, saya ingin membahas didalam artikel saya ini dan semoga bisa membukakan paradigma, cara pandang, dan hati serta mata yang selama ini mungkin sudah tertutup dan jangan sampai kita semua mencontoh semua sikap itu.

            Kepastian yang kita ketahui akan kematian Tuhan Yesus adalah suatu rencana Bapa di Surga karena kasihNYA akan umat manusia dimuka bumi ini, sehingga semua kelemahan, sakit penyakit, dan dosa umat manusia bisa ditebus oleh darah Tuhan Yesus yang sangat mahal (mahal karena DIA adalah Pribadi yang Tak Berdosa dan Tak Bercela sehingga sebenarnya tidak layak untuk mati di atas kayu salib). Sehingga kebencian umat manusia terhadap Tuhan Yesus pada waktu itu, sebenarnya sudah diijinkan oleh Bapa di Surga.

            Tetapi dibalik semua itu, sebenarnya yang meletakkan rasa benci di hati manusia itu adalah iblis dan kebencian itu mutlak tidak benar dan tidak seharusnya berada di hati kita. Bagaimana iblis meletakkannya?

            Pada waktu itu dan sampai masa kini, Tuhan Yesus adalah pengajar yang sangat ternama, dan oleh karena dunia ini sudah tercipta beserta segala isinya, maka sebelumnya pasti sudah ada pengajar-pengajar lain, yang mungkin juga dianggap hebat pada jamannya. Dan sepertinya mereka merasa tersaingi dengan begitu banyaknya pengikut dan ada begitu banyak pula yang beralih kepada pengajaran Tuhan Yesus.

            Mungkin ada juga tradisi-tradisi dan kebiasaan-kebiasaan yang selama ini sudah mereka ajarkan, akhirnya ‘dirombak’ oleh Tuhan Yesus. Tujuan Tuhan Yesus sebenarnya ingin menunjukkan kepada orang banyak, agar semua tradisi dan kebiasaan itu tidak menjadi sesuatu yang kaku dan mutlak dilakukan, padahal sebenarnya ada sesuatu maksud Bapa yang pastinya benar, tetapi dianggap oleh orang banyak bahwa Tuhan Yesus ini pengacau dan ajaranNYA sesat atau salah. Semuanya itu dikarenakan perasaan tidak nyaman dan tidak biasa, sehingga mereka tidak bisa menerima kebenaran yang dinyatakan itu.

            Perasaan tersaingi yang tidak sehat akhirnya berkembang menjadi rasa iri. Karena rasa iri itu dipelihara terus menerus maka akhirnya berkembang menjadi suatu kebencian. Kebencian hati seseorang, kemudian menjadi rasa tidak terima, dan sikap ini ditunjukkan dengan cara menceritakan segala sesuatu yang dianggap buruk tentang Tuhan Yesus kepada orang lain (istilah yang lebih mudah: Tuhan Yesus digosipkan), sehingga orang lain pun ikut-ikutan menjadi tidak suka dengan Tuhan Yesus walau pun mereka tidak mengetahui detail kisahNYA atau sebenarnya tidak menemukan kesalahanNYA (sekedar hanya mendengar cerita dan kebetulan melihatnya). Maka mulailah sekelompok orang yang membenci yang kemudian menyebarluaskan ‘keburukan’ Tuhan Yesus, sehingga akhirnya jumlah orang yang ikut-ikutan membenci Tuhan Yesus menjadi semakin sangat banyak.

            Mereka sangat tidak bisa terima dengan kehadiran Tuhan Yesus, sehingga mereka bukannya semakin terbuka matanya oleh kebenaran melainkan justru mereka semakin membenci Tuhan Yesus dan menolak ajaranNYA itu, menolak kehadiranNYA dan tujuan akhir mereka tidak hanya mengusir Tuhan Yesus keluar dari daerah mereka, tetapi mereka juga ingin membunuh Tuhan Yesus.

             Di tengah-tengah antara orang-orang yang membenci Tuhan Yesus dengan Tuhan Yesus sendiri ada Pontius Pilatus. Istri dari Pontius Pilatus yang sudah mengetahui kebenaran bahwa Tuhan Yesus tidak bersalah membantu memperingatkan Pontius Pilatus agar tidak sampai ikut-ikutan menghukum Tuhan Yesus (Matius 27:19 “Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu sebab karena DIA aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam”).

             Sehingga Pontius Pilatus itu pun berusaha mengambil jalan tengah dengan berusaha ‘memperingatkan’ kepada orang banyak agar mereka tidak menghakimi dan membunuh Tuhan Yesus. Tetapi oleh karena kebencian mereka yang menggebu-gebu dan Pontius Pilatus pun tidak bisa memberikan bukti yang akurat, maka akhirnya mereka tetap memaksa Tuhan Yesus untuk dibunuh. Mata mereka tidak lagi dapat melihat dan telinga mereka tidak dapat mendengar peringatan yang disampaikan karena kebencian sudah menguasai hati mereka.

             Posisi Tuhan Yesus sudah tidak dapat tertolong lagi karena Pontius Pilatus pun tidak bisa melakukan pembelaan tanpa bukti-bukti yang akurat, sedangkan ada begitu banyak orang yang hatinya telah ditutup oleh kebencian itu yang memaksa Tuhan Yesus dijatuhi hukuman mati. Sehingga Tuhan Yesus berada di posisi yang sangat lemah, dan orang banyak pun semakin merasa yakin bahwa mereka berada di posisi yang benar untuk membunuh Tuhan Yesus.

               Sampai pada waktu Tuhan Yesus meninggal, dinyatakanlah bukti mulai dari tirai bait suci yang terbelah menjadi dua dari atas sampai bawah, awan gelap seketika melingkupi seluruh bumi, dan lain-lain, barulah orang banyak itu mengakui bahwa Tuhan Yesus itu benar. Dan setelah itu tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi dengan orang-orang yang jahat itu. Mungkin saja mereka mati, atau mengalami penyakit yang membuatnya menderita seumur hidupnya, atau keburukan-keburukan yang lain yang harus mereka tanggung akibat dari kejahatan yang telah mereka lakukan. Tetapi yang pasti Tuhan Yesus dimuliakan dan semua murid serta orang-orang yang tidak ikut-ikutan membenci Tuhan Yesus juga pasti ikut mengalami sukacita karena kemenanganNYA.

               Demikian juga dalam realita hidup ini, ada kalanya ketika ‘kenyamanan’ atau ‘kebiasaan’ kita ‘dirombak’ oleh kebenaran, kita menjadi sangat marah. Tetapi seorang yang baik, seharusnya dia tidak membiarkan dirinya dikuasai dengan kemarahan. Memang ada rasa capek, rasa kesal, kecewa, dan lain-lain, tetapi kita harus ingat bahwa kemarahan hanya akan membuat sakit hati orang lain dan membuat malu diri sendiri baik terhadap orang yang kita marahi, mau pun kepada Tuhan. Bukankah kita tidak tahu apa dibalik semuanya yang terjadi didalam hidup ini? Untuk apa kita marah-marah dan memaki-maki orang lain atau terhadap sesuatu penyebab yang belum tentu bersalah?

               Kadangkala seseorang yang merasa berada di posisi yang kuat, memiliki banyak pembela, mungkin memiliki ribuan kenalan mafia kelas kakap, sehingga sekali pun ‘lawan’ berada di posisi yang benar namun karena lemah kekuatannya, maka seseorang yang merasa berada di posisi yang kuat itu tidak akan segan-segan menindas lawannya. Ingat: penghakiman datangnya terakhir! Hati-hati dengan semua kekuatan yang kita miliki dan kerahkan!

                Ada begitu banyak orang yang merasa kecewa, merasa hidupnya dikacaukan, merasa dirinya tersaingi, merasa apa yang direncanakan dan dibayangkan tidak sesuai dengan yang diinginkan di harapkan, atau bahkan merasa takut dipermalukan atau sudah merasa dipermalukan, maka akhirnya timbul kemarahan dan pemberontakan itu, berbagai usaha dilakukan untuk mencegah dan bertujuan agar keinginan dan harapan pribadinya tercapai. Usaha-usaha tersebut sampai mencapai tahapan memutarbalikkan kebenaran, padahal mereka sudah mengetahui bahwa mereka melakukan kesalahan. Isi Firman Tuhan yang seharusnya tidak dapat diperdebatkan, tetapi akhirnya menjadi bahan perdebatan. Kedua belah pihak berusaha untuk menunjukkan kebenaran isi Firman Tuhan, memutarbalikkan dan menggunakan setiap isinya untuk melakukan penyerangan. Dan masih ada banyak hal lainnya juga bisa dilakukan, termasuk berani menggunakan nama Tuhan untuk melindungi diri. Sehingga mereka tidak sadar semua usaha yang mereka lakukan itu akhirnya mereka mengorbankan banyak hal dan ada orang-orang yang sangat tersakiti dan terpojok.

                Semua hal itu adalah sikap alami seorang manusia. Apalagi jika itu menyangkut masalah janji, ego, dan gengsi, maka sekali pun kita tahu bahwa kita salah, kita akan tetap berusaha bertahan. Tetapi kita harus ingat: jangan sampai ketika kebenaran sudah ditunjukkan, bahkan mungkin ada ‘penengah’ yang sebenarnya sudah berusaha memberitahukan sesuatu yang benar itu, kita tetap menutup mata kita dan tidak mau tahu bahkan tetap merasa diri yang paling benar.

                Memang semua kejadian itu diijinkanNYA terjadi untuk mencapai suatu tujuan tertentu bagi kedua belah pihak. Tetapi di satu sisi, untuk apa kita rela dibutakan oleh kebencian kita sehingga kita menyakiti orang yang tak bersalah?

                 Kebencian terhadap sesuatu tidak akan menghasilkan apa pun juga. Ketika kita benci, yang ada hanyalah mata kita tak dapat melihat sesuatu yang baik lagi, kita mencari bukti bahwa kita salah, tetapi bukti itu tidak akan kita dapatkan karena kebencian telah menutupi semua hal yang baik. Ketika kita benci, kita keluar dari jalur Tuhan. Kebencian hanya membuat sakit di hati kita sendiri dan orang lain. Kebencian mutlak tidak memberikan keuntungan apa pun juga dan bagi siapa pun juga. Kita mungkin berhasil menyingkirkan bahkan membunuh seorang yang kita benci, tetapi apakah itu berarti semuanya lunas? Jawabannya adalah belum, urusan kita sendiri belum selesai, khususnya urusan pribadi kita dengan Tuhan, karena kita tetap harus bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan.

                 Jika hati kita menjadi pahit dan akhirnya timbul kebencian, maka alangkah baiknya jika kita berdiam dibawah kaki Tuhan, membereskan semuanya dulu, berdamailah dengan hati kita itu, buanglah jauh-jauh kebencian itu, agar kita dapat melihat sesuatu yang positif dan akhirnya dapat mendengar serta melihat perencanaan Tuhan didalam semuanya itu. Sehingga pada akhirnya bersama-sama dapat menerima kemenangan dan kemuliaan yang Tuhan berikan bagi kita semua.

                 Semuanya itu proses untuk membawa kebaikan bagi kita semua. Proses terjadi sebagai persiapan untuk kita berada di langkah yang berikutnya. Untuk menghancurkan kebencian, ego, dan harga diri kita dihadapan Tuhan juga termausk proses, karena kita ini bukan siapa-siapa. Mungkin kita kepingin bersaing dengan orang lain, tetapi kita diijinkanNYA kalah dalam persaingan itu, karena sebenarnya DIA sangat mengasihi kita, DIA tidak ingin kita sombong. Mungkin juga ada kalanya bukan untuk memproses masalah kelemahan kita, tetapi melalui proses Tuhan ingin mempersiapkan kita untuk menghadapi apa yang ada didepan yang belum kita ketahui.

                 Jadi kesimpulannya, jangan sampai kita menyimpan kebencian karena itu hanya akan membutakan mata kita terhadap rencana Tuhan yang indah! Meski pun tampaknya sesuatu hal itu buruk di mata manusia, tetapi percayalah Tuhan tahu yang terbaik untuk anak-anakNYA. Jadi jangan pernah berpatokan pada kebiasaan-kebiasaan yang belum tentu itu sesuai dengan maksud penciptaan Tuhan, serta jangan pernah menghakimi segala sesuatu yang ada dan yang terjadi karena semua yang sudah Tuhan ciptakan dan rencanakan itu sangat baik dan sempurna!

                 Tuhan memberkati!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s