100


seratus rupiahs

            Sesuai dengan judul artikel ini, maka artikel yang berhasil saya muat didalam weblog saya jumlahnya ada seratus. Ada lebih dari seratus artikel yang sudah saya buat sejak sekitar tahun 1996, tetapi selama saya memiliki weblog, maka ini adalah artikel ke seratus yang saya berhasil muat.

            Seorang teman kerja, yang bernama Lily, yang berada di kantor cabang memberikan saya ide mengenai tulisan ini. Lily menceritakan ada seorang artis yang mengumpulkan uang pecahan seratus rupiah dari para warga dan penggemarnya, yang kemudian hasilnya akan disumbangkan kepada warga yang terkena bencana alam.

            Kelihatannya uang pecahan seratus rupiah itu sangat kecil nilainya, bahkan tak berarti apa-apa. Karenanya mungkin kita tidak mengalami masalah jika harus memberikan uang pecahan  seratus rupiah untuk para pengamen atau peminta-minta. Tetapi ketika uang pecahan itu terkumpul dari puluhan, atau ratusan, bahkan jutaan warga yang ada di seluruh Indonesia saja, maka pecahan uang itu jumlahnya bisa saja menjadi jutaan rupiah.

            Ada seorang yang begitu perhitungan, jadi sekali pun kembalian seratus rupiah saja dimintanya. Tetapi sebaliknya ada begitu banyak orang yang sangat menyepelekan uang pecahan seratus rupiah.

            Suatu hari ketika saya makan siang dengan dua orang teman saya ke suatu restaurant, pada akhirnya ketika waktu pembayaran, sang pelayan datang menghampiri kami dan mengatakan bahwa dia tidak mempunyai uang kembalian sebesar tiga ratus rupiah, sehingga ditiadakannya. Jadi misalnya saja kami harus mendapatkan uang kembalian seribu tiga ratus rupiah, maka kami hanya mendapatkan uang kembalian seribu saja.

            Teman saya menjadi sangat begitu marah, sebenarnya bukan karena uang tiga ratus rupiahnya, tetapi karena cara pelayan yang begitu sangat tidak sopan, menganggap remeh uang tiga ratus rupiah lalu meniadakannya dengan semena-mena.

            Jadi sebenarnya suatu pecahan ratusan yang ada itu tidaklah menjadi begitu penting artinya bagi kebanyakan orang, sehingga tidaklah mengherankan jika ada begitu banyak orang yang meremehkannya, bahkan mungkin jika sekeping uang seratus hilang, orang itu tidak akan kebingungan mencarinya.

            Tahun berganti tahun, sehingga pecahan uang demi pecahan pun lambat laun nilainya tidak akan berarti lagi. Padahal jika saya mendengar cerita dari papi dan mami saya, maka mereka akan bercerita bahwa dahulu di jamannya mereka waktu masih duduk di bangku Sekolah Dasar, maka harga sepincuk rujak cingur itu hanya lima rupiah saja. Jadi bisakah pembaca membayangkan seberapa besar nilai pecahan seratus rupiah pada waktu itu? Sedangkan sekarang harga rujak cingur SP saja sekitar lima belas ribu rupiah.

            Dan bergantinya tahun demi tahun, ada begitu banyak orang juga yang sulit untuk bisa menghargai satu dengan yang lainnya. Aku yang menjadi terutama. Aku yang paling benar. Aku yang paling pintar. Aku yang harus dijunjung tinggi. Aku yang harus dihormati. Aku yang harus dihargai. Aku yang harus diperhatikan. Aku yang harus didahulukan. Aku dan aku dan aku dan aku dan aku yang harus diutamakan.

            Jose Carol dalam kotbahnya di hari perayaan ulang tahun GKPB Masa Depan Cerah bulan Juni 2009 ini mengatakan bahwa jika kita ada sekarang ini, sebenarnya ada orang-orang yang terlebih dahulu ada sebelumnya. Contohnya jika tidak ada yang membangun dan merintis dengan susah payah perusahaan tempat kita bekerja saat ini, maka kita tidak akan pernah bekerja didalam perusahaan ini dan mendapat penghasilan serta memenuhi segala kebutuhan dan keinginan kita.

            Kita ada sampai saat ini, memiliki segala sesuatu yang ada, selain harta kekayaan, alkitab mengatakan bahwa kita ini mempunyai hidup, nafas kehidupan, berada didalam bumi dan segala isinya, karena ada peran serta orang-orang yang ada disekitar kita dan sudah seharusnya kita mensyukurinya.

            Seringkali kita dengan semena-mena menyuruh bawahan, memarah-marahi orang lain dan mengatakannya bodoh, buruk, dan sebagainya, apakah kita tidak pernah menyadari bahwa tanpa mereka, kita tidak akan mendapatkan kemudahan demi kemudahan? Misalnya saja seorang pesuruh, yang salah membelikan makanan, lalu kita memarahinya dengan sangat sehingga kita mengeluarkan dia. Apakah kita tidak menyadari bahwa tanpanya tidak akan ada yang bisa kita suruh untuk membelikan makanan lagi?

            Jangan kita menjadi sombong dan dengan mudah merendahkan serta mencaci maki orang lain, karena kita bukanlah seorang yang paling hebat dan paling mampu. Tuhan bisa saja menampar kita dan akibatnya kita menjadi mati, seperti Herodes yang ditampar oleh malaikat Tuhan dan akhirnya mati (Kisah Para Rasul 12:23).

            Ingatlah bahwa diatas manusia masih ada Tuhan yang mempunyai kedaulatan penuh atas manusia itu. Jadi sebagai manusia dan sesama manusia, alangkah baiknya jika kita hidup saling menghargai dan mengasihi satu dengan yang lain. Tidak mendendam dan tidak saling membenci serta saling menghancurkan satu dengan yang lain.

            Tuhan memberkati.

***Ide cerita: Lily Calista

2 thoughts on “100

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s