Kematian, Apakah Menakutkan?


            Kematian adalah sesuatu hal yang sangat menakutkan, mengerikan, dan sangat menakutkan. Walau pun mengenai hal itu telah dituliskan didalam Firman Tuhan bahwa jika kita mati didalam Tuhan, maka hal itu adalah sesuatu hal yang sangat membahagiakan. Tetapi karena bukan merupakan suatu hal yang biasa dan kita tidak tahu apa yang terjadi kemudiannya, maka akhirnya kita menjadi takut dan sangat sedih karena kehilangan orang yang kita sayangi.

            Saya pun sangat ketakutan sekali kehilangan mami sejak sewaktu mami saya di vonis mengidap sakit breast cancer. Bahkan sebelum mami saya sakit, karena begitu sayangnya saya dengan mami, saya pun sering ketakutan ditinggal mami. Pada waktu itu saya tidak dapat membayangkan jika mami pergi untuk selama-lamanya.

            Perjalanan mami selama hampir tiga tahun melawan sakit kanker, membuat saya akhirnya rela ditinggalkan mami daripada sedih melihat mami sengsara jika harus terus menerus bertahan hidup dengan penyakitnya itu.

            Setiap orang berusaha menghibur saya dan selalu mengatakan bahwa mami sudah bersenang-senang di surga, sudah tidak merasakan sakit, sudah happy dekat dengan Bapa, dan sebagainya. Dalam hati saya pun mempercayai bahwa mami benar-benar sudah bahagia duduk dipangkuan Bapa dan tidak merasakan sakit lagi.

Tak berapa lama, papa dari seorang teman meninggal dunia. Seperti yang kita ketahui bersama, dia adalah bapak Demsi. Dia adalah seorang kapten kapal. Dari ceritanya, anak buahnya di Singapore bercerita jika mereka saling men-traktir dan yang membayar adalah si kapten (pak Demsi), maka tidak boleh ada minuman keras (tidak ada minuman beralkohol yang boleh muncul). Padahal jika orang lain yang men-traktir maka bir (minuman keras), itu wajib ada. Rekan-rekan sekerjanya di Singapore, ketika menghadiri acara kebaktian penghiburan, semuanya sangat bersedih dan ikut menangis merasakan kehilangan yang sangat dalam, serta mengatakan bahwa tidak ada orang seperti beliau, yang begitu friendly, bersahabat, dan benar-benar cinta dan takut akan Tuhan.

            Dia sangat teramat mencintai istri dan anak-anaknya. Apa pun diusahakannya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Dia juga adalah seorang yang sangat rendah hati. Bahkan pernah seseorang bercerita ketika seorang teman mengatakan bahwa dia adalah seorang koki kapal, dia hanya menyambutnya dengan canda tawa. Tidak ada sikap tidak terima dan tidak ada usaha untuk memamerkan bahwa dia adalah seorang kapten.

            Tidak hanya rekan kerjanya saja, tetapi gembala dan jemaat GKPB Masa Depan Cerah yang ada di Singapore yang mengenalnya pun mengakui bahwa pak Demsi adalah sosok seorang ayah yang sangat luar biasa baiknya. Walau pun sebagai manusia, pasti ada keburukannya, tetapi baik keluarga, sanak saudara, rekan-rekan kerja, dan sebagian besar jemaat yang mengenalnya, selalu mengatakan betapa sederhana dan baik budinya. Kehidupan beliau sangat diteladani.

            Dari beberapa kisah kepergian orang-orang yang baik hatinya membuat saya melihat bahwa orang-orang baik itu biasanya cepat sekali dipanggil oleh Tuhan. Saya pernah membaca sebuah kisah yang berkaitan dengan kematian, dikatakan dengan kalimat sederhananya bahwa orang-orang baik akan segera Tuhan panggil, agar tidak melakukan dosa di kemudian hari yang bisa menjauhkannya dari Tuhan.

            Kita semua tahu bahwa hidup ini adalah suatu perjuangan. Ada yang mengatakannya bahwa perjuangan itu adalah untuk mencari harta kekayaan agar terpenuhi semua kebutuhan hidup. Itu bukannya salah, melainkan sebenarnya ada yang lebih penting dari semuanya itu, yaitu bagaimana memperjuangkan iman dan hidup ini untuk benar-benar menjadi pelaku firman dan bagaimana membuat hidup kita menjadi anak kesayangan Bapa serta dikenanNYA.

            Penilaian Tuhan dan penilaian manusia itu berbeda. Mungkin manusia mengatakan bahwa seseorang itu baik atau mungkin sebaliknya ada yang mengatakan bahwa itu kutukan, tetapi Tuhan masih melakukan penilaian yang lain-lain yang tidak akan pernah dapat dimengerti oleh manusia, misalnya saja bagaimana kebergantungannya dengan Tuhan, bagaimana imannya kepada Tuhan, bagaimana kesetiaannya kepada Tuhan, dan lain-lain (hanya Tuhan yang tahu).

            Kematian sebenarnya bukanlah sesuatu hal yang menakutkan, apalagi jika hidup kita ini dijalani dan diisi oleh iman serta pengenalan kepadaNYA dan yang terpenting jika hidup kita dikenan olehNYA, maka bukanlah sesuatu hal yang menakutkan lagi untuk menghadap kepadaNYA.

            Mengenai yang ditinggalkan, memanglah tidak mudah jika ditinggalkan oleh orang-orang yang kita kasihi, hati ini pasti sedih dan sangat berduka. Tetapi satu hal yang saya dapatkan dari pengalaman saya sendiri bahwa jika Bapa mengambil, maka DIA pasti akan bertanggung jawab. Kita semua ini adalah anak-anak kesayanganNYA, DIA tidak akan pernah tidak memperhatikan kita.

            Bagi mereka-mereka yang sudah mendahului kita pulang ke rumah Bapa, biarlah kehidupan dan iman mereka kepada Tuhan itu bisa menjadi teladan bagi kita. Dan bagi kita yang masih harus berjuang dalam hidup ini, kita sama-sama tidak mengetahui bagaimana itu kematian, tetapi marilah kita bersama-sama meningkatkan iman dan pengenalan akan Tuhan lebih lagi. Jadilah sahabat Tuhan! Jadilah anak-anak yang dikasihi dan yang dikenan olehNYA! Agar pada saatnya nanti, kita semua dapat mengalami kemenangan dalam perjuangan iman kita dan bertemu kembali dalam perjamuan Bapa untuk semua anak-anakNYA di surga.

            Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s