Apa yang Sudah Kita Miliki?


            Suatu hari dalam suatu pembicaraan ringan dan santai tetapi cukup berkesan bagi yang mendengarkan, seorang pendeta bernama Cornelis Kailas Bidara bercerita mengenai beberapa tingkatan yang ada pada diri seseorang. Berikut detailnya:

            Yang pertama adalah seorang penakut. Apa pun yang terjadi dalam diri seseorang yang penakut, maka dia akan selalu mengalami kekalahan, karena dalam hal apa pun rasa takutnya sudah menguasai dirinya dan ketika hal itu terjadi, maka dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

            Yang kedua adalah si pemberani. Seorang yang berani, dia bisa menghadapi dan ‘melindungi’ para penakut. Si pemberani lebih bisa mengayunkan langkah kakinya untuk maju, menghadapi apa yang didepan, meski pun dia mungkin belum mengetahuinya. Tetapi ada kalanya si pemberani pun akan berhenti pada suatu titik tertentu karena keterbatasannya.

            Yang ketiga adalah seseorang yang nekad. Seseorang yang nekad, masih lebih unggul daripada seseorang yang pemberani. Pada suatu titik tertentu si pemberani bisa saja dia berhenti karena  merasa bahwa hal itu tidak masuk akal untuk dilalui. Tetapi seorang yang nekad, dia tidak lagi menggunakan logika atau perasaannya. Misalnya saja seseorang karena kondisi yang sangat terdesak, akhirnya dia nekad melakukan segala hal untuk bisa melalui kondisi tersebut.

            Yang keempat adalah seorang yang ‘gila’ (nb: bukan seseorang tidak waras). Saya pernah menuliskan sebuah artikel mengenai hal ini, bahwa orang-orang yang bisa menciptakan sesuatu yang akhirnya bermanfaat bagi banyak orang di muka bumi ini atau menjadi tenar karena sesuatu hal yang dibuatnya, kebanyakan adalah orang-orang yang punya ide gila (inilah yang saya katakan bahwa orang-orang itu adalah orang-orang yang gila). Sekali pun seseorang itu punya keberanian yang luar biasa dan punya rasa nekad, tetapi jika dia tidak mempunyai ide-ide yang ‘gila’, yang tidak semua orang bisa punya ide atau pemikiran seperti itu, maka seseorang itu belum tentu bisa menjadi sukses.

            Yang kelima adalah orang yang beruntung. Cerita si Untung dalam kisah Donal Bebek mungkin akan memudahkan kita memahaminya. Beberapa kali saya bertemu dengan seorang teman sales yang menurut saya hoki nya besar (seperti si Untung), karena tanpa harus dengan susah payah, customer yang selalu datang kepadanya memberikan dan mempercayakan keuangannya untuk dikelola. Dan tentunya hal ini menguntungkan si sales. Demikianlah jika seorang yang sudah beruntung, maka dalam hal apa pun, dia akan selalu lebih mudah untuk mendapatkannya.

            Yang keenam adalah orang yang beriman. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11:1). Dengan iman, seseorang bisa menjadi sukses, sembuh dari penyakit, terselamatkan dari bencana alam dan kecelakaan, dan sebagainya. Seseorang boleh menjadi seorang yang beruntung dimana pun dia berada, tetapi ketika dia tidak memiliki iman, maka keberuntungan yang dia miliki tidak akan membawanya pada keselamatan yang sesungguhnya (tidak menjaminnya masuk surga).

            Yang ketujuh adalah orang yang dipakai Tuhan (atau dikenan Tuhan). Dan inilah yang terakhir, yang sebenarnya paling penting. Seorang pemberani, memiliki kenekadan yang luar biasa, atau ide gila yang paling canggih sekali pun, atau keberuntungan yang tak mengenal kata gagal, dan bahkan seseorang yang iman yang setinggi langit, tetapi jika seseorang itu tidak berkenan dihadapan Tuhan atau tidak berkenan dihadapanNYA, maka semua yang dia miliki itu akan sia-sia.

            Seperti halnya, ketika kita berusaha bersekolah, mencapai nilai tertinggi, dan selalu menjadi seorang yang sukses dalam pekerjaan, demi menyenangkan hati orang tua atau orang yang kita kasihi, tetapi ketika kita pulang dan mendapati orang tua kita atau orang yang kita kasihi sudah tidak ada (meninggal dunia), maka semua yang telah kita lakukan atau usahakan itu adalah sia-sia saja.

            Pertanyaannya: saat ini kita ada dalam tingkatan yang mana?

            Apa tujuan hidup kita selama ini? Atau apa yang selama ini kita inginkan? Apakah kita hanya sekedar ingin bisa mengalahkan nilai dari teman kita yang ranking pertama di sekolah atau kampus kita? Atau apakah kita hanya ingin sekedar bisa mempunyai uang untuk membeli berbagai hal yang kita inginkan atau untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga? Atau kita ingin menimbun harta agar sampai berpuluh-puluhan keturunan kita tidak akan mengalami kesulitan? Atau kita hidup agar kita bisa mendapatkan kehormatan, kedudukan, dan dihargai orang lain? Atau kita hidup ini untuk membangun kehidupan kita agar pada waktuNYA nanti kita benar-benar dapat berkenan dihadapanNYA?

            Dari tujuan yang kita tetapkan, maka kita bisa menentukan kita akan berada dalam tingkatan yang keberapa.

            Sebenarnya tidak ada tingkatan yang buruk, termasuk menjadi seorang yang penakut bukanlah sesuatu hal yang buruk karena jika memang itu menyangkut masing-masing pribadi. Tetapi kita harus yakin bahwa hidup kita ini berkenan di hati Sang Pencipta. Karena pada akhirnya nanti, kita memang harus kembali menghadap kepadaNYA. Jika memang kita merasa belum berkenan, maka mari kita tingkatkan kualitas hidup kita…! Tuhan memberkati!

***Ide oleh Cornelis Kailas Bidara

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s