Laugh Together


            Suatu hari saya mendengar seorang ibu bercerita bagaimana dia sangat mengingat kalimat Oprah Winfrey “Lebih mudah menangis dengan orang bersedih daripada tertawa dengan orang sukses”. Lalu si ibu mengatakan lagi bahwa memang benar, begitu mudahnya kita merasa simpati dengan penderitaan orang lain, tetapi begitu sulitnya kita turut bersukacita dengan orang yang meraih kesuksesan.

            Beberapa saat lamanya kemudian saya merenungkan sebuah kalimat tersebut. Saya berusaha mengingat-ingat beberapa kejadian yang pernah saya alami bersama teman-teman saya. Saya mengandaikan: jika seorang teman sedang bersusah hati lalu menceritakan masalahnya kepada saya, maka saya dengan mudahnya turut bersedih, turut memikirkan, mungkin sesekali bisa ikut tidak tidur, dan lain-lain.

            Sebaliknya jika seorang teman sedang bersenang hati, lalu menceritakan apa yang membuatnya senang, saya hanya menunjukkan reaksi yang biasa-biasa saja, tersenyum dan mengatakan “syukurlah” atau “congratulation”.

Saya rasa, kebanyakan orang juga akan memberikan reaksi yang biasa-biasa saja ketika mendengar atau mengetahui bahwa seorang rekannya mengalami kesuksesan atau mengalami suatu kebahagiaan tertentu. Maksimal reaksi seseorang itu paling-paling hanya ikut terkejut dan tertawa. Tetapi didalam hatinya, jarang sekali yang bisa benar-benar turut berbahagia.

            Firman Tuhan mengatakan bahwa satu orang bertobat, maka seluruh malaikat di surga akan bersorak sorai menyambutnya dengan gembira. Pernahkah bapak/ibu, saudara/i memikirkan: “apa kaitannya malaikat di surga dengan manusia-manusia di bumi”?

            Para malaikat di surga, seringkali menjadi ‘suruhan’ Tuhan untuk menolong manusia-manusia di bumi. Jadi mungkinkah malaikat di surga bersorak sorai karena merasa lega, beban mereka sedikit berkurang? Tetapi menurut saya, justru sebaliknya, karena Bapa di surga begitu gembiranya melihat anakNYA ada yang kembali kepadaNYA, maka seluruh malaikat di surga pun turut bersukacita atas kebahagiaan ‘Tuan’-nya itu.

            Bisa kita bayangkan: bagaimana caranya kita bisa bersorak sorai gembira atas kegembiraan orang lain, jika kita tidak bisa turut merasakan kegembiraan itu? Apalagi jika seseorang itu adalah pesaing bisnis kita atau seseorang yang sangat menjengkelkan, sudah menyakiti hati kita berkali-kali, dan sangat sombong, tetapi lagi-lagi dia mengalami kesuksesan. Bisakah kita turut berbahagia atas kebahagiaannya?

            Saya tidak mengatakan bahwa kita harus berbahagia jika ada seseorang berhasil mencuri atau menggelapkan uang dalm jumlah tertentu. Tetapi hal ini berkaitan dengan kerendahan hati dan ketulusan hati kita semua.

            Tidak ada keuntungan atau kerugian buat kita untuk turut bersedih atau bersukacita atas kesusahan atau keberhasilan orang lain apalagi jika mereka-mereka itu bukan seseorang yang berkaitan dengan kita dan atas kesusahan dan berkat yang mereka peroleh pun tidaklah membebani kita atau membagikan berkatnya kepada kita.

            Hanya saja jika kita sendiri mengalami kesusahan, lalu melihat orang lain sukses, maka sangatlah mudah kita mengalami iri hati. Sebaliknya jika kita sendiri sudah mengalami sukses, maka ada kemungkinan kita pun bisa menyombong: “halah, sukses segitu saja…belum seperti saya”. Atau ada lagi, dengan melihat kesuksesan orang lain, maka timbul niat jahat seperti ingin mengambil keuntungan atasnya, entah dengan cara-cara yang halal atau tidak halal.

            Saya tidak menganjurkan untuk kita bereaksi berlebihan didalam menanggapi kesuksesan orang lain, tapi saya hanya ingin kita bersama-sama mengkoreksi hati kita: apakah selama ini kesuksesan orang lain diikuti dengan iri hati atau dengan ketulusan hati, bisa menerima bahwa memang seseorang itu layak mengalami kesuksesan?

            Jika kita memang ingin sukses, maka kita bisa belajar dari kesuksesan orang lain dan atau mengkoreksi diri lebih lagi, apa kekurangan kita, sehingga kita bisa turut mengalami kesuksesan itu. Tetapi jika kita hanya sekedar iri hati, lalu dengki terhadap seseorang itu, menjauhinya, berbuat jahat kepadanya, maka yang terjadi biasanya kita akan semakin terperosok pada kegagalan kita dan seseorang itu yang akan terus menerus mengalami kesuksesan.

            Bukan hal yang mudah untuk memiliki hati yang benar-benar tulus dihadapan Tuhan. Tetapi jika kita mau belajar untuk bersikap rendah hati dan berpikir positif serta dapat menguasai diri kita sendiri (tidak membiarkan gosip atau dugaan-dugaan serta iri hati itu masuk didalam hati dan pikiran kita), maka hati yang tulus itu bisa kita miliki.

            Marilah kita bersama-sama belajar, memuji kebaikan orang lain dan memberikan perkataan-perkataan yang positif kepada orang lain. Dan jika kita meraih suatu keberhasilan, biarlah keberhasilan kita itu dinyatakan dengan cara yang baik, sopan, dan tulus, tanpa menimbulkan iri hati orang lain.

            Tuhan memberkati.

***Ide dari Ibu Sophia Kailas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s