Appreciation


            Setiap satu tahun sekali, di tempat saya bekerja saat ini, selalu mengadakan acara yang disebut dengan appreciation day. Pada hari yang ditentukan, semua atasan ikut terjun di lapangan, bekerja, membantu para bawahannya, tentu saja dengan semua batasan-batasan yang ada. Tetapi yang pasti di sore hari, para staff dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi, berkumpul untuk mengadakan makan bersama dan yang melayani, menyediakan, mengambilkan makanan adalah para atasan. Jadi para atasanlah yang menyediakan segala sesuatunya untuk melayani bawahan mereka.

            Selain itu, sejak pagi hari, telah dibagikan beberapa kertas kecil untuk masing-masing staff menuliskan suatu kata-kata penghargaan (appreciation) terhadap staff lain yang mereka anggap patut untuk mendapatkannya, entah karena rajin bekerja, atau karena suka menolong, dan lain sebagainya.

            Salah satu artikel saya ada yang menuliskan tentang bagaimana kita belajar untuk bisa mengucapkan 3 (tiga) kata yang cukup penting, yaitu terima kasih (thank you), maafkan saya (I’m sorry), dan saya mengasihimu (I love you). Jauh sebelum saya menuliskan artikel-artikel tersebut, saya sudah belajar untuk bisa mengatakan ketiga kata tersebut. Jadi bukanlah suatu hal yang sulit buat saya untuk menghargai seseorang dengan kata-kata pujian.

            Seperti waktu seorang teman saya yang posisinya sebagai customer service, saya melihat dia begitu konsistennya melayani customer yang datang, tanpa memandang customer tersebut adalah seorang yang kaya atau hanya sekedar pesuruh biasa, dia tetap berusaha melayani dengan senyum dan jawaban yang tidak setengah-setengah (malas menjawab karena toh dia hanya sekedar pesuruh). Begitu dia tidak ada customer, saya mendatanginya dan mengatakan bahwa saya sangat suka dengan cara dia bekerja dan tidak segan-segan saya memuji dia didepan atasannya.

            Minggu, 29 Nopember 2009, Jeffry Rahmat dalam kotbahnya mengatakan bahwa sesuatu yang tidak kelihatan itu menentukan apa yang terlihat. Jadi apa yang ada di hati kita, itu akan terpancar keluar, demikianlah yang tertulis didalam Firman Tuhan. Dari situ, saya sedikit diingatkan bahwa kadangkala kita lupa bahwa suksesnya suatu acara ditentukan oleh orang-orang yang turut campur tangan dibelakangnya, misalnya saja penata rias, orang-orang yang ada di bagian sound system, penjahit pakaian (mungkin pada acara-acara tertentu jika harus menggunakan pakaian baru), orang yang telah datang lebih dahulu untuk menyalakan AC, menata kursi, lighting (penata lampu), dan satu lagi yang sering orang lupakan adalah yang bertugas di bagian LCD di gereja (untuk beberapa gereja tertentu mungkin masih menggunakan OHP).

            Mereka-mereka itu bukanlah orang-orang yang bertemu dengan jemaat, tidak banyak yang tahu mengenai keberadaan mereka, tetapi jika ditemukan suatu kesalahan, misalnya saja alat musik tidak bisa dinyalakan, atau mungkin make up artis terlalu tebal atau kostumnya terlambat datang, maka yang paling diingat untuk dimarahi adalah mereka. Sebaliknya ketika semuanya sukses, yang pertama kali mendapatkan pujian adalah orang-orang yang tampil didepan, diatas panggung atau diatas mimbar, kecenderungannya, mereka-mereka yang dibelakang layar sering dilupakan.

            Didalam gereja, petugas LCD cukup berperan penting bagi jemaat, jika mereka salah atau terlambat meng-klik bagian kata dari lagu yang dinyanyikan maka jemaat yang tidak hafal lagu tersebut tidak akan bisa ikut bernyanyi dengan baik. Pernahkah kita mengerti dan ingat mengenai hal itu, serta memberikan apresiasi kepada mereka?

            Seringkali orang lebih suka tampil didepan karena adalah suatu hal yang manusiawi sekali jika seseorang mengharapkan pujian. Suatu artikel yang menuliskan tentang seorang petugas kunci yang ada di sebuah hotel, pekerjaannya setiap hari adalah mencoba semua kunci kamar yang ada di hotel itu apakah kunci-kunci tersebut masih berfungsi dengan baik, yang jumlahnya tentu saja ratusan kamar. Dia mengerjakan hal itu sudah bertahun-tahun lamanya. Suatu hari ada seseorang yang bertanya kepada petugas kunci itu: “apakah bapak tidak merasa bosan dengan rutinitas ini?”, sungguh sangat mengesankan sekali jawabannya: “satu hal yang saya tahu bahwa sebenarnya pekerjaan saya ini sangatlah penting, karena jika ada satu kamar saja yang kuncinya tidak dapat berfungsi dengan baik dan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya, maka bisa saja hotel ini dituntut oleh customer yang menempati kamar tersebut atau bisa saja jika terjadi bencana kebakaran dan seseorang tertinggal didalamnya maka orang itu akan meninggal”.

            Kata-kata pujian, kata-kata yang membangun, kata-kata yang menguatkan, kata-kata dukungan, itu semuanya cukup penting bagi semua orang agar mereka tahu bahwa usaha mereka itu tidak sia-sia dan bisa meningkatkan kinerja atau semangat.

            Tetapi bagi kita semua yang mungkin selama ini selalu mengerjakan tugas-tugas yang ‘tidak kelihatan’ dan mungkin selalu dilupakan orang, ingatlah bahwa tidak ada sesuatu pun hal yang tidak berguna. Asal kita mengerjakan dengan hati yang tulus, maka Firman Tuhan mengatakan bahwa DIA yang ‘tidak kelihatan’ tetapi melihat semua hal bahkan yang tersembunyi sekali pun itu yang akan memberikan upahNYA bagi kita.

            Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s