NARSIS


“Sebab bukan orang yang memuji diri sendiri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan” – 2 Korintus 10:18 –

Narsis adalah suatu kata yang belum bisa saya temukan artinya dalam kamus bahasa Indonesia ketika saya menuliskan artikel ini. Saya baru mendengar kata narsis kurang lebih tiga tahun belakangan ini, yang entah darimana munculnya, yang artinya memuji-muji diri sendiri.

Dalam suatu candaan, ada beberapa orang yang memuji dirinya sendiri sambil berkata “daripada tidak ada yang memuji saya”. Ada juga yang lainnya dalam suatu pembicaraan serius, tetapi berusaha untuk membanggakan atau memuji-muji dirinya sendiri. Contohnya pernah seseorang berkata “Lia, saya ini bukan mau menyombongkan diri, tetapi saya ini orang yang sangat cantik, dulu cowok-cowok itu mendekati saya hanya karena saya cantik dan kaya, sampai-sampai saya trauma dan tidak mau lagi berdandan cantik, jadi sekarang saya jelek”.

Atau mungkin yang berbahaya seperti kisah dari seseorang yang sangat percaya diri, sehingga dia tidak peduli apa kata orang, sampai-sampai dia cenderung merendahkan orang lain, dan berpikir bahwa dirinyalah yang terbaik dan pendapatnya untuk orang lain itu terlalu berharga sehingga dia jarang memuji orang lain kecuali jika seseorang itu benar-benar membuatnya sangat kagum, tetapi hal itu sangatlah jarang sekali terjadi.

Ketika saya membaca ayat dari Firman Tuhan tersebut diatas, saya kembali diingatkan bahwa di jaman sekarang ini, orang berlomba-lomba untuk menjadi hebat dalam segala hal, mulai dari hebat dalam pengetahuan, dalam cara berbicara, dalam pelayanan, sampai dalam hal bisa membeli dan melakukan apa pun karena dia kaya. Namun sayangnya semua itu hanya supaya manusia menghargainya dan supaya lingkungan menerimanya. Jadi semua dilakukannya untuk menyukakan hati manusia.

Realita berkata bahwa kita hidup didunia nyata dan kita membutuhkan orang-orang di sekitar kita, karena kita tidak bisa hidup sendirian sehingga sedikit atau dalam banyak hal, kita memang harus berusaha untuk ‘peduli’ pada pendapat orang. Sampai-sampai kita lupa untuk peduli pada pendapat Tuhan.

Kita memang tidak bisa mendengar suara Tuhan secara langsung apa yang menjadi pendapatNYA seperti jika kita mendengar apa pendapat sesama teman atau saudara kita secara langsung. Tetapi dalam ayat tersebut dimaksudkan bahwa alangkah baiknya jika kita tidak memiliki rasa percaya diri yang terlalu berlebihan. Karena sekali pun seseorang itu paling baik, paling pintar, paling cakep, paling kaya, paling…paling…dan paling lainnya di antara teman-teman dan atau saudara-saudaranya, ingatlah bahwa Tuhan itu jauh lebih baik, jauh lebih pintar, dan jauh lebih dalam hal apa pun dibandingkan dengan apa pun yang ada dimuka bumi ini.

Seseorang yang memuji-muji dirinya sendiri, biasanya berawal dari karena dia tidak tahan dimaki-maki orang atau direndahkan oleh orang lain atau karena dia ingin menjadi seorang yang dianggapnya atau dianggap orang lain lebih hebat dari dirinya sehingga akhirnya dia ingin orang ‘menoleh’ dan melihat dirinya dengan cara memuji-muji dirinya sendiri dihadapan orang lain.

Berbeda dengan orang yang bisa melihat dengan lebih bijaksana tentang dirinya sendiri dan bisa menerima diri apa adanya, orang ini akan lebih bersikap menekuni pekerjaan yang ada pada dirinya, setia, tulus dan tetap rendah hati dihadapan manusia dan tentunya dihadapan Tuhan. Maka pujian Tuhan itu turun dengan adanya peningkatan baginya. Karena meskipun manusia tidak bisa melihat sesuatu yang baik dari manusia yang lain, tetapi Tuhan melihat sampai kedalaman hatinya, jika memang dirasaNYA seseorang itu tulus hatinya, maka tidak akan ada yang bisa menahan kebaikanNYA turun bagi seseorang yang dikenanNYA.

Apa gunanya kita memuji-muji diri kita sendiri? Mungkin seseorang bisa tertarik kepada kita hanya sesaat saja. Sebaliknya besar kemungkinan orang lain justru menganggap kita sombong/sok, membenci sikap kita itu, dan akhirnya menjauhi kita, atau malah mempermalukan kita.

Dan jika memang tidak ada seorang pun yang memuji kita, maka tidak ada salahnya kita belajar untuk memuji orang lain terlebih dahulu, tentu saja bukannya dibuat-buat. Bagaimana kita mendapat pujian jika kita sendiri ‘pelit’ didalam memuji orang lain?

Mari kita sama-sama belajar untuk menjadi seorang yang bisa menerima diri kita apa adanya, memiliki kerendahan hati, dan memiliki hati yang tulus didalam melakukan segala hal, dan bisa kita lihat bagaimana Tuhan memuji kita…karena sekali pun kita tidak bisa mendengar pujiannya secara langsung seperti manusia memuji kita, Tuhan punya seribu satu macam cara yang ajaib untuk menyatakan pujianNYA itu kepada kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s