Tidak Ada Batasan Untuk Belajar


            Pada suatu hari, di waktu yang bersamaan, terjadi dua kisah yang cukup menarik untuk diikuti:

            Kisah pertama, seorang anak laki-laki bernama Rapha, berusia kurang lebih dua tahun, sedang bermain sendiri dan berjalan menuju ke sebuah lemari, lalu dia melihat-lihat seluruh isi lemari tersebut. Beberapa barang diambilnya, tak lama setelah dilihatnya, lalu dikembalikannya. Sampai pada akhirnya dia merasa bosan, lalu dia menutup lemari tersebut, tetapi lemari tersebut tidak bisa ditutupnya. Seseorang akhirnya mendekatinya dan membantu untuk menutupkan lemari tersebut, yang ternyata hanya disebabkan oleh karena terganjal kunci lemari itu sendiri.

            Kisah kedua, seorang anak perempuan bernama Rach, berusia hampir delapan tahun, duduk membaca sebuah pelajaran, tampaknya dia akan menghadapi tes keesokan harinya. Beberapa saat kemudian dia bertanya kepada mamanya “ma, menanak nasi itu artinya apa?”. Papanya sedikit heran dengan pertanyaan yang menurutnya begitu mudah tetapi anaknya tidak mengerti, sehingga sedikit dimarahinya sambil diberitahunya “menanak nasi itu ya sama seperti masak nasi itu lho…”.

            Tanpa diketahui oleh anaknya, mamanya pun berusaha menjelaskan kepada papanya bahwa dalam keseharian mereka tidak pernah menyebutkan atau mengajarkan kepada anaknya kata menanak nasi karena kata umum yang biasa digunakan adalah memasak nasi.

            Dari kisah yang pertama, kita mungkin bisa memaklumi jika seorang anak berusia dua tahun tidak bisa menutup lemari, karena dia tidak mengerti bahwa sebenarnya sangatlah mudah membetulkan lemari tersebut untuk bisa ditutup kembali. Dan dari kisah yang kedua, mungkin bagi kita terdengar aneh seorang anak berusia hampir delapan tahun tetapi dia tidak mengerti arti kata menanak. Padahal sebenarnya itu adalah suatu hal yang lumrah karena keseharian mereka tidak pernah memperkenalkan kata menanak, tetapi lebih umum menggunakan kata memasak.

            Demikian juga dalam hidup ini, baik dalam dunia kerja, mau pun dalam hal kerohanian. Jika ada orang-orang yang baru saja terjun dalam dunia kerja (fresh graduate), atau baru saja bertobat, maka kita bisa dengan mudah memaklumi mereka ketika mereka berbuat salah atau lalai. Dengan santai dan sabar kita bisa menolong dan menginformasikan kepada mereka berbagai hal yang perlu diketahui.

            Tetapi sikap kita akan berbeda ketika kita mengetahui mereka berbuat salah atau tidak mengerti sesuatu, sedangkan mereka itu bukanlah orang yang baru terjun di dunia kerja atau bukan orang yang baru bertobat, malahan mungkin kita sudah mengenal orang-orang itu adalah orang-orang yang sudah puluhan tahun berada dalam dunia kerja dan mengenal Kristus. Dengan mudah kita bisa saja tersinggung, marah, kesal, kecewa, atau sampai merasa pahit dengan mereka-mereka itu.

            Saya berpikir bahwa selama ini mungkin kita selalu menjadi seseorang yang menuntut: karena anda christian, maka anda harus sabar terhadap saya, harus ramah, harus baik, harus murah hati, dan sebagainya…atau karena anda seorang pengusaha maka anda harus mengerti apa yang saya kerjakan seperti pembukuan, penjualan, pembelian, dan sebagainya. Padahal sebenarnya selama kita ini masih manusia, kita bisa saja berbuat salah, bisa saja pengertian dan pengetahuan kita menjadi sangat terbatas.

            Yang menjadi persoalan terbesar justru ketika seseorang yang memiliki atau berada di posisi apa pun itu berbuat salah tetapi dia tidak mau ditegur dan selalu merasa dirinya yang paling benar, karena pada akhirnya dia hanya mempersulit dirinya sendiri.

            Bersyukurlah jika di tengah-tengah kita, ada orang-orang yang masih mau belajar walau pun mereka adalah orang-orang yang berpangkat tinggi dan memiliki kerohanian yang sangat tinggi. Jika kita bisa membantunya, maka tidak ada salahnya pertolongan itu kita berikan (“Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya – Amsal 3:27”).

            Tidak perlu kita merasa terkejut jika seseorang yang kita anggap “levelnya” sudah tinggi tetapi ternyata masih saja ada yang belum dimengertinya atau diketahuinya. Kita bisa memberitahukan apa yang bisa kita beritahukan, atau mungkin kita bisa ‘menegur’nya dengan cara yang sebaik mungkin dan tidak membuatnya malu. Karena kita tidak pernah tahu seberapa besar keterbatasan kemampuan kita ini dan kita bisa saja membutuhkan orang lain untuk membantu kita.

            Mari kita sama-sama belajar untuk tidak terburu-buru menghakimi dan menganggap seseorang itu “bodoh” lalu menertawakan mereka, karena kita tidak pernah tahu kesulitan-kesulitan yang mereka lalui dan apa yang mereka hadapi. Siapa tahu suatu hari nanti kita pun akan mengalami hal yang sama seperti mereka dan membutuhkan orang lain untuk memberikan jawaban bagi kita.

            Tuhan memberkati

Iklan

One thought on “Tidak Ada Batasan Untuk Belajar

  1. Membaca tulisan di atas, saya jadi diingatkan dg satu ‘nasihat’lama:

    “Kris, ada [sangat]banyak hal yg orang bisa kerjakan SENDIRIAN. Tapi, menjadi Christian BUKAN salah-satu diantaranya.” -saya butuh orang lain.

    Ya, saya masih sering cepat ber-REAKSI [di dalam hati].. tapi saya telah & terus belajar: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja DALAM SEGALA SESUATU [baik, maupun tidak baik]untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” -Roma 8:28

    Terimakasih sudah mengingatkan kembali pada satu janji Tuhan yg indah 🙂

    Krisbudi (Djogja)
    http://krisbudi.tk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s