Bersumber Dari Hati


          Pada hari Minggu, 07 Maret 2010, bapak Agus Lianto dalam kotbahnya mengatakan bahwa iblis itu sangat membenci manusia dan sangat membenci Tuhan, karenanya keinginan iblis sangat besar untuk membinasakan manusia dan menjauhkan manusia dari Tuhan atau memecah belah hubungan manusia dengan Tuhan.
          Dari kata-kata tersebut maka bisa dikembangkan lagi menjadi iblis itu sangat membenci manusia dan sangat membenci Tuhan, jadi jika kita membenci seseorang dan juga membenci Tuhan maka kita tidak jauh berbeda seperti iblis.
           Sebuah cerita lagi dari seorang ibu mengenai pertobatan suaminya dari kesukaannya menonton bioskop. Suaminya ini suka sekali menonton film apa pun di bioskop. Sampai suatu ketika suaminya mengikuti satu kegiatan doa keliling yang diadakan secara rutin oleh satu tim doa di gerejanya dan salah satu tempat yang didoakan oleh mereka adalah gedung bioskop.
          Sepulangnya dari doa keliling itu, suaminya berpikir bahwa selama ini berarti dia adalah salah satu yang sering didoakan oleh para tim doa dan di ‘tengking-tengking’ juga karena termasuk seseorang yang sering atau suka nonton di bioskop. Sejak itu, suaminya ini jarang atau dapat dikatakan sudah hampir tidak pernah lagi nonton di bioskop.
          Nonton di bioskop bukanlah hal yang berdosa, tetapi jika sampai membuat kita kecanduan seperti ‘kalau tidak nonton rasanya tidak enak’ maka hal itu bukanlah sesuatu hal yang baik. Bukan hanya masalah nonton di bioskop, nonton televisi, atau hal-hal apa pun yang sampai membuat kecanduan sebenarnya juga bukanlah hal yang baik.
          Masih ada banyak cerita yang mungkin tanpa kita sadari, sebenarnya hal-hal yang kita lakukan itu sepertinya menyukakan hati Tuhan dan kita mengatakannya sedang melakukan pekerjaan untuk Tuhan, padahal kenyataannya tidak seperti itu.

Segala sesuatu itu bersumber dari hati.

          Setiap orang bisa berkata kepada orang lain: “I love you”, “saya sangat sangat denganmu”, “saya peduli padamu”, “kasihan orang yang terkena bencana itu”, “saya turut bergembira dengan kesuksesanmu”, “saya turut berduka”, “saya pasti ingat padamu”, “saya pasti berdoa untukmu”, dan lain-lain, tetapi semua perkataan itu bisa benar-benar tulus yang keluar dari dalam hati, ada juga yang dipaksakan agar kemudian hati menjadi tulus ikhlas, dan ada juga yang hanya sekedar ucapan belaka tidak keluar dari hati atau bahkan apa yang ada dihati justru kebalikannya. Dan yang mengetahui kebenarannya hanyalah masing-masing pribadi seseorang itu dengan Tuhan.
          Seseorang bisa menilai seseorang yang lain berdasarkan apa yang dilihatnya melalui penampilan atau melalui apa yang didengarnya melalui perkataannya. Firman Tuhan berkata apa yang ada di hati itulah yang keluar melalui perkataan dan tindakan, tetapi tidak sedikit orang bisa menutupi apa yang ada di hatinya untuk memperoleh penilaian yang baik dari orang lain.
          Hanya Tuhan yang tidak menilai seseorang itu dari penampilan luarnya. Tuhan tidak peduli seseorang itu cantik atau ganteng atau jelek, Tuhan tidak pernah peduli juga seberapa besar perpuluhan yang diberikan oleh seseorang dan seberapa banyak kekayaannya yang dimiliki, dan sayangnya Tuhan juga tidak pernah peduli seberapa banyaknya seseorang itu melayani.
          Tuhan melihat dan menilai seseorang dari hatinya. Bagi Tuhan, sekali pun seseorang itu sangat baik terhadap orang lain, suka membantu orang lain, memiliki begitu banyak harta, pintar bekerja, pintar dalam pelajaran di sekolah, sangat cantik atau cakep rupanya, dan suka melayani, tetapi jika hatinya tidak tulus, penuh dengan kebencian, penuh dengan rasa iri hati, penuh dengan kemarahan, mengharapkan balasan atas semua kebaikannya, ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa dirinya mampu, sombong, angkuh, dan pada akhirnya hanya akan untuk memuaskan keinginannya saja, maka semuanya bagi Tuhan itu nilainya hanya nol besar atau tidak berarti apa-apa.
          Jadi tidak ada seorang pun yang berhak menghakimi setiap perkataan mau pun tindakan seorang yang lain. Semuanya kembali kepada masing-masing pribadi dengan Tuhan. Masing-masing pribadi berurusan sendiri dengan Tuhan.
          Mari kita sama-sama merenungkan: jika kita membenci seseorang maka itu berarti kita sama seperti iblis yang memiliki kebencian didalam hatinya terhadap manusia dan Tuhan; jika kita memfitnah seseorang, mengintimidasi seseorang, atau menggosipkan (membisikkan) perihal seseorang terhadap seorang yang lain, maka itu berarti kita sama seperti iblis yang ingin menghancurkan hidup manusia; jika kita membeda-bedakan atau merendahkan orang lain, maka itu berarti mutlak kita bukan seperti Tuhan yang mengasihi orang lain tanpa memandang bulu dan itu berarti sama seperti iblis yang tidak pernah memiliki kasih yang tulus.
          Jika kita mengaku bahwa kita anak Tuhan, jika kita masih sepenuhnya menyadari dan membutuhkan pertolongan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita yang dibuktikan dengan doa-doa permohonan kepada Tuhan untuk setiap permasalahan kita dan masih ingin mendapatkan jawaban atas doa-doa kita itu, maka kita harus memperbaiki hati ini, karena Tuhan melihat dan menilai kita berdasarkan hati kita. Semua bersumber dari hati.
          Tuhan memberkati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s