Untuk Kita Bersama-Sama


Seorang pria dan wanita, mereka adalah sepasang kekasih. Suatu ketika mereka mengalami perselisihan pendapat dan sebagian percakapannya sebagai berikut:

Wanita: “untuk apa sih kamu melakukan kebaikan ke semua orang? Apalagi kepada para wanita itu? Apakah kamu ingin mencari perhatian mereka?

Pria: “saya melakukan semua itu bukan untuk saya seorang, tetapi untuk kita

Wanita: “apa maksudmu untuk kita? Apakah saya terlalu buruk sehingga kamu harus menutupinya dengan kebaikan-kebaikanmu?

Pria: “bukan seperti itu, tetapi saya melakukannya untuk kita, bukan untuk saya, dan bukan juga untuk kamu, tetapi untuk kita berdua, karena kita adalah sepasang kekasih, jika kita ingin menjadi berkat, maka kita harus mengusahakannya, apa pun itu yang kita lakukan adalah untuk kita, bukan untuk kepentinganmu seorang atau kepentinganku seorang”.

Saya sangat terberkati sekali dengan kisah tersebut diatas.

Di jaman yang modern ini, jarang sekali ditemukan seseorang yang mau melakukan sesuatu kebaikan bukan untuk kepentingannya seorang. Justru di jaman ini, bahkan didalam gereja sekali pun, masing-masing pribadi melakukan sesuatu hal kebaikan karena seseorang itu mempunyai kepentingan atau keinginan pribadi yang hendak dicapainya.. Dalam arti segala perbuatan baik, ujung-ujungnya pasti ada maksud-maksud tertentu, seperti mewujudkan kepentingan pribadinya, entah agar seseorang itu menjadi ternama, atau agar disayang atasan, atau agar mendapat keuntungan secara materi, dan atau kepentingan lainnya.

Bukanlah hal yang keliru jika seseorang itu mempunyai kepentingan dan keinginan pribadi, melainkan akhir dari tujuan sikap baik yang tidak tulus karena didasari atau tujuan untuk memenuhi keinginan dan kepentingannya itulah yang keliru.

Jika kita membaca dan menelusuri ayat-ayat didalam alkitab perjanjian baru, maka kita akan menemukan suatu ayat bahwa murid-murid Tuhan Yesus tidak ada seorang pun yang merasa kekurangan atau kelebihan, hal itu berarti bagi murid-murid yang mendapatkan kelebihan, mereka akan berbagai kepada murid-murid yang kekurangan. Dengan demikian, hal itu berarti mereka semua saling berbagi tanpa mengharapkan balasan atau imbalan (dengan tulus hati), dan mereka juga tidak memikirkan kepentingan atau keinginan mereka secara pribadi lagi. Ditambahkan lagi bahwa hal itu menarik perhatian bagi sekitar mereka.

Jadi oleh karena mereka itu mempunyai sikap yang tidak mementingkan diri sendiri, maka hidup mereka menarik perhatian banyak orang, dengan kata lain hidup mereka menjadi berkat dan menjadi teladan bagi orang-orang disekitar mereka. Wow…

Mereka hidup bukan untuk diri mereka sendiri lagi, tetapi mereka hidup itu juga memikirkan kepentingan orang lain dan untuk mereka secara bersama-sama, bukan pribadi. Dan ketulusan itu terpancar keluar sehingga memberkati orang lain.

Bandingkan dengan orang-orang yang ada disekitar kita dan dengan diri kita sendiri. Adakah pemberian atau kebaikan yang tulus dari hati kita untuk orang lain dalam beberapa waktu terakhir ini? Jika setiap kebaikan kita menurut kita tulus, maka bisakah kita menjawab apakah benar menurut Tuhan hati kita ini sudah tulus? Dan apakah yang kita lakukan itu untuk kepentingan kita secara pribadi dan keluarga kita sendiri, atau untuk kepentingan sekolah, kantor, dan gereja kita?

Pernahkan terlintas dalam pikiran kita: jika kita membicarakan keburukan orang lain yang satu sekolah atau satu kantor atau satu gereja dengan kita, maka itu sama artinya dengan membicarakan keburukan kita sendiri? Karena kita juga ada dalam bagian di satu sekolah itu, atau dalam satu kantor itu, atau dalam satu gereja itu.

Mungkin kita berpikir akan merasa capek jika hanya kita seorang yang berbuat baik sedangkan yang lain tetap saja mempertahankan perbuatan buruk mereka. Sebenarnya, perbuatan baik seseorang yang dilandai dengan ketulusan hati, tidak akan mengenal kata capek, apalagi jika hal itu sudah menjadi sebuah kebiasaan, maka akhirnya akan menjadi karakter atau kepribadian kita juga. Dan jika semua orang memiliki keputusan yang sama bahwa tidak ada lagi yang namanya kepentingan pribadi, dan dengan rela mau saling membantu tanpa mengharapkan imbalan demi kemajuan bersama, maka kebaikan itu akan terpancar keluar dan tentunya memberkati banyak orang di sekitar kita.

Akhirnya…akankah kita bisa mengatakan bahwa apa yang kita lakukan itu untuk kita semua bersama-sama??

Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s