Membangun Jembatan


Di Inggris pada abad ke-18, hanya wanita bangsawan yang dapat memakai gaun katun bercorak karena harganya mahal. Maka ketika itu, gaun katun corak menjadi simbol kekayaan, Akan tetapi, perubahan industri abad ke-19 mengubah segalanya: produksi katun corak yang lebih mudah membuat harganya sangat turun, sehingga wanita kaum pekerja pun kerap memakainya. Tidak terima dengan perkembangan ini, para wanita bangsawan lantas mengganti tren dengan kain putih polos. Demikianlah, saat sebuah “jembatan” nyaris tercipta, para wanita bangsawan itu malah lebih suka membuat “benteng”.

Kita pun tak dapat memungkiri bahwa hingga sekarang, pembatas-pembatas di antara manusia masih ada, meski pun mungkin ada yang tampak, ada juga yang tak tampak. Pembatas-pembatas itu memisahkan antara “kita” dan “mereka”.

Mungkin kita mengajarkan kasih Kristuas kepada anaka-anak, tetapi bisa jadi kita juga melarang mereka bergaul dengan orang yang tidak sederajat. Bahkan mungkin ada orang tua yang “mengutip secara tidak lengkap” ayat Alkitab dan mengatakan bahwa kita sebagai “terang” tak dapat bergaul dengan mereka yang “gelap”.

Mungkin juga kita berkata “saya melayani Tuhan” dengan cara memberi makan anak-anak jalanan, menolong fakir miskin, melakukan kunjungan ke panti asuhan atau panti jompo, memiliki komitmen untuk memberi dana bantuan untuk sekolah anak-anak yang tidak mampu, dan ada begitu banyak pelayanan yang setiap hari dilakukan. Tetapi realitanya, ketika sanak saudara, teman, atau keluarga kandung sendiri bergaul akrab dengan orang yang dianggap “tidak sepadan”, maka yang terjadi adalah sorotan mata yang memandang dengan sangat sinis, mencibir, dan membicarakannya dengan berbagai kata-kata atau dugaan-dugaan yang sangat negatif, yang tidak seharusnya dikatakan oleh “pelayan Tuhan”.

Pada zaman Petrus hidup, kaum Yahudi mewarisi budaya yang melarang keras pergaulan dengan kaum non-Yahudi. Namun Tuhan meminta Petrus memenuhi undangan Kornelius, seorang perwira Romawi. Sebelum dipertemukan dengan Kornelius, Petrus mendapat penglihatan dari Allah bahwa karunia dan kasih Kristus terbuka juga bagi orang-orang dari segala latar belakang. Dan Kornelius pun menjadi pengikut Kristus. (Kisah Para Rasul 10:34 Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan DIA dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNYA…”).

Apabila Allah pun meruntuhkan “benteng” yang memisahkan, jangan kita malah membangunnya kembali. Karena sebenarnya, Tuhan itu berdaulat, Tuhan yang menciptakan kita semua dan tidak ada seorang pun yang punya pilihan ketika ia hendak dilahirkan. Jadi apa hak manusia membeda-bedakan dan membangun “benteng” diantaranya? Kini, sebagai anak-anak Tuhan, saatnya kita membangun banyak “jembatan” yang mempersatukan.

Manusia boleh punya kehendak, tetapi kehendak dan kedaulatan Tuhan lah yang terlaksana. Tuhan memberkati.

** dikutip dari Renungan Harian June 03, 2010 berjudul “meruntuhkan benteng”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s