Hati Orang Tua Dan Anak-Anak


Seorang ibu menceritakan pengalamannya ketika anak-anak laki-lakinya beranjak di usia remaja dan mulai memiliki ‘ketertarikan’ dengan teman-teman wanitanya. Didalam hati sang ibu timbul rasa yang cukup menyesakkan hatinya, ketika diketahuinya bahwa hati anak-anaknya mulai terpikat dengan ‘wanita lain’.

Sang ibu segera menyadari kekeliruannya itu dan berdoa, memohon agar Tuhan sendiri yang campur tangan, mengangkat semua hal yang buruk dan rasa sesak yang tidak membuat nyaman dihatinya itu. Berjalannya waktu, Tuhan pun memulihkan hati sang ibu dan sampai detik ini, sang ibu dapat menerima dan memiliki hubungan yang sangat baik dengan semua calon menantunya.

Kejadian yang dialami oleh sang ibu dalam cerita tersebut diatas, tanpa atau dengan sadar, dapat dialami oleh semua orang tua. Besar kemungkinan timbul rasa cemburu dari sang ayah ketika anak-anaknya perempuan disukai oleh pria lain, dan ada rasa tidak suka dihati sang ibu ketika anak-anaknya laki-laki disukai oleh wanita lain. Sehingga dengan berbagai cara, orang tua membuat beribu-ribu macam alasan agar anak-anaknya berpisah atau jauh dari teman-teman lawan jenisnya.

Berbagai alasan dan cara untuk memisahkan hubungan anak-anak ini mau tidak mau harus diupayakan sedemikian rupa agar berhasil. Beberapa alasan orang tua itu ada yang benar, dan ada juga yang ‘tampaknya’ benar. Ketika upaya orang tua ‘terlihat’ berhasil, maka hati orang tua menjadi lega dan “bangga” karena mempunyai anak-anak yang patuh mau pun ‘terlihat; patuh. Tidak banyak yang tahu bahwa upaya-upaya tersebut ternyata menimbulkan sakit hati anak-anak.

Para pembimbing anak-anak atau orang tua yang rohani, mereka akan menggunakan ayat didalam Firman Tuhan yang berkata “hormatilah ayah dan ibumu, ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu dibumi (Efesus 6:2-3)”. Sehingga anak-anak akhirnya tidak berkutik dan dengan terpaksa harus menuruti apa yang dikehendaki oleh orang tuanya walau pun hati mereka berkata lain.

Sayangnya, para pembimbing rohani dan para orang tua, ‘lupa’ untuk ‘membahas’  kelanjutan ayat didalam Firman Tuhan yang berkata “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah didalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka didalam ajaran dan nasihat Tuhan (Efesus 6:4)”.

Anak-anak yang patuh itu menyejukkan hati orang tua. Tetapi jika orang tua mau melihat dan mendengar suara hati anak-anak, maka belum tentu orang tua akan merasa senang. Dan walau pun orang tua mengetahui isi hati anak-anak, orang tua bisa saja tetap memberi alasan “itu yang terbaik untuk anak-anak, suatu hari kelak mereka akan menyadari kekeliruan mereka”.

Sebenarnya, posisi anak-anak dan orang tua itu sama, yang berarti sama-sama menyandang ‘status’ sebagai anak-anak Tuhan. Tetapi anak-anak harus menyadari bahwa didalam dunia ini, orang tua diberi otoritas terhadap anak-anaknya. Sebaliknya, orang tua juga harus menyadari bahwa diatas orang tua, ada Tuhan sebagai otoritas tertinggi.

Orang tua diberikan hak dan kewajiban untuk mendidik anak-anaknya dalam ajaran yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Orang tua berhak untuk mempunyai harapan ‘akan menjadi apa anak-anaknya kelak’ dan berkewajiban untuk membuat anak-anak mereka tumbuh menjadi pribadi yang baik. Tetapi yang sering ‘terlupakan’ adalah kehendak Tuhan pada anak-anak belum tentu sama dengan kehendak orang tuanya terhadap anak-anak itu. Dan hal ini yang akhirnya menyebabkan sebagian orang tua yang menjadi kecewa dan marah ketika anak-anaknya tidak berada pada lajur yang mereka harapkan.

Dapat dipastikan bahwa tidak ada orang tua yang ingin anak-anaknya bermasalah. Tetapi Tuhan punya kriteria untuk semua orang, termasuk anak-anak, untuk bisa menjadi warga Kerajaan Surga. Dan untuk itu berarti mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, semua orang, termasuk anak-anak yang sangat dikasihi (dan dilindungi) oleh orang tuanya di bumi ini juga harus melalui yang namanya proses (masalah). Tetapi, selama orang tua itu selalu mendoakan dan mempercayakan anak-anak mereka dalam tangan Tuhan, maka tidak ada yang perlu dikuatirkan dengan semua masalah yang harus dijalani anak-anak, karena Tuhan pasti melindungi mereka dengan caraNYA.

Mempercayakan anak-anak yang sangat dikasihi kedalam tangan kasih Tuhan itu tidak mudah. Apalagi Tuhan itu tidak terlihat dan seringkali yang tampak adalah masalah membuat anak-anak menjadi kacau balau dan ‘kesakitan’. Tetapi ketika orang tua memberikan dukungan dan doa restu untuk anak-anaknya, maka anak-anaknya itu akan merasa jauh lebih kuat didalam menjalani semua proses yang harus mereka lewati. Karena bagaimana pun juga, doa orang tua, itu nilainya sungguh berharga bagi anak-anak.

Anak-anak perlu mengetahui bahwa setiap orang tua ingin anaknya bahagia dan menjadi seorang yang sukses. Tuhan tidak selalu memberikan hal-hal yang bertentangan dengan orang tua dan sebaliknya Tuhan juga tidak selalu memberi hal-hal yang selalu sesuai dengan kemauan orang tua. Untuk itu, tetaplah memilih untuk menghormati dan taat pada orang tua, karena Tuhan itu melihat hati. Jika hati anak-anak itu memberontak terhadap orang tua, maka hal itu pun tidak akan berkenan di hati Tuhan.

Bagaimana pun orang tua menjalani hidup ini lebih dahulu daripada anak-anak, sehingga mereka memiliki berbagai informasi yang akurat untuk mendidik dan menjadi ‘penunjuk jalan’ bagi anak-anaknya. Apa yang tidak enak atau tidak sesuai dengan kemauan anak-anak, belum tentu itu berarti orang tua salah. Jadi jangan pernah menyepelekan orang tua!

Proses untuk menjadi lebih baik, harus dialami oleh setiap pribadi. Tidak ada yang menyukai proses, tetapi jika kita ingin menjadi anak yang benar-benar sesuai dengan standard Tuhan, maka proses harus kita lalui.

Alangkah indahnya jika jalur komunikasi antara orang tua dan anak-anak itu terjalin dengan baik. Orang tua yang mau membuka hati dan tidak bersikap semena-mena terhadap anak-anaknya, tidak akan pernah tidak dihormati dan tidak dihargai oleh anak-anaknya. Bagaimana karakter dan kehidupan anak-anak dikemudian hari, ditentukan oleh pendidikan dan perlakuan orang tua dalam kesehariannya.

Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s