Nilai Sebuah Pelayanan


Seringkali kita mendengar seorang salesman atau salesgirl yang mendatangi rumah kita atau menghubungi kita melalui telepon menawarkan berbagai produk yang dijualnya dengan berbagai kata manis dan bersikap sesabar mungkin walau pun ditolak atau mendapat umpatan yang tidak semestinya, agar tawarannya itu dapat diterima atau produk yang dijualnya itu terjual.

Tawaran yang diberikan selalu diupayakan agar membuat tergiur para pendengarnya, karena memang demikianlah tugas mereka, harus menarik sebanyak mungkin pembeli. ‘Perjuangan’ para salesman dan salesgirl ini tidak mudah, oleh karenanya hasil kerja keras mereka pun sangat dihargai oleh perusahaan-perusahaan pada umumnya.

Namun sayangnya, seringkali penghargaan itu hanya bernilai untuk angka atau jumlah pemasukan diawal yang dapat diraih oleh para salesman atau salegirl yang ada, tetapi tidak dapat menghargai kualitas pelayanan yang diberikan setelah mereka berhasil mendapatkan sejumlah pemasukan tersebut. Sehingga ada banyak salesman atau salesgirl yang memiliki mental yang kurang bertanggung jawab, seperti ‘tugas saya hanya menjual, mengenai kualitas produk itu merugikan atau selanjutnya jika ada customer yang complain, maka itu adalah tanggung jawab perusahaan’. Akibatnya, ada begitu banyak keluhan dari customer seperti ‘awalnya saja datang memohon-mohon agar produknya dibeli, giliran saya ada masalah dengan produk tersebut, tidak ada yang mau membantu saya’.

Seorang motivator yang terkenal, bernama James Gwee, menceritakan tentang seorang salesman mobil, yang dapat menjual tujuh mobil dalam sehari, sedangkan rekan-rekan kerja yang lain bisa menjual tujuh mobil kurang lebih dalam waktu tiga bulan. Kualitas mobil, merk mobil, dan nama perusahaan yang dijual sama, tetapi mental yang membedakannya.

Kebanyakan salesman mobil melayani customernya dari awal penawaran sampai pada waktu customer membayar, karena pada waktu pembayaran itulah yang paling menyenangkan hati salesman, sedangkan salesman seringkali lupa untuk selalu menyenangkan hati customer yang sudah membuatnya mencapai target.

James Gwee berkata bahwa pada waktu pembayaran sebenarnya adalah waktu yang paling tidak menyukakan hati customer, walau pun customer memperoleh mobil yang diinginkan, tetapi salesman tidak pernah pernah tahu customer tersebut memperoleh uang untuk membayar dengan cara bagaimana. Apakah dengan berhutang atau harus menguras seluruh tabungannya? Ataukah customer benar-benar puas dengan harga yang didapatnya? Tidak ada yang pernah tahu isi hati customer.

Dan salesman yang berhasil menjual tujuh mobil dalam sehari itu selalu mengupayakan segala cara untuk menemui customer pada waktu penyerahan kunci mobil. Karena pada waktu itulah customer akan bergembira, telah memperoleh mobil yang diinginkannya.

Selanjutnya, salesman ini selalu berkata kepada customernya agar selalu mencari dirinya jika mengalami kesulitan di kemudian hari. Tentu saja, jika customer benar-benar mengalami kesulitan, maka customer akan mencari dirinya, dan salesman ini tidak akan bersembunyi, tetapi dia akan selalu membantu dengan sebaik mungkin. Sebaliknya, ketika customer membutuhkan mobil lagi, tentunya ketika customer akan mencari salesman itu lagi. Pada akhirnya, salesman itu mengalami yang sering disebut ‘berkat tidak lagi dikejarnya, tetapi berkat itu yang akan mengejarnya’.

Demikian pula anak-anak Tuhan, seringkali hanya ingin menerima berkat dari Tuhan, misalnya saja seseorang sedang memerlukan mobil, tetapi setelah mendapatkan mobil yang diinginkan, dia tidak mau merawat, sering menunda untuk men-service, dan menggunakannya dengan sembarangan. Akhirnya ketika mobil itu tidak dapat digunakan lagi, barulah menyesal.

Dan seringkali juga, anak-anak Tuhan mencari-cari jiwa, tetapi ketika jiwa itu sudah datang dan ternyata selalu mengganggu atau menyulitkan kita, maka jiwa itu pun diupayakan untuk dijauhi. Tidak heran jika ada begitu banyak orang sakit hati dengan orang-orang yang mengaku sebagai anak-anak Tuhan.

Masing-masing orang memiliki kesibukan dan kebutuhannya masing-masing, kadangkala ada orang yang memanfaatkan kebaikan atau kemampuan orang lain, tetapi ada juga orang-orang yang datang karena mereka benar-benar membutuhkan. Kita perlu hikmat dan sikap yang bijaksana untuk menghadapi berbagai hal yang terjadi disekitar kita.

Jika kita hanya membantu seorang yang dekat dengan kita atau menolak memberikan bantuan kepada teman yang sudah baik dengan kita karena alasan tertentu, maka hal itu pun bisa dianggap tidak cukup bijaksana.

Oleh karenanya, hubungan yang baik dengan Bapa akan banyak membantu kita untuk menjadi seorang yang lebih bijaksana. Walau pun kesalahan sebagai manusia itu pasti ada, tetapi pimpinan Roh Kudus itu tidak pernah salah. Kedekatan hubungan dengan Bapa tentunya hanya diketahui oleh Bapa dan masing-masing pribadi. Yang penting, jika kita benar-benar ingin menarik jiwa, jangan sampai kita menyesalinya dan atau membuat jiwa-jiwa itu menyesal karena telah mengikuti kita.

Tuhan sangat mengasihi jiwa-jiwa, jika kita berhasil mengajak jiwa-jiwa untuk datang kepadaNYA, sebenarnya itu karena Tuhan sendiri yang telah menggerakkan hati jiwa-jiwa itu, agar mereka mengenal Tuhan lebih dalam lagi melalui kita. Jadi secara tidak langsung, Tuhan memberikan tanggung jawab mereka kepada kita. Jadi apa yang kita perbuat terhadap jiwa-jiwa itu, sama seperti kita melayani Tuhan.

Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s