Menjadi Teman


“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu,

dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran”

Amsal17:17

“Ada gula ada semut”, begitu bunyi pepatah lama yang kebenarannya tetap berlaku. Banyak orang akan berkumpul di sekeliling orang kaya. Berlagak sebagai kawan, tentu saja demi mendapat cipratan rejeki. Namun, kenyataan membuktikan bahwa mereka sebenarnya bukan teman, melainkan benalu; dan bukan sahabat, melainkan penjilat. Sikap mereka akan berubah drastis seiring keadaan yang berubah. Seperti pepatah habis manis sepah dibuang.

Suatu malam, seorang teman bertanya “apakah mungkin seorang sahabat yang selalu bersama dalam suka dan duka setelah sekian lama, membangun persahabatan sejak lama, tetapi tiba-tiba, seorang sahabat ini jadi berubah dengan begitu mudahnya dan melupakan semua yang telah di lalui bersama?”.

Saya menjawab “hal itu mungkin saja terjadi”.

Hati seseorang, yang dapat mengetahui hanyalah dirinya dan Tuhan. Tidak ada seorang pun yang bisa mengetahui, sekali pun suami istri yang mungkin telah berjanji didepan altar gereja atau sebagai seorang sahabat yang mungkin berkata ‘tidak akan pernah menutupi segala sesuatu’.

Demikian pula, kita tidak akan pernah mengetahui apakah hati seseorang itu sebenarnya benar-benar merasa nyaman ketika dekat dengan kita atau sebenarnya tidak merasa nyaman berada didekat kita? Kadangkala seseorang, walau pun ia merasa tidak nyaman, tapi karena hatinya masih bisa bertoleransi dan merasa masih membutuhkan kita, maka dia bisa saja bertahan. Sampai suatu saat ketika dia menemukan seseorang yang membuatnya benar-benar merasa nyaman, maka pada saat itulah, dia akan meninggalkan kita.

Selain itu, setiap umat manusia mempunyai jalan hidupnya sendiri-sendiri. Kita tidak pernah tahu suatu saat nanti kita akan menjadi seperti apa dan memiliki posisi apa. Sekali pun mungkin saat ini kita sudah berumah tangga dan kehidupan rumah tangga kita sudah sangat mapan, tetapi bisa saja suatu saat nanti kita harus memutuskan untuk pergi ke tempat lain. Keadaan-keadaan yang mungkin saja berubah itulah yang bisa membuat seseorang berubah. Kondisi perekonomian, atau jarak yang semakin jauh, atau sebaliknya bisa membuat hubungan menjadi semakin dekat dan bisa membuat hubungan menjadi semakin jauh.

Kebersamaan itu akan meninggalkan kenangan, walau pun suatu saat masing-masing pergi atau sibuk dengan urusannya. Tetapi semua itu kembali lagi pada ketulusan hati masing-masing pribadi. Ada pepatah mengatakan “selama ada kemauan maka pasti ada jalan” , demikian juga dalam suatu hubungan, selama ada kemauan untuk bersama dan saling mempercayai, maka pasti ada jalan, misalnya saja dengan berkomunikasi, mengingat untuk saat ini komunikasi sudah sangat mudah.

Sikap saling menerima itu juga berlaku didalam suatu hubungan. Entah seseorang itu bersifat baik atau jelek, dan entah seseorang itu miskin atau kaya, selama kita ingin menjalin suatu hubungan, maka kita harus bisa saling menerima. Kondisi seseorang yang bisa berubah sewaktu-waktu, bisa membuat hubungan itu renggang jika salah satu atau masing-masing tidak dapat saling menerima.

Sebagai seorang assistant sales, seringkali seseorang itu “ditinggalkan” oleh rekan sales nya, mungkin karena resign, naik pangkat, dan lain-lain. Bisa saja seseorang itu merasa rekan sales nya hanya dekat dengannya karena ‘butuh’, tapi sebagai seorang yang dewasa jika dia berniat untuk berteman, maka sekali pun rekannya itu pergi dan menjauh, maka dia akan tetap menjadi temannya, tidak perlu berpikir apakah dia hanya sekedar dimanfaatkan atau tidak.

Semua orang perlu teman yang setia di segala waktu. Entah ia kaya atau miskin. Tidak ada manusia yang suka diperalat, misalnya saja pada saat ia kaya, lalu begitu saja dicampakkan pada saat ia miskin. Kenyataannya memang sulit mencari seorang sahabat, baik bagi si miskin mau pun si kaya. Oleh sebab itu, siapa pun anda, janganlah terpaku hanya “mencari” sahabat, justru sebaliknya “jadilah’ sahabat bagi yang membutuhkan.

Daripada mencari sahabat kemana-mana

Lebih baik menjadi kawan di mana-mana

**pokok tulisan sebagian diambil dari Renungan Harian 20 Juli 2010 yang berjudul “Mencari atau Menjadi?”

** ide by Sese Tjendera

** input by Frankly Reynold Malumbot

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s