Saudara


Alkitab bagi saya seperti kamus kehidupan, karenanya saya sering mengatakan Alkitab itu buku kehidupan, didalamnya berisikan janji-janji Tuhan, perintah-perintah Tuhan yang menjadi standard hidup umat kristiani yang mempercayainya, dan didalamnya ada contoh-contoh kisah kehidupan yang tidak akan pernah ketinggalan jaman dan seratus persen akurat.

Salah satu ayat yang saya ingat dan sepertinya jarang di bahas karena menyangkut kehidupan sehari-hari, berbunyi “Jangan kau tinggalkan temanmu dan teman ayahmu. Jangan datang di rumah saudaramu pada waktu engkau malang. Lebih baik tetangga yang dekat dari pada saudara yang jauh” Amsal 27:10

Saya memiliki seorang kakak dan hanya dia satu-satunya saudara kandung saya. Dulu, kalau tidak terpaksa, saya tidak akan minta pertolongannya. Hubungan kami dapat dibilang sangat jauh, kami tidak dapat saling mengerti, tidak cocok, dan sering ribut. Sehingga saya cukup setuju dengan ayat tersebut. Bagi saya, lebih baik saya minta bantuan teman daripada kakak saya sendiri, karena kalau dengan kakak sendiri, bantuan yang disertai dengan omelan atau caci maki pasti jadi tidak berarti lagi.

Suatu hari, saya mendapat kiriman kue dari kakak saya, yang ternyata itu adalah kue yang saya ingin coba dan saya memang sempat mengatakannya beberapa hari sebelumnya. Tak disangka, dia membelikannya untuk saya. Hati saya sangat gembira, sampai saya foto kue itu dan saya pasang serta menuliskan di wall blackberry saya, sehingga teman-teman yang ada dalam lists tentu membaca tulisan saya itu. Seingat saya, saya menulis “horreyyy…I’ve got cookies…thank you sis”.

Kakak saya begitu gembira ketika melihat saya gembira sampai menuliskan di wall blackberry saya itu. Saya berkata bahwa itu adalah bentuk apresiasi saya untuk kakak saya sudah memperhatikan dan baik sama saya belakangan ini.

Beberapa kali saya mendapatkan kiriman, tetapi kiriman kue itu dan melihat kegembiraan kakak saya ketika mendapatkan apresiasi saya dalam bentuk tulisan di wall, membuat saya merasa bahwa kakak saya telah membuat saya mengerti arti kasih seorang saudara. Saya jadi ingat ayat yang berbunyi “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran”Amsal 17:17.

Mungkin kedua ayat itu jika digabungkan menjadi sedikit membingungkan. Disatu sisi, dikatakan bahwa jangan datang di rumah saudaramu ketika engkau malang, tetapi disisi lain dikatakan jadilah sahabat seperti seorang saudara.

Kadangkala memang kakak saya sebagai seorang saudara itu cukup menjengkelkan, selalu ada saja yang membuat kami bertengkar dan ada kalanya juga dia tidak bisa diandalkan sebagai saudara. Tetapi khususnya beberapa tahun terakhir, sejak mami saya sakit dan apalagi semenjak mami saya meninggal, saya merasa kakak saya berusaha untuk membuktikan bahwa dia sayang dengan saya, walau pun bagi saya terasa aneh karena beberapa tahun lamanya kami tidak dekat, tetapi saya sangat menghargai usahanya itu.

Sehingga, apa yang membuat saya jengkel dengannya di tahun-tahun sebelumnya, akhirnya membuat saya dapat melihat dan merasakan kasih seorang saudara kepada adiknya, meski pun kasihnya tidak akan bisa sama seperti kasih kepada orang tua, atau sebaliknya seperti orang tua kepada anaknya, tetapi sebagai seorang saudara yang dewasa, pasti didalam hati kecilnya akan memikirkan kebahagiaan untuk adiknya dan pastinya ingin hidup rukun dengan adiknya juga.

Memang benar, semakin kita dekat dengan seseorang, maka semakin pasti kita akan mengalami konflik dengannya, karena semakin kita ketahui semua kelemahannya. Tetapi yang sering dilupakan adalah hal sebaliknya bahwa seseorang yang dekat dengan kita itu juga yang paling mungkin membantu ketika kita mengalami kesulitan.

Realitanya, ada juga saudara yang memiliki sifat yang tidak baik sehingga justru sering merugikan saudara yang lainya, atau kita tetap merasa lebih nyaman untuk meminta bantuan teman sendiri, tetapi bagaimana pun kasih persaudaraan itu sebenarnya tidak akan pudar. Kasih persaudaraan itu akan tetap ada seburuk apa pun saudara kita. Kasih itu diberikan Tuhan didalam hati kita tidak hanya berlaku diantara orang tua dan anak-anak saja, tetapi juga terhadap saudara-saudara.

Kalau selama ini kita mungkin hanya sekedar “memanfaatkan” saudara kita, bisa bersikap semena-mena terhadapnya, sulit bagi kita untuk menghormati dan mengasihinya, maka sekarang kita bisa mengubah sikap itu menjadi sebaliknya.

Jika kita bisa memberi yang terbaik dan mengasihi saudara kita, seburuk apa pun dia, maka kita bisa memulainya dari sekarang, karena saudara…mereka diciptakan Tuhan tidak hanya untuk melengkapi hidup kita dan menjadi teman bermain kita dalam keseharian, tetapi mereka ada untuk kita kasihi dan kita hormati.

Tuhan memberkati.

Inspired by Heidy Sutandio – my sister

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s