Tak Ada Yang Lebih Baik Atau Lebih Buruk


Suatu hari Miko sedang bercerita kepada si Chici, tentang seseorang yang sangat menjengkelkan sekali, yang bernama Uli. Miko menceritakan seluruh isi hatinya, yang ssedang sedih dan bingung mengenai perilaku teman-teman Miko.

Berawal dari kisah si Uli ini yang hampir-hampir tidak pernah berkata-kata dengan baik dan sopan kepada semua orang. Bahkan kepada pimpinan pun dia bisa juga memberikan jawaban yang kasar dan tidak sopan. Tidak ada seorang pun yang didekatnya yang tidak pernah mendapatkan kata-kata yang tidak selayaknya untuk dikatakan, sehingga semua orang yang mengenalnya benar-benar menjauhi si Uli ini.

Miko menyadari, dia sebagai anak Tuhan, harus bisa mengasihi. Dan kasih itu seharusnya diberikan oleh dia dan teman-temannya yang juga seiman itu bukan karena seseorang itu baik dengan mereka, sopan dengan mereka, dan bahkan bukan juga karena seseorang itu ‘sederajat’ dengan mereka.

Jadi Miko berusaha untuk tetap menjadi teman si Uli. Sayangnya, teman-teman Miko akhirnya memilih untuk menjauhi Miko daripada mereka juga harus berteman dengan si Uli dan hal itu membuat hati Miko sangat sedih.

Chici cukup terkejut mendengar cerita Miko secara keseluruhan karena dia mengira selama ini dirinya sudah yang paling buruk, tetapi ternyata ada juga yang jauh lebih buruk dari dirinya.

Ternyata Chici juga pernah mendapat teguran karena kata-kata yang telah diucapkannya. Menurut si penegur, kata-kata Chici itu hampir semuanya sangat buruk dan selalu membuat teman-teman yang lain akhirnya tidak suka pada si Chici. Teguran ini membuat Chici sangat sedih.

Teguran itu seharusnya tidak hanya untuk Chici, karena teman-teman Chici dalam komunitas dimana usianya jauh lebih tua dan lebih dewasa darinya juga sering berkata-kata yang jauh lebih kasar dan jahat darinya, tetapi mengapa mereka bisa diterima sedangkan Chici tidak bisa diterima? Chici tidak pernah menemukan jawabannya.

Akibat dari teguran yang itu, Chici akhirnya menjadi seseorang yang tidak punya rasa percaya diri ketika dia hendak berbicara dengan orang lain. Tetapi Chici tetap menerima dan berusaha untuk berubah menjadi lebih baik karena didalam Firman Tuhan dikatakan bahwa perkataan yang sia-sia itu tidak patut untuk diucapkan.

Chici pun merasa kasihan dengan si Uli. Tetapi disisi lain, Chici sedikit merasa lega karena ternyata ada orang yang “lebih buruk” dari dirinya dan juga perlu “memperbaiki diri”. Walau pun itu tidak membuat Chici boleh berhenti belajar, tetapi paling tidak Chici tidak terus menerus menghukum dirinya karena merasa sangat buruk.

Demikianlah realita kehidupan, kadang kita merasa kita ini yang paling hebat, padahal ada juga orang lain yang sama hebatnya atau bahkan lebih hebat dari diri kita. Sebaliknya, kadang kita merasa rendah diri karena merasa diri kita ini paling buruk diantara yang lain, padahal ternyata ada juga yang jauh lebih buruk daripada kita.

Seringkali kita menjauhi orang-orang yang lebih buruk daripada kita, karena kita merasa seseorang itu “tidak normal”, padahal sebenarnya diri kita pun tidak lebih baik daripada seseorang yang kita anggap “tidak normal” itu, walau pun mungkin kita masih diterima oleh teman-teman di sekitar kita.

Dan secara tak sadar, kita sering menegur orang lain karena dosa atau kesalahan atau kekurangan yang dimilikinya dan berharap dia bisa berubah. Memang benar teguran itu berniat baik, tapi kita tidak pernah tahu bahwa teguran itu ternyata memberikan luka dan berdampak buruk pada kepribadian seseorang itu.

Jadi sebenarnya semua orang itu tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk daripada seseorang yang lain. Tidak ada yang patut kita banggakan atau kita sedihkan mengenai diri kita ini, karena selama kita mau belajar untuk menjadi lebih baik maka kita akan tahu bahwa menjadi berkenan dihadapan Tuhan itulah yang terbaik. Penilaian orang lain, biarlah itu menjadi bahan untuk kita bisa menjadi lebih baik.

Tuhan memberkati.

**Inspired by Vania Orchida Buana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s