Twitter


Twitter, salah satu program yang serupa dengan Facebook tetapi lebih kearah percakapan dengan dua orang atau lebih dan hanya bisa memuat beberapa kata saja, yang mana percakapan itu bisa dibaca oleh banyak orang dan orang lain pun bisa turut berkomentar didalamnya. Dengan Twitter orang bisa update dan berganti status dengan lebib cepat daripada di Facebook.

Function yang ada didalam Twitter ini salah satunya follower dan following. Follower berarti perngikut dan following berarti mengikuti. Salah satu perbedaannya dengan Facebook adalah kedua function tersebut. Jadi maksudnya itu misalnya saja seorang bernama cak To mau menjadi pengikut (follower) di Twitter dari seorang artis bernama Tamara. Maka ketika Tamara berganti status, cak To bisa membaca status Tamara itu. Tetapi sebaliknya selama Tamara tidak menjadi pengikut (following) cak To, maka apa pun yang cak To tulis, Tamara tidak akan bisa membacanya.

Berbeda dengan Facebook, jika kita menjadi teman dengan seseorang, maka apa pun yang di update oleh seseorang itu atau apa pun yang kita update, semuanya dapat membaca update itu dan siapa pun bisa berkomentar, kecuali kita setting sedemikian rupa agar seseorang itu tidak bisa membaca atau melihat apa pun status kita.

Ketika saya mengerti arti dari following dan follower yang ada di Twitter tersebut, saya mendapatkan bahwa seperti halnya dengan kita sebagai sesama manusia, sesama teman, adalah hak masing-masing kita untuk menjadi “pengikut” teman kita atau tidak mau menjadi pengikut. Maksudnya, kita tidak perlu selalu mengikuti atau membaca atau mendengarkan dan menuruti apa kata orang, karena pada akhirnya kita sendiri yang akan capek.

Seorang teman terus menerus merasa gelisah ketika menjalani aktifitas dan melalui hari-harinya karena dia sekarang jatuh miskin. Sekitarnya berkata hal itu terjadi karena dia telah berbuat dosa, pelit terhadap sesama, dan tidak pernah beramal. Setiap dia keluar rumah, selalu ada yang berkata “eh…itu dia orang pelit yang sekarang jatuh misin…biar tahu rasa dia”. Padahal sebenarnya dia sudah tertipu oleh rekan kerjanya sehingga dia mengalami kebangkrutan. Akibatnya dia sendiri beranggapan bahwa benar dia telah berbuat dosa dan dia menjadi tidak percaya diri lagi. Dia sering mengurung diri di kamar dan hampir-hampir dia tidak lagi berdoa karena malu sama Tuhan akibat perbuatannya. Padahal belum tentu juga Tuhan beranggapan yang sama seperti orang-orang disekitarnya.

Seringkali orang luar yang ada di sekitar kita atau rekan sekerja kita, teman-teman sekolah, kampus, dan teman kerja kita selalu berkomentar tentang semua hal yang kita lakukan atau yang kita pakai, mulai dari komentar yang bagus sampai komentar yang tidak bagus. Dan biasanya karena merasa terganggu oleh komentar orang itu kita jadi berusaha untuk berubah seperti apa kata orang.

Bisa kita bayangkan jika kita selalu mengikuti apa kata orang, maka dimana pun kitra berada, kita akan merasa tidak nyaman karena kuatir kalau-kalau orang berkomentar hal yang buruk tentang kita. Setiap kali kita hendak memutuskan sesuatu, maka yang pertama kali dibenak kita adalah “apa kata orang ya?”.

Walau pun kadangkala komentar orang lain, termasuk pasangan kita itu adalah penilaian tentang diri kita dan bisa menjadi koreksi yang baik untuk kita, tetapi jika komentar itu berlebihan dan selalu mengatur setiap langkah kita maka akan berdampak buruk untuk kita.

Tuhan menciptakan setiap manusia itu berbeda, dengan keunikannya masing-masing. Bahkan sidik jari semua orang yang ada dimuka bumi ini tidak ada yang sama. Bisa dibayangkan bahwa itu semua adalah keajaiban dan kemurahan Tuhan untuk setiap kita. Tetapi sayangnya, seringkali kita tidak menyadari bahwa kita telah memusingkan apa yang dikatakan orang lain, tetapi tidak pernah memusingkan apa pendapat Tuhan tentang diri kita ini.

Sebagai orang percaya, seharusnya kita mempercayai apa kata Tuhan dan apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan. Selama kita tidak melanggar apa yang tertulis didalam Firman Tuhan, maka seharusnya kita tidak perlu memusingkan apa kata orang, Karena kadangkala orang berkata-kata itu sesuai dengan apa yang dia lihat, yang dia rasakan, dan yang dia inginkan menurut dia, bukan apa kata Firman Tuhan.

Sebaliknya kita sendiri sebaiknya belajar untuk menahan diri untuk mengomentari teman kita. Firman Tuhan berkata alangkah baik jika perkataan yang diucapkan pada waktunya, jadi jika kita tahu bahwa tidak perlu berkomentar, maka sebaiknya kita diam agar tidak menyakiti hati orang lain atau tidak timbul salah sangka.

Jika memang ada komentar yang perlu diperhatikan, maka tidak ada salahnya kita mendengarkan, tetapi jika kita merasa apa yang dikatakan orang lain itu justru menyakiti hati kita, membuat kita lemah, dan membuat kita jadi tidak percaya diri, maka sebaiknya kita terus berjalan tanpa mengikuti apa yang dikatakan orang, tentu saja dengan sikap yang baik. Karena diri kita ini dan semua yang terjadi dalam hidup kita ada didalam tangan Tuhan, Sang Pencipta, dan DIA membuat kita dengan sempurna dan rencanaNYA juga indah, jadi apa kata Tuhan itu yang jauh lebih penting daripada apa kata orang.

Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s