Harapan Tertinggi


Seorang investor tiba-tiba berteriak “lagi-lagi aku rugi…arrgggghhhhh…” begitu dia melihat harga index di komputer kantornya. Temannya bertanya “mengapa kau begitu resah…bukankah investasi itu seharusnya jangka panjang…sebentar lagi pasti kembali pulih dana yang kau taruh”. Investor tersebut berkata “aku berharap hari ini sudah mendapatkan keuntungan karena aku harus membayar hutang-hutangku”.

Cerita lain lagi datang dari seseorang yang baru saja terjatuh dari tangga dirumahnya dan kedua kakinya terkilir hingga tidak bisa jalan karena terasa sangat sakit. Dengan menggunakan kedua tangannya untuk membawa tubuhnya ke dekat telepon, lalu dia menelpon semua saudaranya untuk meminta pertolongan, tetapi ternyata semua saudaranya ada yang sedang diluar negeri, ada yang sedang bertemu dengan klien, dan ada juga yang juga sedang sakit, sehingga tak ada seorang pun yang bisa membantunya.

Dan masih banyak lagi cerita dimana seseorang sedang mengharapkan suatu hasil untuk memenuhi sebuah kebutuhan namun ternyata hasil yang diharapkan itu tidak ada; dan ada juga kisah tentang seseorang sedang membutuhkan pertolongan, namun tak ada seorang pun yang bisa menolong. Pernahkah bapak, ibu, saudara/i mengalami hal serupa?

Harapan terhadap sesuatu itu bukannya salah, karena kadangkala kita memang sedang membutuhkan dan yang kita ingat atau mungkin kita menganggap bahwa itulah satu-satunya harapan. Tetapi realitanya, harapan terhadap seseorang atau sesuatu itu lebih sering mengecewakan.

Saya ingat sekali ketika saya sedang menyelesaikan Tugas Akhir saya, ketika saya masuk pada bab keempat, pengumpulan data, pada waktu itu saya harus membuat sebuah kuisioner yang harus link dengan sebuah website, karena pada waktu itu saya membahas tentang search engine.

Saya sudah menghubungi semua teman yang berada di jurusan Informatika dan teman-teman yang pandai di bidang komputer, tetapi hasilnya semua nihil, tidak ada yang bisa membantu saya. Bahkan teman-teman yang bisa saya harapkan pun tidak ada yang bisa membantu.

Sampai akhirnya saya menyerah dan saya sangat sedih, karena semuanya bergantung pada hasil kuisioner itu dan tanpa website itu, kuisioner tidak akan bisa disebarkan, akhirnya saya tidak akan bisa menyelesaikan Tugas Akhir saya.

Ditengah-tengah rasa putus asa dan serasa tidak ada jalan keluar, akhirnya saya berdoa, menyatakan isi hati saya yang penuh dengan keputusasaan. Dan didalam doa saya itu, saya diingatkan dengan seorang teman yang mempunyai seorang kakak di luar negeri, yang kemungkinan bisa membantu saya.

Inilah harapan terakhir yang saya miliki. Dengan tetap berdoa didalam hati, saya berusaha untuk menghubungi teman saya itu. Setelah saya mendapatkan email address kakak dari teman saya itu, maka saya segera meng-email kakak dari teman saya itu. Menurut teman saya, seharusnya saya menunggu kabar sekitar dua hari dari saya mengirimkan email itu. Tetapi puji Tuhan, saya mendapatkan kabar tidak lebih dari 24 (dua puluh empat) jam.

Pada saat itulah saya menyadari bahwa manusia dan segala sesuatu yang ada di muka bumi ini tidak ada yang bisa diharapkan. Sekali pun ada orang-orang yang bisa membantu kita selama ini, sebenarnya orang-orang itu hatinya telah digerakkan oleh Tuhan. Ada saatnya nanti orang-orang yang selama ini bisa membantu kita, mereka tidak bisa membantu lagi. Karena sebenarnya, hanya Tuhan yang bisa membukakan jalan bagi kita dan selama ini, Tuhan juga yang sudah memberikan kita jalan keluar, melalui orang-orang disekitar kita.

Ketika semua jalan tertutup dan sepertinya tidak ada jalan keluar, hanya Tuhan sebagai harapan tertinggi yang kita punya.

Tuhan memberkati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s