Bukan Logika Dan Bukan Perasaan


Sebuah cerita yang diambil dari sekelompok orang wanita dan sekelompok orang pria yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya. Salah satu soal yang mereka kerjakan ada yang dirasa rumit dan sulit dimengerti, sehingga mereka membicarakan jawabannya.

Sekelompok wanita mengatakan “perasaanku berkata sepertinya soal yang satu ini memang salah dan tidak perlu kita kerjakan”, sebaliknya kelompok pria mengatakan “jika dipikir secara logika, sebenarnya semua soal ini ada untuk kita kerjakan, walau pun salah, kita harus menemukan kesalahannya”.

Selama beberapa menit mereka mendiskusikannya dan terus menerus berusaha mempertahankan perasaan dan logikannya masing-masing. Sampai waktu menunjukkan hari telah larut malam, akhirnya mereka memutuskan untuk menanyakan kepada sang guru keesokan harinya, jawaban mana yang benar.

Keesokan harinya mereka pun bertanya mengenai soal yang didiskusikan oleh mereka semalam. Sang guru sambil tersenyum mendengar pertanyaan mereka, berkata bahwa soal tersebut salah. Sepontan saja sekelompok wanita itu berkata “tuh kan…memang perasaanku tidak pernah salah” dan sekelompok pria pun protes kepada sang guru mengapa soal itu harus mereka jawab jika ternyata salah.

Seringkali sebagai seorang wanita kita menggunakan perasaannya dan sebagai seorang pria menggunakan logikanya. Realitanya dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita harus menggunakan perasaan dan logika, karena memang setiap manusia diberi Tuhan perasaan dan logika.

Tetapi yang menyebabkan kita “bersalah” yaitu tanpa kita sadari, seringkali kita menggunakan perasaan sebagai seorang wanita dan logika bagi seorang pria ketika kita berdoa. Selanjutnya, ketika jawaban doa tak kunjung datang dan kita merasa tergesa-gesa, seringkali perasaan dan logika itu yang akan mencari jawabannya dan akhirnya kita mengikuti perasaan dan logika kita itu, padahal belum tentu perasaan dan logika itu memberikan jawaban yang benar.

Perasaan diberikan Tuhan untuk kita semua agar kita menjadi orang yang bisa mempunyai hati yang belas kasih kepada orang-orang disekitar kita. Logika diberikan Tuhan kepada kita agar kita bisa berpikir dan bisa belajar tentang berbagai hal. Karena tidak anak-anak yang lahir dalam keadaan mempunyai hati yang bisa berbelas kasih dan mempunyai otak yang pintar.

Tetapi dari semuanya itu, Tuhan juga ‘membuat’ anak-anakNYA selalu mengandalkan Tuhan Sang Pencipta, bukan mengandalkan perasaan dan logika yang dimilikinya. Jadi dalam segala hal, kita harus tetap bawa dalam doa dan bergantung sepenuhanya pada Tuhan, apa pun yang kita lakukan.

Contohnya saja ketika seorang anak yang tiba-tiba hilang ditengah keramain, ibunya mencari-cari sambil menangis dan ibunya itu minta agar ayahnya berdoa buat dia, tetapi yang dilakukan oleh sang ayah bukannya berdoa melainkan langsung pergi meninggalkan ibunya itu dan mencari anaknya. Sang ayah berpikir “buat apa merepotkan Tuhan, bukankah seharusnya anak itu dicari?”.

Apa yang dikatakan sang ayah tidak salah, tetapi jika pencarian itu ditambah dengan doa, mungkin saja ayah dan ibu itu tidak perlu sampai capek mencari dengan diberikanNYA hikmat kepada mereka harus mencari kemana. Tetapi juga jangan salah, doa itu bukan pelengkap, tapi Tuhan itu Maha Tahu, jadi dengan kita berdoa, DIA bisa memimpin dan memberi kita hikmat.

Perasaan dan logika, diberikan kepada semua manusia dan bisa berjalan secara alami. Tetapi yang menjadi masalah jangan sampai ketika kita berdoa, kita menggunakan perasaan dan logika. Atau ketika jawaban doa datang “terlambat” akhirnya kita mulai bermain-main dengan perasaan atau logika.

Jawaban doa dari Tuhan, tidak bisa dihubungkan dengan perasaan atau logika. Tuhan punya caraNYA sendiri untuk menjawab kita dan DIA selalu tepat waktu. Baik bagi seorang percaya yang memiliki kepekaan mau pun tidak memiliki kepekaan, alangkah baiknya jika kita selalu meminta jawaban pada Tuhan, tanpa harus melibatkan perasaan atau logika kita.

Perasaan dan logika itu bisa benar tetapi bisa juga menyesatkan. Sedangkan Tuhan Yesus tidak pernah memberikan jawaban yang salah. Jika jawaban doa itu tak datang juga, maka kita harus sabar dan percaya bahwa Tuhan selalu tepat waktu.

Jadi apa pun penantian kita didalam doa saat ini, jangan sampai kita menduga-duganya dengan perasaan atau logika. Tuhan memberkati!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s